Opini HAUL GUS DUR 2018

Memaknai Ajaran Gus Dur

Ahad, 16 Desember 2018 | 21:00 WIB

Memaknai Ajaran Gus Dur

Lukisan tentang Gus Dur karya Nabila Dewi Gayatri. (Foto: NU Online)

Oleh: Eko Supriatno
 
"Di tengah masyarakat yang terdiri dari orang-orang gila, orang yang paling waras disebut sebagai orang yang paling gila. Dan di tengah masyarakat yang terdiri orang-orang yang waras, orang yang paling gila disebut orang waras." (Kahlil Gibran)
 
Benar adanya, semangat, gagasan, dan gerakan Gus Dur tidak pergi, masih terus hadir hingga hari ini. Ini sesuai dengan apa yang termaktub dalam kitab Ta’limul Muta’allim. Hampir tidak ada pesantren tradisional di Jawa dan Madura yang tidak mengajarkan kitab karangan Imam Az-Zarnuji ini. Dalam kitab itu terdapat puisi sangat vitalistik yang berbunyi
 
Aljahiluna famautla qablamautihim
Wal ‘alimuna wain matu fa-ahya-u
 
Orang-orang yang tak berilmu telah mati sebelum dikuburkan
Dan orang-orang yang berilmu walaupun mati tetap hidup
 
Gus Dur sebagai orang yang lahir dan besar di lingkungan pesantren. Ia telah banyak meminum nilai-nilai yang membentuk dirinya menjadi manusia yang harus sadar akan eksistensinya dengan akal sehatnya. 
 
Satu di antaranya adalah perjuangan Gus Dur untuk mewujudkan pluralisme di Bumi Nusantara. Dia adalah seorang pemimpin yang sangat menghargai keberagaman dalam berbagai hal, terutama keberagaman suku, agama, dan ras. Gus Dur adalah seorang pemimpin yang berani mengambil risiko untuk mewujudkan keberagaman itu. Begitupun dengan memahami Pancasila.
 
Pancasila dalam Pandangan Gus Dur
 
Pertama-tama yang mesti dipahami ialah bahwa Gus Dur telah melakukan pembacaan mendalam tentang sejarah gagasan Pancasila. Ia mengaitkan Pancasila sebagai pandangan hidup bernegara tidak sekadar dimulai dari  kelahiran Pancasila itu sendiri, melainkan ditarik dari pandangan tokoh-tokoh sejarah Islam terdahulu saat dihadapkan pada  persoalan gagasan fungsi pemerintahan yang memang harus mengabaikan status dan formalitas belaka.
 
Melalui Pancasila, Gus Dur juga bermaksud menghapus dominasi agama berikut  kekuasaan antiagama dalam sebuah bangsa. Pancasila diposisikan sebagai wadah aspirasi yang dapat mencakup kepentingan semua golongan. Maka di mata Gus Dur, negara Pancasila adalah posisi tengah dan lebih sesuai dengan kehidupan masyarakat Indonesia di banding kerangka negara sekular atau pun komunis yang ditawarkan oleh masyarakat global.
 
Selain  itu, Gus Dur juga memahami bahwa Pancasila adalah sebuah bahasan multitafsir yang berpotensi sangat mudah untuk disalah-fungsikan oleh sebuah kekuasaan sesuai dengan baik buruknya tujuan. Maka tak heran, jika di Era Soeharto yang Pancasila disulap menjadi ikon dan tameng kekuasaan, justru Gus Dur tetap melakukan perlawanan di ranah pemaknaan Pancasila yang sebenarnya. Ibaratnya, Gus Dur memecah Pancasila dengan wajah yang kaku waktu itu, dengan semangatnya untuk mengembalikan makna Pancasila sesuai dengan cita-cita yang luhur.
 
