IMG-LOGO
Nasional

Kebanggaan Ulama Indonesia dengan Keindonesiaannya

Ahad 30 Juni 2019 23:59 WIB
Bagikan:
Kebanggaan Ulama Indonesia dengan Keindonesiaannya
Habib Ahmad bin Novel, Ketum Majelis Hikmah Alawiyah
Jakarta, NU Online
Sebuah keniscayaan Indonesia terdiri dari beragam suku, budaya, tradisi, adat istiadat, hingga bahasa. Namun, semua hal tersebut tetap dipersatukan dengan identitas keindonesiaan atas dasar ungkapan Mpu Tantular yang begitu tenar, Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Hal yang hampir tidak pernah dimiliki oleh bangsa negara lainnya.

Kebanggaan terhadap Tanah Air leluhur tetap tertanam dalam setiap diri bangsa Indonesia. Tak terkecuali para ulama-nya yang bahkan begitu dikenal di dunia internasional dengan karya-karyanya yang sampai saat ini masih terus dipelajari. Sebut saja, Syekh Muhammad Nawawi bin Umar al-Jawi al-Bantani, Syekh Mahfudz al-Tarmasi, Syekh Yasin bin Isa al-Fadani. Unsur keindonesiaan tiga ulama kaliber dunia itu masih tetap melekat dalam dirinya. 

“Gelar al-Bantani merupakan bukti keindonesiaan beliau (Syekh Nawawi). Siapa yang tidak mengenal Syekh Mahfudz at-Tarmisi. Gelar at-Tarmisi merupakan jati diri keindonesiaan beliau. Karya-karya beliau di berbagai penjuru, di Mesir di Hadramaut, di Yaman dipakai dan dibaca sebagai rujukan,” jelas Habib Ahmad bin Novel bin Salim bin Jindan, Ketua Umum Majelis Hikmah Alawiyah (Mahya), saat memberikan sambutan pada peresmian Maktabah Kanzul Hikmah di Kalibata, Jakarta Selatan, Sabtu (29/6).

Di samping itu, gelar al-Fadani yang disematkan pada nama Syekh Yasin juga, menurutnya, merupakan kebanggaan ulama hadis kenamaan itu atas leluhurnya. “Gelar Fadani merujuk pada leluhur beliau, Padang, yang merupakan kebanggaan yang luar biasa,” katanya.

Kebanggaan akan keindonesiaan itu tidak hanya dirasakan oleh ulama asal Indonesia saja. Bahkan para ulama yang menetap di Indonesia juga bangga dengan keindonesiaannya, tak terkecuali para habib. “Indonesia bagi kami adalah bagaikan kota suci Madinah bagi Rasulullah saw. Hidup dan mati kami untuknya selalu,” jelasnya.

Habib Ahmad juga menjelaskan kebanggaan kakeknya, Habib Salim bin Ahmad bin Jindan, dan dua karibnya, yakni  Habib Ali Kwitang dan Habib Ali bin Husein al-Atthas Bungur, atas keindonesiaan mereka.

“Mereka adalah ulama-ulama besar yang sangat dihormati oleh dunia Islam. Dan yang istimewa adalah mereka bangga dengan identitas mereka sebagai orang Indonesia. Gelar Kwitang dan Bungur yang melekat pada keduanya cukup membuktikan hal itu,” terangnya.

Kebanggaan tersebut juga melekat dalam diri kakeknya, Habib Salim. Dalam lebih dari 150 karya tulisnya yang masih berbentuk manuskrip dalam perpustakaan tersebut, sosok ulama yang berasal dari Hadhramaut itu membubuhi namanya dengan al-Jawi al-Indunisi.

“Pada hampir semua karya tulisnya, beliau cantumkan nama beliau dan gelar keilmuan beliau. Tetapi, yang istimewa adalah gelar al-Jawi al-Indunisi selalu tertera di dalam karya tulis beliau sebagai jati dirinya, yakni orang Indonesia,” jelasnya yang langsung disambut riuh tepuk tangan.

Menurut Habib Ahmad, banyaknya ulama yang bangga dengan keindonesiaannya adalah salah satu dari sekian banyak kekayaan yang dimiliki oleh Negeri Zamrud Khatulistiwa ini. Hal itu sangat patut disyukuri.

