Home Warta Fragmen Quran New Keislaman English Opini Video Tokoh Hikmah Arsip Kesehatan Lainnya Nasional Esai Khutbah Daerah Cerpen Ubudiyah Seni Budaya Sirah Nabawiyah Internasional Tafsir Risalah Redaksi Hikmah Nikah/Keluarga Obituari Ramadhan

Ketika Kitab Ulama Kudus yang Wafat di Makkah Tersimpan di Perpustakaan Tebuireng 

Ketika Kitab Ulama Kudus yang Wafat di Makkah Tersimpan di Perpustakaan Tebuireng 
Filolog UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, M Adib Misbachul Islam (Kanan). (Foto: Tebuireng/Ajieb)
Filolog UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, M Adib Misbachul Islam (Kanan). (Foto: Tebuireng/Ajieb)

Jombang, NU Online

Perpustakaan KH Abdul Wahid Hasyim Pondok Pesantren Tebuireng menyimpan belasan manuskrip. Satu di antaranya adalah kitab karya Murtadha Al-Husaini yang tercatat milik Abdul Hamid Kudus.


"Ada catatan kepemilikan yang menyebut nama misalnya Abdul Hamid Kudus. Naskahnya tentang Naqsyabandiyah. Pengarangnya Murtadha Al-Husaini," ujar M Adib Misbachul Islam, filolog UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, saat menjadi pembicara pada Webinar Khazanah Manuskrip Pesantren Tebuireng Jombang pada Selasa (24/5/2022).


Dugaan awal Adib, penulis kitab tersebut adalah orang yang sama dengan pengarang kitab Ithafu Sadat al-Muttaqin, syarah dari kitab Ihya Ulumiddin karya Imam Ghazali, yakni Murtadha Az-Zabidi, Al-Husaini.


"Menurut satu riwayat (Murtadha Az-Zabidi Al-Husaini) merupakan gurunya Kiai Abdul Manan, kakeknya Syekh Mahfudz Termas," ujar alumnus Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur itu.


Dari situ, ia melihat ada hubungan ulama Nusantara dan ulama di Makkah dan Madinah. Sebab, Murtadha Azzabidi pernah di Yaman, pernah di Makkah, akhir hayatnya di Mesir. Sebagaimana diketahui, Kiai Abdul Manan merupakan salah satu diaspora Nusantara pertama yang belajar di Al-Azhar, Mesir.


"Itu sekadar contoh betapa catatan-catatan yang ada di naskah itu bisa menjadi pintu masuk untuk penelitian lebih jauh," ujarnya.


Oleh karena itu, Adib menyampaikan bahwa manuskrip ini bisa dijadikan bahan untuk penelitian sejarah. Tentu saja, manuskrip menjadi bahan utama untuk penelitian filologi.


"Karena ini manuskrip, tentu penelitian filologi. Yang kedua, bisa juga penelitian sejarah," kata Ketua Jurusan Magister Sastra Arab UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu.


Adib menguraikan, bahwa belasan naskah itu sebagian besar berbahan kertas. Ada beberapa naskah berbahan daluang. Dilihat dari segi bahasa, ia menyebut ada manuskrip berbahasa Arab, Jawa, dan Melayu, sedangkan dari sisi aksara, ada Arab, pegon, dan aksara Jawi Melayu. Sementara bidang kajiannya meliputi tafsir, fiqih, tauhid, tasawuf, alat, hingga ilmu hikmah.


Kegiatan ini juga menghadirkan Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng KH Abdul Hakim Mahfudz, Principal Investigator DREAMSEA Prof Oman Fathurahman, Dosen Ma'had Aly Hasyim Asy'ari Anang Firdaus, dan Pegiat Turats Tebuireng Variz Muhammad Mirza.


Pewarta: Syakir NF
Editor: Aiz Luthfi



Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Nasional Lainnya

Terpopuler Nasional

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×