Puncak kiprah perjuangan Gus Dur terhadap pengawalan Pancasila adalah saat ia menjabat sebagai seorang Presiden. Terkait hubungan Islam dan Pancasila, Gus Dur menerbitkan Kepres No. 6 tahun 2000 yang mencabut Inpres No 14 tahun 1967  tentang agama, kepercayaan, dan adat istiadat China. Dalam keputusan tersebut, Gus Dur merasa bahwa Pancasila harus diperankan dalam pengakuan hak-hak sipil penganut Konghucu, semisal memberi keleluasaan untuk merayakan Imlek dan beribadah sesuai dengan keimanannya. Gus Dur jelas menimbang dirinya sebagai seorang tokoh Muslim. Namun, menjalankan prinsip-prinsip bernegara yang menjamin kebebasan beragama adalah suatu keharusan, meskipun harus bertentangan dengan pemerintahan sebelumnya dan satu-dua kelompok Islam yang cenderung menganut dominasi  mayoritas.
 
Gusdur identik dengan NU. Dan, penerimaan NU atas Pancasila bukan merupakan hal yang terbilang sederhana, konsepsi ini telah dilalui NU dengan proses pikir dan perdebatan yang mendalam. Hingga akhirnya NU dan tentu melalui sumbangsih Gus Dur saat itu menganggap penerimaan ini melalui beberapa pertimbangan penting, antara lain; pertama, konsep fitrah yang merupakan sisi sangat penting dalam Islam. Fitrah adalah dorongan yang sudah tertanam di dalam diri manusia untuk menemukan tuhannya. Dorongan tersebut yang menyebabkan manusia menyerah diri (Islam) kepada Allah.
 
Kedua, konsep ketuhanan. NU menilai rumusan yang Maha Esa menurut Pasal 29 Ayat (1) UUD 1945, yang menjiwai sila-sila lainnya, mencerminkan tauhid menurut pengertian keimanan Islam. “Negara berdasarkan atas ketuhanan Yang Maha Esa.” Di sini yang dinilai oleh NU adalah kedudukan agama dalam negara adalah bersifat rumit dan krusial. Ketiga, pemahaman sejarah. Maksudnya adalah penerimaan Pancasila diperkuat oleh Mukatamar NU dengan peranan umat Islam menentang penjajahan dan mempertahan kemerdekaan bangsa.
 
Setidaknya, Pancasila di dalam pandangan Gus Dur saat dikaitkan dengan hubungannya dengan Islam akan melahirkan beberapa fungsi tersendiri. Pertama, Pancasila adalah sebah konsep penengah  yang adil, tidak boleh ada konsesi yang mendominasi  kelompok tertentu, termasuk agama. Hal ini yang jika diterapkan dengan baik maka, menurut Gus Dur, Pancasila akan menciptakan pelaku-pelaku kebangsaan yang dapat berperan dengan baik sesuai posisinya dalam rangka memajukan negara.
 
Kedua, karena Pancasila itu sendiri tidak boleh dikuasai oleh satu kelompok, maka hal ini akan menjadi sebuah kesempatan dialog bagi setiap kelompok di dalam ruangnya masing-masing. Dalam melakukan hal ini, sebuah kelompok untuk terbuka dalam merespon setiap gagasan baru yang dapat dinilai lebih baik, juga mempertahankan tradisi yang masih dinilai cukup baik dan belum perlu untuk tergantikan. Mengenai ini, Gus Dur menerapkan di sekitar lingkungan dirinya, dengan mengaplikasikan Al-Muhafadah ala qadimi as-shalih wal-akhdu bil jadid al-ashlah, baik dalam jaringan pesantren, termasuk kelembagaan NU itu sendiri.
 
Karena fungi-fungsi tersebutlah yang menjadikan Gus Dur berkata bahwa "Tanpa Pancasila, Indonesia tidak akan ada", atau jika pun ada, Indonesia sekadar raksasa mati dan bukan sebagai negara yang dicita-citakan.
 
Al-Muhafazhatu ‘alal qadimis shalih
Wal-akhdzu bil jadidil ash-lah
 
Memelihara (melaksanakan warisan) lama yang masih baik
Dan mencari yang baru yang lebih baik
 
Memaknai Ajaran Gus Dur
 
Bangsa Indonesia adalah bangsa yang amat beragam. Kemajemukan yang menjadi sebuah identitas dan kekayaan. Tetapi, tanpa penghayatan dan penghargaan terhadap keberagaman itu, niscaya akan mustahil mempertahankan keutuhan Indonesia. Pluralisme dan demokrasi dalam konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah dua hal yang harus berjalan seiring.
 