Di antara kekayaan Indonesia adalah banyak ulama hebat serta banyaknya karya ilmiah yang sangat luar biasa. Ulama Nusantara bukanlah orang yang sembarangan. Mereka adalah orang-orang yang mencapai martabat yang tinggi di dalam keilmuan yang luar biasa,” tandasnya.

Maktabah Kanzul Hikmah tersebut diresmikan oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin didampingi oleh Muhammad Quraish Shihab dan Habib Jindan bin Novel bin Salim bin Jindan. (Syakir NF/Musthofa Asrori)
Bagikan:
Ahad 30 Juni 2019 23:30 WIB
Beda Kiai Cholil dan Gus Mus dalam Berceramah
Beda Kiai Cholil dan Gus Mus dalam Berceramah
Kiai Cholil dan Gus Mus. (Foto: bangkitmedia.com)
Jakarta, NU Online
Buah memang jatuh tak jauh dari pohonnya. Begitulah ungkapan yang tepat untuk duo kakak beradik, KH Cholil Bisri dan KH Ahmad Mustofa Bisri. Selain sebagai politisi yang pernah duduk di Senayan, keduanya juga dikenal oleh masyarakat sebagai penceramah kondang.

Tak bisa dinafikan lagi, kemahiran Kiai Cholil dan Gus Mus dalam berpidato tentu saja turun dan diilhami oleh sosok ayahandanya, KH Bisri Mustofa. Almaghfurlah Mbah Bisri merupakan sosok singa podium yang disegani banyak orang. Tak pelak, kehadirannya senantiasa ditunggu para jemaah pengajian di manapun tempat yang bakal dihadirinya.

Namun, meskipun keduanya lahir dari rahim yang sama, tentu saja memiliki berbagai sisi yang beda. Salah satunya dalam hal ceramah yang biasa keduanya lakoni. Adalah Ulil Abshar Abdalla, menantu KH Mustofa Bisri, yang mengungkapkan perbedaan keduanya itu dalam hal berceramah.

Saat diundang oleh Komunitas Musisi Mengaji (Komuji) Jakarta dalam acara Picnikustik, Gus Ulil diminta oleh moderator, Ustadz Ibnu Sahroji, untuk lebih dahulu memberikan penjelasannya tentang tasawuf dan konsep ikhlas. Namun, ia menolaknya dan meminta moderator untuk mempersilakan Habib Husein Jafar al-Hadar yang lebih dulu memaparkan perihal dua tema tersebut.

Moderator pun manut. Habib Husein dipersilakan dan langsung menjelaskan tasawuf dan ikhlas disertai analogi dan berbagai contohnya dalam acara yang dihelat di Twin House, Jalan Cipete Raya, Jakarta Selatan, Jumat (28/6) itu.

Selepas Habib Husein menghentikan pembicaraannya, moderator pun mempersilakan kembali Gus Ulil menyampaikan berbagai hal tentang dua tema tersebut. Namun, sebelumnya, lebih dulu menjelaskan alasannya memilih untuk mengambil waktu pemaparannya setelah Habib Husein.

“Saya ingin mengamalkan yang dikisahkan oleh Gus Mus, oleh mertua saya, oleh bapaknya istri saya,” kata suami Ienas Tsuroiya ini.

Gus Ulil mulai menceritakan kisah yang didengar dari mertuanya itu. Suatu hari, Gus Mus ditanya oleh seorang kiai dari Jawa Tengah perihal memilih datang lebih awal atau di akhir acara saat diundang untuk berceramah.

Datang lebih awal, jelas Gus Ulil, tentu akan mendengarkan serangkaian sambutan dari sipil hingga militer. Menyebut demikian langsung disambut gelak tawa para hadirin yang memadati halaman tempat acara. Sementara datang di akhir tinggal naik panggung langsung berceramah tanpa perlu mendengar rentetan pidato yang kerap kali membosankan itu, katanya.

Menjawab hal tersebut, Gus Mus menyebut ada dua mazhab. “Kata Gus Mus, ada dua mazhab,” ujarnya disambut derai tawa hadirin. “Mazhab saya dan mazhab kakak saya. Kakak saya itu artinya Kiai Cholil,” imbuh pengampu pengajian kitab Ihya Ulumiddin daring (online) itu. 

