Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download
ANJANGSANA ISLAM NUSANTARA

Pendiri Pesantren Sirnamiskin Pembawa NU ke Tanah Priangan

Pendiri Pesantren Sirnamiskin Pembawa NU ke Tanah Priangan
Pengasuh Pondok Pesantren Sirnamiskin KH Ahmad Saiful Rijal (Foto: NU Online/Syakir NF)
Pengasuh Pondok Pesantren Sirnamiskin KH Ahmad Saiful Rijal (Foto: NU Online/Syakir NF)
Bandung, NU Online
Pendiri Pondok Pesantren Sirnamiskin KH Ahmad Dimyathi merupakan salah seorang pembawa pertama Nahdlatul Ulama di Tanah Priangan.

Hal itu disampaikan oleh cucunya KH Ahmad Saifur Rijal kepada para pengajar Fakultas Islam Nusantara (FIN) Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) saat sowan di Pondok Pesantren Sirnamiskin, Jalan KH Abdul Wahid Hasyim, Bandung, Jawa Barat, Selasa (14/1).

Pasalnya, katanya, Kiai Dimyathi mengaji kepada Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari setelah mesantren di Pondok Pesantren Sukamiskin Bandung yang diasuh oleh KH Ahmad Dimyathi dan Pondok Pesantren Manonjaya Tasikmalaya di bawah asuhan Ajengan Aon.

Pengasuh Sirnamiskin, kata cucunya, memang tafaulan atas nama gurunya. Ia sendiri mengaku tidak mengetahui nama asli kakeknya. Konon, Kiai Dimyathi produktif menulis saat di Manonjaya. Namun, karyanya sampai saat ini belum ditemukan keberadaannya.

Sepulang dari Tebuireng, Kiai Dimyathi dibekali dua hal oleh Hadratussyekh, yakni pohon trembesi dan jin bernama Abdullah. Saat ini, pohon pemberian Kakek Gus Dur itu sudah ditebang. Namun, ada pohon sejenis yang dihasilkan oleh pohon lamanya yang sampai saat ini masih kokoh berdiri di komplek pesantren.

Pengajar FIN Unusia Syamsul Hadi menyebutkan bahwa pemberian pohon itu sebetulnya isyarat Hadratussyekh untuk menjaga alam. Namun, menurutnya, perlu penelusuran lebih lanjut terkait makna atas simbol dari jenis pohon yang diberikan.

Ia mencontohkan pohon sawo yang tertanam dekat masjid pesantren sebagai tanda bahwa kiai di tempat tersebut merupakan pasukan Pangeran Diponegoro. "Sawo itu kan berasal dari bahasa Arab shawwu yang artinya rapatkan barisan," jelasnya.

Di samping itu, Kiai Dimyathi Sirnamiskin juga menerima surat dari Hadratussyekh yang hanya bisa dibaca dengan alat penerangan patromak.

Saat awal-awal berdakwah dan mendirikan pondok, Kiai Dimyathi ini selalu adu bela diri mengingat saat itu masih banyak masyarakat yang belum mengenal Islam. Perjanjiannya, siapa yang kalah wajib ikut pemenangnya.

Namun, ia tidak pernah turun laga karena selalu mengandalkan santrinya terlebih dahulu yang jago bela diri dan selalu memenangkan adu bela diri itu. Saat ini, Pondok Pesantren Sirnamiskin diteruskan oleh menantunya, yakni KH Amar Soleh dan anak-anaknya.

Pewarta: Syakir NF
Editor: Fathoni Ahmad
BNI Mobile