Opini

Yang Muda, Sang Pemimpin Bangsa

Ahad, 20 Agustus 2023 | 20:30 WIB

Yang Muda, Sang Pemimpin Bangsa

Ilustrasi pemimpin bangsa. (Foto: NU Online/Freepik)

Ada satu adagium Arab yang populer di Indonesia tentang anak muda. Bunyinya kira-kira begini, "Syubbanul yaum, rijalul ghad". Artinya, orang muda hari ini adalah tokoh masa depan.


Ungkapan ini terkait pentingnya peran dan kontribusi orang muda dalam memimpin masa depan. Dengan kata lain, perkembangan dan kualitas orang muda hari ini akan berdampak besar pada arah dan kemajuan masyarakat di masa yang akan datang.


Lebih lanjut, orang muda mewakili generasi yang akan mewarisi tongkat estafet dari para pendahulu, melanjutkan perjalanan peradaban manusia, dan membawa perubahan yang akan membentuk dunia yang lebih baik. Di tengah dinamika global yang semakin kompleks dan perubahan teknologi yang pesat, peran pemuda menjadi semakin penting dalam mengarahkan arah perkembangan dunia.


Tak bisa dipungkiri, setiap era peradaban manusia, peran orang muda telah menjadi kunci utama dalam membentuk dan mengarahkan arah masa depan. Orang muda memiliki energi, semangat, dan ide-ide segar yang memungkinkan mereka untuk menjadi katalisator perubahan yang signifikan dalam masyarakat. Sejarah masa lampau Indonesia, ditorehkan oleh banyak orang muda yang memiliki semangat dan tekad untuk memperjuangkan kemerdekaan dan masa depan yang lebih baik bagi bangsa. Orang muda ini mengisi Indonesia dengan cerita apik, heroik, dan luar biasa. Lihat Soekarno, Hatta, M Yamin, Sjahrir, Moh Hatta dan anak muda lain.


Pada zaman ini, tak jauh berbeda orang muda memiliki peran yang lebih penting dari sebelumnya dalam mengatasi tantangan global, menciptakan inovasi, dan memimpin dunia menuju kemajuan yang berkelanjutan. Pasalnya, orang muda hari ini tumbuh dan hidup di tengah-tengah revolusi teknologi. Mereka memiliki akses ke informasi dan alat-alat yang belum pernah ada sebelumnya. 


Dengan pengetahuan teknologi yang mendalam, mampu menciptakan solusi inovatif untuk berbagai masalah global, mulai dari perubahan iklim hingga krisis kesehatan. Kolaborasi global yang dimungkinkan oleh teknologi memungkinkan orang muda untuk berkontribusi dalam mengatasi tantangan lintas batas.


Seperti kata Goenawan Mohamad, pemimpin tak selamanya harus dari dari guncangan sejarah. Sebagian besar, pemimpin yang pernah ada di dunia menjelang akhir abad ke-20 ini, muncul bukan dari situasi krisis. Lewat Catatan Pinggir, edisi 5 Maret 1988, pemimpin lahir, tanpa revolusi, tanpa kup, tanpa persitiwa dramatis. Siapa saja bisa menjadi pemimpin, terlebih di era demokrasi terbuka saat ini. 


Dengan demikian, orang muda harus tampil ke depan, mengambil bagian dari arus demokrasi. Pasalnya, jumlah anak muda saat ini cukup besar. Kata UU Nomor Tahun 2009 tentang Kepemudaan, yang disebut dengan pemuda adalah warga negara yang berumur 16-30 tahun, itu berlaku bagi laki-laki maupun perempuan. Berdasarkan laporan Katadata, hasil Survei Badan Pusat Statistik (BPS), pada Maret 2022 sebanyak 68,82 juta jiwa penduduk Indonesia masuk kategori pemuda [orang muda]. Artinya, angka itu menunjukkan bahwa orang muda di Indonesia mencapai 24% dari total penduduk Indonesia saat ini.


Lebih jauh lagi, dari data Bappenas, diprediksi  pada tahun 2045, ketika Indonesia berusia 100 tahun, orang muda dengan usia produktif akan mencapai 64 persen dari total penduduk Indonesia—yang diprediksi 300 juta keseluruhan penduduk Indonesia. Tentu itu bonus demografi yang besar bagi Indonesia, dan modal yang cukup untuk mewujudkan Indonesia menjadi negara maju dan menjadi generasi Emas 2045. 


Kemudian pertanyaan yang mencuat seberapa orang muda untuk menjadi pemimpin di Republik Indonesia? Dan bagaimana peluang mereka untuk memimpin Indonesia ke depan?


Jawabannya, siap! Generasi orang muda memiliki potensi untuk membawa perubahan yang positif dan berkelanjutan dalam dunia kepemimpinan. Orang muda adalah pewaris estafet kepemimpinan Indonesia. Di tangan mereka— Gen Z dan milenial—, ke depan Indonesia ini akan jatuh. Kendati demikian, peran sebagai pemimpin juga memerlukan dukungan dan mentorship dari generasi sebelumnya. Melalui sinergi antara pengalaman dan pandangan segar, masa depan cerah dapat dicapai bersama-sama.