Mazhab Kiai Cholil, jelas Gus Ulil, datang menjelang naik panggung. Ayah Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor Yaqut Cholil Qoumas itu enggan mendengar pidato-pidato orang sebelumnya.

“Kalau saya datang lebih awal, naskah yang sudah saya siapkan bisa terganggu karena saya mendengarkan pidato-pidato orang sebelumnya. Nanti rusak semua. Tidak mau persiapan pidato saya dari rumah terganggu semua,” kata Gus Ulil menjelaskan alasan Kiai Cholil.

Hal tersebut berbeda dengan adiknya, yakni KH Mustofa Bisri yang lebih memilih senang datang lebih awal. “Kenapa? Karena saya gak pernah persiapan,” jelasnya yang sontak disambut ledakan tawa para hadirin yang terdiri dari berbagai kalangan itu.

Jadi, lanjut Gus Ulil, Gus Mus itu melakukan persiapan pidatonya itu dengan mendengarkan pidato sebelumnya. “Jadi saya mengikuti mertua saya,” kata pria asal Pati ini. (Syakir NF/Musthofa Asrori)

Ahad 30 Juni 2019 17:15 WIB
KPU Tetapkan Jokowi-Ma'ruf Amin Presiden-Wapres 2019-2024
KPU Tetapkan Jokowi-Ma'ruf Amin Presiden-Wapres 2019-2024
Presiden Jokowi dan Wapres Ma'ruf Amin tiba di Gedung KPU, Ahad (30/6) sore.
Jakarta, NU Online
Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI menetapkan Joko Widodo-KH Ma'ruf Amin sebagai presiden dan wakil presiden terpilih periode 2019-2024. Penetapan ini dilakukan dalam rapat pleno terbuka di Kantor KPU, Jakarta, Ahad (30/6) sore.

"Menetapkan pasangan calon presiden dan wakil presiden terpilih dalam pemilihan umum presiden dan wakil presiden tahun 2019 nomor urut 01 Joko Widodo dan dan KH Ma'ruf Amin," kata Ketua KPU RI Arief Budiman, sebagaimana diberitakan Kantor Berita Antara.

Arief membacakan perolehan suara masing-masing pasangan, yakni Jokowi-Ma'ruf memperoleh 85.607.362 suara atau 55,50 persen, sementara pasangan Prabowo-Sandiaga memperoleh 68.650.239 suara atau 44,50 persen.

Pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin tiba di Gedung KPU pada pukul 15.50 WIB. Jokowi tampak mengenakan atasan berwarna putih dan celana hitam, sementara Ma'ruf Ami memakai atasan putih serta sarung berwarna hijau.

Sebelumnya diberitakan, Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj menegaskan bahwa Joko Widodo dan KH Ma’ruf Amin merupakan pemimpin seluruh rakyat. Hal ini ia sampaikan pasca Mahkamah Konstitusi (MK) memutuskan perselisihan hasil pemilihan presiden 2019, Kamis (27/6) malam.

"Joko Widodo-Ma'ruf Amin pemimpin nasional, presiden seluruh rakyat Indonesia, bukan hanya presiden kelompok tertentu tapi seluruh rakyat Indonesia di bawah pimpinan presiden Jokowi dan wakil presiden Ma'ruf Amin," ujar Kiai Said.

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Tsaqafah Ciganjur, Jakarta Selatan ini mengajak kepada seluruh rakyat Indonesia, khususnya umat Islam untuk menunjukkan pada dunia bahwa demokrasi di Indonesia berjalan dengan baik dan dewasa.

"Kepada seluruh masyarakat Indonesia terutama umat Islam, mari kita tunjukkan pada dunia internasional bahwa kita umat Islam Indonesia sudah dewasa, sudah mengerti tentang berdemokrasi, berhasil menjalankan demokrasi dengan baik, dengan legowo dan bermartabat sehingga siapa pun pemenangnya itulah presiden kita, itulah wakil presiden kita," ujarnya. (Kendi Setiawan)


Ahad 30 Juni 2019 16:15 WIB
Hadiri Tasyakuran Pembebasan Petani Kendal, Gus Yahya Serukan Pesan Perjuangan
Hadiri Tasyakuran Pembebasan Petani Kendal, Gus Yahya Serukan Pesan Perjuangan
Alissa Wahid di acara syukuran petani Kendal, Jateng
Kendal, NU Online
Tiga tokoh Nahdlatul Ulama (NU) KH Yahya Cholil Staquf, Alissa Wahid, dan Kiai Imam Aziz menghadiri tasyakuran petani Desa Surokonto Wetan Pageruyung Kendal Jawa Tengah atas pembebasan Kiai Nur Aziz dan Mbah Rusmin, Sabtu (29/07).

