Home Warta Fragmen Quran New Keislaman English Opini Video Tokoh Hikmah Arsip Kesehatan Lainnya Nasional Esai Khutbah Daerah Cerpen Ubudiyah Seni Budaya Sirah Nabawiyah Internasional Tafsir Risalah Redaksi Hikmah Nikah/Keluarga Obituari Ramadhan

Seri 1 Halaqah Harlah NU Bahas Perubahan Iklim dan Dekarbonisasi

Seri 1 Halaqah Harlah NU Bahas Perubahan Iklim dan Dekarbonisasi
Seri 1 Halaqah Lingkungan Hidup, Temu UMKM dan Petani Sawit NU. (Indi/NU Online).
Seri 1 Halaqah Lingkungan Hidup, Temu UMKM dan Petani Sawit NU. (Indi/NU Online).

Palembang, NU Online

Halaqah Lingkungan Hidup, Temu UMKM dan Petani Sawit NU yang merupakan bagian dari rangkaian acara Harlah ke-99 NU terbagi ke dalam dua kelas, yakni kelas A dan B.

 

Dalam seri 1 halaqah kelas A dibahas isu terkait dengan pengendalian perubahan iklim dan dekarbonisasi. Seri halaqah ini berlokasi di Tenda Venue Jakabaring Sport City (JSC) dan diikuti sekitar 210 peserta, Jumat (4/3/2022).

 

Terdapat empat sub tema yang dibahas dalam seri 1 halaqah kelas A ini. Berikut empat bahasan dalam seri 1 halaqah kelas A:

 

1. Kerangka kebijakan dan peluang kolaborasi dalam aksi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim,

 

2. Percepatan bauran energi baru terbarukan (EBT) melalui pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berbasis pesantren,

 

3. Penguatan peran tokoh agama dan komunitas umat agama dalam upaya pengendalian perubahan iklim,

 

4. Cerita sukes kerja sama masyarakat dan pemerintah dalam inisiatif respon pengendalian perubahan iklim.

 

Bahasan pertama terkait kerangka kebijakan dan peluang kolaborasi dalam aksi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim dibawakan oleh Direktur Inventarisasi Gas Rumah Kaca dan Monitoring, Pelaporan, dan Verifikasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Syaiful Anwar.

 

Dalam penjelasannya, Syaiful menilai ruang lingkup kolaborasi terkait dengan pengembangan perubahan iklim dan ketahanan bencana sangat penting. Utamanya, mengenai kebakaran hutan. Ia mengatakan, kebakaran hutan adalah penyumbang emisi karbon terbesar di sektor lahan.

 

"Dari hasil kajian kami, nanti di 2060 diperkirakan baru bisa mencapai net zero emission. Sementara tuntutan global itu di 2050. Tentunya ini tanggung jawab bersama," katanya saat mengisi halaqah kelas A seri 1.

 

Selanjutnya, percepatan bauran energi baru terbarukan (EBT) melalui perkembangan PLTS berbasis pesantren dibawakan oleh Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan & Konservasi Energi Kementerian ESDM, Dadan Kusdiana.

 

Dadan menyampaikan, pihaknya akan terus berupaya dan mendorong percepatan capaian target energi terbarukan.

 

"Kami berupaya dan mendorong supaya EBT semakin banyak. Kita ingin mencapai net zero emission, karena emisi yg kita keluarkan itu sama dengan emisi yang diserap," paparnya.

 

Kemudian, penyampaian success story kerja sama masyarakat dan pemerintah dalam inisiatif respon pengendalian perubahan iklim yang disampaikan oleh Pendiri Pesantren Ekologi  Ath-Thariq Garut Nisa Wargadipura.

 

Berikutnya, pembahasan mengenai penguatan peran tokoh agama dan komunitas umat agama dalam upaya pengendalian perubahan iklim yang sekaligus menutup rangkaian halaqah seri 1.

 

Pembahasan ini disampaikan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Al Muayyad Windan Solo KH Mohammad Dian Nafi.

 

Kontributor: Nuriel Shiami Indiraphasa
Editor: Aiz Luthfi



Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Nasional Lainnya

Terpopuler Nasional

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×