Home Warta Fragmen Quran New Keislaman English Opini Video Tokoh Hikmah Arsip Kesehatan Lainnya Nasional Esai Khutbah Daerah Cerpen Ubudiyah Seni Budaya Sirah Nabawiyah Internasional Tafsir Risalah Redaksi Hikmah Nikah/Keluarga Obituari Ramadhan

Pengaderan Inklusif, PBNU Akan Berlakukan Penyetaraan Kaderisasi di Tingkat Banom

Pengaderan Inklusif, PBNU Akan Berlakukan Penyetaraan Kaderisasi di Tingkat Banom
Mekanisme penyetaraan kaderisasi itu juga akan diberlakukan bagi para santri yang pernah menempuh pendidikan di pesantren-pesantren induk NU
Mekanisme penyetaraan kaderisasi itu juga akan diberlakukan bagi para santri yang pernah menempuh pendidikan di pesantren-pesantren induk NU

Jakarta, NU Online

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) akan memberlakukan mekanisme baru di dalam sistem kaderisasi teranyar yang akan diputuskan pada Konferensi Besar (Konbes) NU 2022, di Hotel Yuan Garden, Jakarta Pusat, akhir pekan ini. Mekanisme baru itu disebut pengaderan inklusif yang berlaku bagi para kader di tingkat badan otonom (banom) dan pesantren-pesantren NU. 


“Pengertian inklusif itu adalah pengaderan yang telah dijalani kader-kader kita di banom, tidak dianggap nihil sama sekali, tetapi diakui dan disetarakan. Karena itu kita menerapkan sistem muadalah atau penyetaraan,” jelas Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (Lakpesdam) PBNU Ulil Abshar Abdalla, ditemui NU Online di Jakarta, pada Selasa (17/5/2022) kemarin. 


Lebih lanjut dijelaskan, bagi kader NU yang telah menjalani pengaderan di Gerakan Pemuda (GP) Ansor, Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU), Fatayat, Muslimat, dan bahkan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) tidak dianggap hilang atau tidak ada nilainya setelah sistem kaderisasi terbaru NU diluncurkan. 


“Tetapi tetap akan kita akui dan kita hargai. Kalau yang sudah pernah menjalani kaderisasi di tingkat banom, maka dia disetarakan dengan pengaderan resmi di NU tapi diturunkan derajatnya satu tingkat ke bawah,” ungkap Gus Ulil.


Sebagai contoh, bagi kader yang sudah menjalani Pelatihan Kepemipinan Nasional (PKN) di GP Ansor akan disetarakan dengan pengaderan di tingkat menengah yakni Pendidikan Kader Menengah Nahdlatul Ulama (PKMNU).


Sementara untuk kader yang pernah mengikuti Pelatihan Kepemimpinan Lanjutan (PKL) di GP Ansor, disetarakan dengan pengaderan tingkat dasar yaitu Pendidikan Dasar Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PD-PKPNU). Begitu pula berlaku bagi kader Ansor yang baru mengikuti Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD). 


Mekanisme penyetaraan kaderisasi itu juga akan diberlakukan bagi para santri yang pernah menempuh pendidikan di pesantren-pesantren induk NU. Gus Ulil menyebutkan beberapa pesantren induk itu yakni Lirboyo, Ploso, Sidogiri, dan Sarang. 


“Santri-santri itu nanti kita akan akui sebagai kader NU juga. Ketika ingin mengikuti pengaderan resmi di NU, mereka tidak melalui tahap awal. Tetapi mereka bisa langsung mengikuti pengaderan di tingkat menengah (PKMNU). Jadi itulah mekanisme mu'adalah atau penyetaraan yang kita terapkan,” terangnya. 


Pewarta: Aru Lego Triono

Editor: Alhafiz Kurniawan



Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Nasional Lainnya

Terpopuler Nasional

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×