Suara miring, kritikan, bahkan ancaman sering dialamatkan kepada dia. Tapi Gus Dur bergeming. Semua dihadapi demi cita-cita luhur. Bahkan sampai saat lengser dari jabatannya sebagai presiden, Gus Dur tetap berjuang mewujudkan pluralisme melalui The Wahid Institute yang berslogan Seeding Plural and Peacefull Islam.
 
Sikap seorang ksatria yang diteladankan Gus Dur sesungguhnya ada dalam diri setiap dari kita. 
 
Laysal fata man yaqulu  kana abi
Walakinnal fata man yaqulu ha anadza
 
Yang disebut pemuda bukan yang berkata itulah ayah saya
Tapi yang disebut pemuda ialah yang berkata, inilah aku
 
Kita belajar untuk berbela rasa terhadap mereka yang dilemahkan, belajar berani berjuang untuk kebenaran dan kedaulatan kita sebagai manusia. Kita belajar kesabaran dan keikhlasan untuk mengeraskan raga dan melembutkan nurani demi sebuah proses perjuangan yang maha penting bagi bangsa ini. Tokoh yang 'dicari Tuhan' (al-Murad). Ketika sekarang kita melihat pemimpin-pemimpin palsu berlomba-lomba menunjukkan kemakmurannya di atas kesengsaraan rakyat, kitapun seakan tertampar oleh kesahajaan Gus Dur yang tak dapat diingkari. Ketika sekarang kita melihat kaum intektual berlomba-lomba menunjukkan kerumitan cara pandangnya terhadap masalah-masalah bangsa, kitapun seakan dihujam oleh kesederhanaan pikiran Gus Dur yang jernih tertuju pada pokok persoalan, yaitu pembelaan sejati kepada kemanusiaan, dan utamanya bangsa Indonesia.
 
Gus Dur 'dicari' Tuhan, dan ditemukan di lorong-lorong kebudayaan, di ketiak orang-orang miskin, dalam aliran derasnya keringat para buruh. Allah menemukan Gus Dur dalam alunan musik klasik, di gedung-gedung bioskop dan di tengah-tengah supporter sepak bola. Gus Dur diburu Tuhan, ketika berada di sela-sela kolom surat kabar dan majalah, bahkan diburu sampai ke Israel dan Bosnia.
 
Benar kata Khalil Gibran, "Di tengah masyarakat yang terdiri dari orang-orang gila, orang yang paling waras disebut sebagai orang yang paling gila. Dan di tengah masyarakat yang terdiri orang-orang yang waras, orang yang paling gila disebut orang waras."
 
'Kegilaan' Gus Dur adalah tipikal paling relevan untuk memimpin masyarakat yang tergila-gila oleh kegilaan. Sebab Gus Dur adalah terali, tembok, pilar, atap, dan ornamen-ornamen bagi rumah Ilahi, yang terus mengalami 'keterasingan' di tengah-tengah rumah besarnya sendiri, di tengah-tengah bangsanya sendiri, juga di sudut-sudut lapuk warga Nahdliyinnya.
 
Memaknai ajaran Gus Dur, kami mengajak seluruh komponen bangsa Indonesia untuk terus konsisten dan istiqamah untuk memperjuangkan cita-cita luhur bangsa seperti yang sudah ditauladankan oleh KH Abdurrahman Wahid. Baik kemanusiaan, keadilan, kebenaran, kejujuran, demokratisasi, toleransi, pluralisme, penegakan hukum, pendidikan dan kesehatan yang memadai serta kehidupan yang layak bagi seluruh rakyat Indonesia.
 
Gus Dur sudah meninggalkan kita, banyak yang telah ditorehkan, banyak yang bisa kita ambil sebagai teladan, namun regenerasi harus tetap berjalan.
 
Semoga lahir pemikir-pemikir yang sama untuk menguatkan cita-cita Almarhum. Semoga gagasan, ide-ide, ikhtiar, Gus Dur tetap hidup dan mengalirkan pahala.
 
Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Kullu nafsin dzaiqotul maut. Semoga amal ibadah Gus Dur diterima oleh Allah Swt, dan mendapatkan tempat yang indah di sisi Allah SWT. Aamiin.
 
Penulis adalah Gusdurian Banten.