Home Warta Fragmen Quran New Keislaman English Opini Video Tokoh Hikmah Arsip Kesehatan Lainnya Nasional Esai Khutbah Daerah Cerpen Ubudiyah Seni Budaya Sirah Nabawiyah Internasional Tafsir Risalah Redaksi Hikmah Nikah/Keluarga Obituari Ramadhan

Keteladanan Pengasuh Pesantren di Masa Covid-19 Jadi Penyejuk Masyarakat

Keteladanan Pengasuh Pesantren di Masa Covid-19 Jadi Penyejuk Masyarakat
Santri menerapkan protokol kesehatan dengan keteladanan pengasuh. (Foto: dok NU Online)
Santri menerapkan protokol kesehatan dengan keteladanan pengasuh. (Foto: dok NU Online)

Jakarta, NU Online
Keteladanan beberapa tokoh atau figur pesantren, seperti kiai dan nyai, sangat membantu dalam upaya pencegahan penularan Covid-19. Setidaknya terdapat lima keteladanan yang mereka lakukan selama masa pandemi berlangsung, hingga kini. 

 

Pertama, mereka taat aturan pemerintah dalam mencegah penularan virus seperti mempraktikkan protokol kesehatan dan juga memberikan edukasi mengenai Covid-19 kepada para santri.

 

"Bahkan yang kedua pembatasan-pembatasan diri dari para tokoh pesantren itu terjadi. Misalnya ketika Idul Fitri biasanya open house, tapi hampir di semua pesantren itu menutup open house," ungkap KH Miftahudin dalam webinar bertajuk Bedah Covid-19: Problematika, Issue, dan Solusinya yang diselenggarakan oleh NU Peduli Covid-19 Jawa Tengah, pada Jumat (27/11) malam.

 

Hal tersebut menjadi pelajaran kepada masyarakat bahwa Covid-19 jangan diremehkan sehingga memerlukan kehati-hatian. Artinya, jangan sampai seenaknya dalam menghadapi pandemi. Itulah yang dilakukan oleh tokoh-tokoh pesantren.

 

"Sehingga, secara langsung masyarakat menjadi tahu bahwa wabah ini benar-benar ada dan harus diperhatikan. Kita pun harus menjaga diri dan hati-hati. Ini dimulai dari keteladanan para tokoh pesantren," ujar Kiai Miftah.

 

Selain itu, para tokoh pesantren sangat membatasi undangan yang melibatkan banyak orang. Dikatakan Kiai Miftah, pihaknya menutup seluruh rangkaian agenda pengajian yang melibatkan masyarakat demi terputusnya mata rantai Covid-19 di pesantren.

 

Kemudian, keteladanan yang ketiga adalah adanya kesigapan dari para tokoh pesantren ketika Covid-19 muncul. Kesigapan tersebut diwujudkan dalam pembentukan Tim Relawan atau Satgas Covid-19 di pesantren.

 

"Membentuk tim ini agar ada keterukuran, diketahui mana santri yang sakit dan tidak, mana yang sudah terpapar mana yang tidak. Banyak pesantren yang telah membentuk tim relawan,"
jelas Kiai Miftah.

 

Lalu keempat, para tokoh pesantren ini juga meneladankan atau berperan sebagai penyejuk masyarakat agar tetap tenang dalam menghadapi Covid-19. Mereka tidak justru memerankan diri sebagai sosok yang membuat masyarakat menjadi panik dan cemas. 

 

"Dan, yang terakhir (kelima), di bidang keilmuan banyak ulama, kiai, pengasuh pesantren yang tidak membenturkan antara ilmu pengetahuan dengan agama. Jadi, ilmu pengetahuan cocok dengan agama. Agama pun cocok dengan ilmu pengetahuan," ungkap kiai yang juga menjadi Pengurus Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMINU) Jawa Tengah ini.

 

Ia mengaku jarang mendengar ada tokoh pesantren yang seolah-olah membenturkan antara kondisi pandemi Covid-19 dengan pemahaman keagamaan. "Ini keteladanan-keteladanan dari figur-figur pesantren," pungkasnya.

 

Pewarta: Aru Lego Triono
Editor: Kendi Setiawan



Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Nasional Lainnya

Terpopuler Nasional

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×