Kiai Imam Aziz dan Mbah Rusmin sebelumnya di tahan (penjara) lebih dua tahun sejak Maret 2017, lantaran dianggap telah mengorganisir warga untuk memasuki kawasan hutan serta menggunakan kawasan hutan secara tidak sah sebagaimana diatur dalam Pasal 94 ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan. 

Padahal kawasan yang mereka masuki itu adalah tanah yang dikelola oleh masyarakat sejak tahun 1970. (Ahmad Rozali, nu.or.id, 10/01/2019)
.
Koordinator Nasional Gusdurian Alissa Wahid dalam sambutannya mengatakan, sangat bahagia atas dibebaskannya Kiai Nur Aziz dan Mbah Rusmin. 

Putri Presiden Keempat Indonesia ini juga bercerita, dulu Gus Dur pernah berkata padanya, bahwa dalam perjuangan, kita bukanlah tokoh dongeng penuh kepahlawanan, kita punya istri dan anak. Kita punya rasa takut. Tapi kita tetap harus berjuang melampaui ketakutan itu. 

"Pak aziz, Mbah Rusmin dan warga Surokonto Wetan telah mengajari seluruh warga Indonesia bagaimana memperjuangkan martabat dan keadilan dengan melampai rasa takut itu," lanjut perempuan yang juga menjabat sebagai Sekretaris Lembaga Kemaslahatan Nahdlatul Ulama (LKKNU) ini.

Senada dengan Alissa Wahid, Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Kiai Imam Aziz mengatakan, bahwa perjuangan Kiai Nur Aziz dan warga Surokonto Wetan itu benar. "Kita mendukung karena ada landasan hukumnya. Sekarang bagaimana kita berjuang supaya warga mendapatkan sertifikat tanah," kata Kiai Imam Aziz.

Namun, Kiai Imam Aziz juga mengatakan, perjuangan ini tidaklah berarti kita punya musuh. "Kita tak punya musuh di sini, Undang-undangnya sudah benar, hanya saja orang atau institusi yang salah menafsirkannya," jelas Imam Aziz.

Perihal perjuangan yang belum selesai ini, Katim 'Am PBNU Kiai Yahya Cholil Staquf yang juga hadir mengatakan bahwa dalam berjuang ada sikap dan langkah yang perlu diperhatikan.

Menurut Kiai yang juga menjabat sebagai Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) ini, masyarakat harus memiliki azam atau cita-cita yang halal. Kalau azam  itu berhubungan dengan orang lain, harus bisa saling mengerti. Dalam berjuang juga harus mengerti bagiannya masing-masing.

"Ada bagian yang menerima aduan. Ada bagian yang teriak-teriak, ada pula bagian yang glenak-glenik (Lobi, red). Dan jangan memaksa yang bukan bagiannya," kata beliau dengan nada humor.

Kiai Yahya juga menekankan, bahwa di sini tidak ada musuh, semuanya saudara, hanya keinginannya berbeda-beda. 
"Yang paling mendasar, semua yang terjadi itu takdir dari Allah. Karena takdir itu diketahui kalau sudah terjadi, makanya kita wajib ikhtiar dan berprasangka baik kepada Allah," lanjut kiai yang juga akrab dipanggil Gus Yahya.

Sebelum mengakhiri pidatonya, Gus Yahya mengajak warga untuk perbanyak baca shalawat kepada Nabi Muhammad. 
“Shalawat itu ampuh. Saya sudah membuktikannya. Bisa Anda baca shalawat setelah shalat dua ratus kali, jadi sehari seribu kali. Paling-paling itu hanya tiga menit,” pungkas Gus Yahya.

Acara ini dihadiri puluhan warga Surokonto Wetan, pengurus NU Surokonto Wetan dan Pageruyung, Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Semarang, Sayogjo Institute dan Front Nahdliyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA). (Zaim/Muiz)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG