Risalah Redaksi

Idul Fitri, Momen Kembali pada Jati Diri Kemanusiaan

Ahad, 1 Mei 2022 | 17:30 WIB

Idul Fitri, Momen Kembali pada Jati Diri Kemanusiaan

Idul Fitri, Momen Kembali pada Jati Diri Kemanusiaan

Manusia merupakan makhluk sosial yang menempatkan hubungan sesamanya sebagai hal yang sangat penting. Sayangnya, aspek yang menjadi kebutuhan paling mendasar ini tergerus oleh industrialisasi dan perkembangan teknologi yang mengakibatkan manusia menjadi individualis. Idul Fitri menjadi momen bersama untuk berkumpul bersama keluarga, handai taulan, dan para sahabat.

 

Sejenak selama beberapa hari yang telah ditetapkan sebagai libur nasional dan cuti bersama inilah waktu paling berkualitas bagi banyak orang untuk keluar dari rutinitas pekerjaan yang tiada henti, yang dari waktu ke waktu telah menghabiskan sisa usia tanpa ada kesempatan untuk mengembangkan hubungan sosial sesama manusia yang tidak didasarkan pada kepentingan.  

 

Pada zaman dahulu, kehidupan sangat komunal. Ketika sektor pertanian masih mendominasi, masyarakat memiliki kesempatan besar untuk berkumpul bersama keluarga dan kerabatnya. Mereka saling membantu karena sektor ini membutuhkan banyak tenaga kerja. Ketika menunggu panen, banyak waktu luang yang kemudian memunculkan banyak perayaan. Semua hal tersebut mendekatkan manusia dengan sesamanya.

 

Industrialisasi memaksa manusia bekerja sesuai dengan ritme mesin yang banyak di antaranya beroperasi selama 24 jam. Waktu kerja yang panjang yang menyebabkan kelelahan fisik ditambah dengan kepadatan panjang menuju lokasi kerja di daerah-daerah industri mengakibatkan banyak orang kehilangan waktu bersosialisasi. Faktor lainnya adalah mobilitas yang tinggi di daerah urban hingga masalah keamanan menyebabkan banyak orang lebih berhati-hati jika bertemu dengan orang baru atau menaruh kepercayaan.

 

Dalam dunia industri ini, identitas manusia tidak lagi didasarkan pada aspek kemanusiaannya, tapi barang dan jasa apa yang dipakai. Semakin mewah dan mahal, harga dirinya semakin naik dan memandang rendah orang lain yang ada di bawahnya. Hal ini dipicu oleh kapitalisme pasar yang mempromosikan berbagai produknya supaya investasi mereka balik modal dan meraih keuntungan.

 

Banyak barang dan jasa yang diproduksi sudah bukan lagi untuk memenuhi fungsi aslinya, melainkan diciptakan sebagai simbol status. Jam tangan seharga miliaran rupiah atau tas yang dibanderol ratusan juta rupiah dibeli sebagai simbol kesuksesan. Ukuran-ukuran kebendaan ini menjadi penanda kelas sosial dalam interaksi sosial.

 

Media sosial mampu mendekatkan mereka yang jauh; menghubungkan orang-orang yang telah terputus sebelumnya karena jarak dan waktu; membangun komunitas hobi atau apapun dengan minat yang sama. Namun di sisi lain, medsos telah memunculkan fenomena hoaks, pamer, dan pengabaian interaksi langsung. Di berbagai tempat umum, orang lebih sibuk dengan gawainya dibandingkan berkenalan dan berinteraksi dengan orang yang duduk di sebelahnya. Orang bisa saja memiliki banyak teman di media sosial, tetapi kualitas pertemanannya rendah.

 

Persoalan-persoalan hubungan antarmanusia yang keluar dari fitrah manusia sebagai makhluk sosial inilah yang mesti menjadi bahan refleksi kita bersama pada Lebaran. Jangan-jangan kita telah larut dalam berbagai keruwetan; jangan-jangan tanpa sadar kita telah mengkategorikan hubungan dengan orang lain berdasarkan capaian-capaian kebendaan; jangan-jangan kita telah sedemikian sibuk bekerja untuk meraih status sosial yang sifatnya material, tetapi kemudian mengabaikan hubungan kemanusiaan.

 

Keluarga menjadi benteng terakhir hubungan kasih manusia tanpa syarat (unconditional love). Pada keluarga lah kita merasakan kasih dan cinta sejati yang tidak diembel-embeli berbagai bermacam simbol yang sesungguhnya tidak terlalu penting. Orang tua akan menyambut gembira kedatangan anak-anaknya, tak peduli apapun kondisinya. Sesama saudara akan membantu yang sedang terpuruk. Inilah penghargaan kemanusiaan yang selalu ditunggu jutaan orang dengan mudik ke kampung halaman meskipun harus ditempuh dengan segala macam upaya dan pengorbanan. Semua itu demi keluarga, untuk merasakan identitas sebagai manusia seutuhnya.

 

Kita dapat belajar dari pengalaman beberapa negara maju yang sukses secara ekonomi, namun penduduknya semakin kesepian. Sebagai contoh, di Jepang telah lama berkembang jasa pendamping kondangan untuk membantu orang-orang mengatasi kesepian atau menemani mereka di acara-acara sosial. Fenomena yang sama berkembang di Korea Selatan dan Singapura.  Hasil survei yang dilakukan oleh Tokyo MX pada 2016 menyatakan bahwa 32,64 responden Jepang tidak memiliki teman; sementara yang memiliki sampai 5 teman 54,8 persen; yang punya teman di atas 11 orang hanya 3,13 persen.

 

Sebuah survei berjangka panjang dengan rentang waktu puluhan tahun yang dilakukan oleh Universitas Harvard menunjukkan bahwa orang-orang yang memiliki hubungan yang berkualitas memiliki usia harapan hidup yang panjang. Pentingnya interaksi sesama manusia ini juga dibuktikan selama pandemi Covid-19. Ketika orang dipaksa untuk bekerja atau berdiam di rumah, banyak di antaranya yang mengalami stres berkepanjangan karena kurangnya interaksi sosial.

 

Idul Fitri menjadi momentum untuk menyegarkan kembali hubungan kita dengan keluarga, kerabat, dan teman. Kebutuhan sosial manusia tak dapat digantikan oleh kemewahan kebendaan apa pun. Jangan sampai kita mengejar hal-hal tak substansial dengan melupakan sesuatu yang esensial, yaitu hubungan sesama manusia yang tanpa syarat. Selamat Idul Fitri 1443 H. (Achmad Mukafi Niam)