Dalam rangka mengoptimalkan potensi pemimpin muda, diperlukan upaya kolektif dari masyarakat, pendidikan, dan institusi pemerintahan. Dukungan dalam bentuk pelatihan kepemimpinan, akses ke peluang pendidikan, serta lingkungan yang mendorong kolaborasi dan inovasi dapat membantu generasi muda mewujudkan visi mereka untuk masa depan yang lebih baik.


Islam dan Dorongan Kaum Muda Memimpin

Dalam Islam, kepemimpinan merupakan hal yang perlu penting. Dalam ajaran Islam, Pemimpin memiliki posisi mulia. Pasalnya, seorang pemimpin memiliki tanggungjawab yang besar, baik di sisi manusia, pun kelak di hadapan Allah. Oleh karena itu, sebagai rakyat, diwajibkan untuk taat pada pemimpin, dengan catatan, selama tidak menyuruh maksiat pada Allah. Dalam Al-Qur’an Q. S an Nisa’ [4] ayat 59, Allah menyuruh manusia untuk taat kepada pemimpin.

 
“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan ta’atilah Rasul-Nya, dan ulil amri (pemimpin) di antara kamu.”


Pada sisi lain, Imam Nawawi dalam kitab Majmu’ Syarah al Muhadzab, jilid X, mengatakan taat kepada pemimpin itu wajib, sekalipun pemimpin itu zalim dan tidak adil. Imam Nawawi berkata, wajib hukumnya taat pada pemimpin, pada apa yang ia perintahkan dan larang, selama itu tidak menyalahi hukum syariat. Meskipun pemimpin itu adil atau tidak adil (baca; wajib ditaati).


Islam mendorong orang muda untuk terlibat dalam urusan publik, dan menjadi pemimpin. Dorongan ini akan banyak sekali kita jumpai dalam pelbagai ayat yang termaktub dalam Al-Qur'an,  dan juga di hadits Rasulullah yang menyebutkan tentang pentingnya kepemimpinan dan peran pemuda dalam masyarakat.


Salah satu ayat yang membicarakan tentang kepemimpinan terdapat dalam surah At Taubah [9] ayat 71:


"Orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) makruf dan mencegah (berbuat) mungkar, menegakkan salat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah."


Ayat di atas mengindikasikan bahwa laki-laki dan perempuan yang beriman memiliki kewajiban untuk menjadi pemimpin. Yang akan menjadi penolong bagi orang lain, menyuruh yang makruf dan mencegah yang mungkar, serta melaksanakan ibadah dan taat kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.


Dalam kitab Lubab al-Ta'wil fi Ma'ani at-Tanzil, Jilid II, karya Syekh Alauddin Al Khozin, laki-laki dan perempuan memiliki tanggung jawab sosial untuk mengajak pada kebaikan, dan mencegah pada keburukan. Pun salah satu caranya, ketika memegang peranan penting dalam pemerintahan. Ia menulis, bahwa Allah berfirman, "Dan orang-orang yang beriman, baik lelaki maupun perempuan, sebagian dari mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain." Maksud ayat tersebut adalah saling mendukung dalam agama, kesepakatan dalam perkataan, pertolongan, dan bantuan."


Pada sisi lain terdapat juga sebuah hadits yang menyebutkan tentang pentingnya kepemimpinan. Bersumber dari riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah, Nabi bersabda, "Setiap orang adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannnya. Seorang kepala negara adalah pemimpin atas rakyatnya dan akan diminta pertanggungjawaban perihal rakyat yang dipimpinnya. Seorang suami adalah pemimpin atas anggota keluarganya dan akan ditanya perihal keluarga yang dipimpinnya. Seorang istri adalah pemimpin atas rumah tangga dan anak-anaknya dan akan ditanya perihal tanggung jawabnya. Seorang pembantu rumah tangga adalah bertugas memelihara barang milik majikannya dan akan ditanya atas pertanggungjawabannya. Dan kamu sekalian pemimpin dan akan ditanya atas pertanggungjawabannya."


Dari hadis di atas, tergambar bahwa Islam memandang kepemimpinan merupakan tanggung jawab yang melekat pada setiap individu.  Dalam Islam, kepemimpinan dipandang sebagai suatu amanah (amanat) yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Setiap individu, baik pria maupun wanita, dianggap memiliki tanggung jawab dalam lingkungannya masing-masing, mulai dari keluarga hingga komunitas dan masyarakat lebih luas. 


Pada sisi lain, Islam mengapresiasi potensi orang muda dan semangat untuk berkontribusi dalam pembangunan masyarakat.  Orang muda memiliki energi, semangat, dan kreativitas yang dapat digunakan untuk menciptakan perubahan positif. Dalam pusaran sejarah, banyak contoh pemimpin muda yang berperan penting dalam menyebarkan agama, memimpin masyarakat yang beragam, dan menghadapi tantangan sosial.


Seperti kata pepatah Arab, "Inna fi yadi ssyubbani amral ummah, wa fi aqdaamiha hayataha". Artinya, dalam tangan para pemuda terletak urusan umat, dan dalam langkah-langkah mereka tergantung kehidupannya.


Zainuddin Lubis, Penggiat Kajian Islam, tinggal di Ciputat, Tangerang Selatan, Banten.