Risalah Redaksi

Menyongsong 100 Tahun NU: Merawat Jagat, Membangun Peradaban

Ahad, 30 Januari 2022 | 16:30 WIB

Menyongsong 100 Tahun NU: Merawat Jagat, Membangun Peradaban

Menyongsong 100 Tahun NU: Merawat Jagat, Membangun Peradaban

Akhir Januari selalu disambut dengan penuh kegembiraan oleh warga NU karena setiap tanggal 31 Januari diperingati hari lahir NU (versi masehi). Pada tahun 2022 ini, peringatan harlah yang ke-96 semakin terasa istimewa setelah suksesnya penyelenggaraan muktamar ke-34. Tema harlah yang diusung sangat menarik dan kontekstual, yaitu Menyongsong 100 Tahun NU: Merawat Jagat, Membangun Peradaban.

 

Islam memerintahkan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Ini tugas yang hanya diamanahkan oleh Allah kepada manusia, bukan kepada makhluk ciptaannya yang lain. Menjadikan Islam sebagai rahmat bagi semua (rahmatan lil alamiin). Rahmat merupakan sebuah karunia atau kasih sayang yang diberikan kepada bukan hanya manusia, tetapi juga kepada hewan, tumbuh-tumbuhan, dan makhluk hidup lainnya. Pesan ini merupakan upaya implementasi dari frasa Merawat Jagat.

 

Dalam frasa Membangun Peradaban, maka pesan yang ingin disampaikan adalah bagaimana menciptakan sebuah kemajuan dan kebudayaan yang tinggi. Dalam peradaban yang maju, manusia hidup sejahtera; harkat dan martabat manusia dihargai; alam dan lingkungan dirawat dengan baik. Peradaban yang tinggi tak sekadar kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Peradaban mesti berpusat pada penghargaan pada harkat dan martabat manusia. Ilmu dan pengetahuan merupakan alat untuk mencapai harkat dan martabat tersebut.

 

Ada masanya ketika ilmu dan pengetahuan menjadi alat untuk mengeksploitasi pihak lain sebagaimana terjadi dengan kolonialisme ketika pengetahuan digunakan untuk menindas bangsa lain. Bangsa Indonesia merupakan bagian dari korban kolonialisme tersebut. Hingga kini pun, terdapat sekelompok elite berkuasa, di tingkat dunia atau tingkat nasional, yang mengeksploitasi manusia lainnya demi keuntungan material. Ada segelintir orang yang sangat kaya sementara kelompok besar lainnya harus berjuang keras untuk sekadar bertahan hidup.

 

Kedamaian pun belum sepenuhnya terwujud. Bahkan di kawasan Timur Tengah yang menjadi tempat Islam bermula, konflik yang memakan korban jiwa hingga sekarang belum berhenti. Afghanistan, Yaman, Suriah, Libya menjadi negara gagal. Perjuangan Palestina untuk meraih kemerdekaan pun belum terwujud hingga sekarang.

 

Selanjutnya, dalam konteks jagat sebagai alam dan lingkungan, perubahan iklim yang diakibatkan oleh pemanasan global menjadi isu bersama. Para pemimpin dunia melakukan serangkaian perundingan untuk mencegah bencana akibat perubahan iklim terjadi. Masing-masing pihak berusaha mengamankan kepentingannya karena konsesi yang diberikan berdampak pada perekonomian dalam negeri, bahkan berpengaruh terhadap karier masing-masing politisi yang menjadi pemimpin di setiap negara. Namun, tanpa komitmen bersama bencana akibat perubahan iklim tak dapat dielakkan karena dunia adalah satu kesatuan. Bumi tidak dipisahkan berdasarkan sebuah teritori politik. Jagat terus dalam ancaman kerusakan lingkungan yang semakin lama semakin parah.

 

Dalam skala nasional masih sangat banyak persoalan yang perlu diselesaikan, baik masalah ekonomi maupun sosial. Nahdlatul Ulama menjadi bagian dari komponen bangsa lainnya secara bersama-sama berusaha menyelesaikan persoalan yang ada. Ketimpangan antara kelompok kaya dan miskin di Indonesia termasuk yang paling tinggi di dunia. Malangnya, jutaan warga NU masih menjadi strata paling bawah dari piramida kesejahteraan ekonomi.

 

Dalam konteks tersebut, upaya menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapi oleh warga NU berarti sama dengan keterlibatan kita menyelesaikan masalah bangsa. Tema harlah tersebut menjadi sesuatu yang sangat konkrit dan nyata bagaimana mengimplementasikannya, bukan sesuatu yang abstrak atau sekadar slogan.

 

Dalam persoalan kerusakan lingkungan di Indonesia terjadi peningkatan. Daerah yang dahulunya tidak banjir, kini menjadi banjir. Bencana terjadi seperti bergiliran saja. Jika musim kemarau, maka kebakaran terjadi di mana-mana. Selama musim hujan, banjir, tanah longsor dan bencana terkait dengan air menjadi sesuatu yang rutin. Jagat dalam makna alam yang sedang mengalami kerusakan juga sangat relevan di Indonesia.

 

Terdapat Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI) NU yang selama ini turun langsung ke lokasi-lokasi bencana. Dengan semakin banyaknya bencana yang terjadi, maka terdapat kesalahan kebijakan pengelolaan alam di Indonesia. Hutan digunduli atau dikonversi menjadi tanaman monokultur, pembangunan perumahan di lokasi yang rawan bencana, dan lainnya. Upaya pencegahan bencana mesti menjadi prioritas negara.

 

Saat terjadi bencana, mereka yang terdampak paling besar adalah kelompok miskin. Mereka yang kaya dapat pergi ke hotel atau ke lokasi lain yang lebih aman, namun orang-orang miskin tidak memiliki banyak pilihan selain mengandalkan bantuan pihak lain. Kembali lagi, di sinilah peran nyata NU kepada Nahdliyin yang sedang terkena bencana sangat diperlukan.

 

Ada hal-hal yang sifatnya makro dan berjangka panjang dalam upaya menciptakan Islam yang memberi rahmat bagi semua. Namun, banyak hal yang dapat dimulai dari diri kita masing-masing untuk mencapai visi besar tersebut. Sumbangan-sumbangan kecil yang terkumpul dari banyak orang akan bernilai dan menghasilkan manfaat besar. Langkah kecil untuk mengurangi konsumsi air, memproduksi sampah, mengurangi emisi karbon, jika dilakukan bersama-sama akan menghasilkan dampak yang signifikan bagi perbaikan kondisi di jagat ini.

 

Organisasi, seperti NU dapat menjadi wadah bersama untuk mencapai tujuan besar. Potensi yang terserak dan berbagai keahlian yang tersebar yang dimiliki oleh banyak orang dapat dikelola dan diarahkan bersama-sama melalui NU, terutama untuk warga NU yang selama ini belum seberuntung yang lainnya.

 

Harlah ke-96 NU dalam hitungan masehi menyegarkan kembali khidmah yang telah menjadi visi bersama para pendiri NU dan diteruskan dari generasi ke generasi berikutnya. NU tetap berdiri hingga kini karena bakti yang diberikan kepada umat dan bangsa. Melalui peringatan hari lahir ini, saatnya untuk kembali melakukan refleksi dan terus berkarya untuk sesama. (Achmad Mukafi Niam)