NU Penjaga Kerukunan Umat sejak Indonesia Awal

NU Penjaga Kerukunan Umat sejak Indonesia Awal
Ustadz Yusuf Suharto menjelaskan dinamika sosial-kebangsaan-keagamaan di hadapan sedikitnya 260 peserta Kursus Banser Lanjutan (Susbanlan) yang diadakan Satkorcab Banser Kota Surabaya di Pesantren Al-Fatih, Surabaya, Sabtu, (22/2).
Ustadz Yusuf Suharto menjelaskan dinamika sosial-kebangsaan-keagamaan di hadapan sedikitnya 260 peserta Kursus Banser Lanjutan (Susbanlan) yang diadakan Satkorcab Banser Kota Surabaya di Pesantren Al-Fatih, Surabaya, Sabtu, (22/2).
Jakarta, NU Online
Komitmen kebangsaan Nahdlatul Ulama (NU) senantiasa teruji dari masa ke masa. Untuk kemaslahatan bangsa, NU menolak adanya Negara Islam Indonesia pimpinan Kartosuwiryo. Tetapi NU juga menolak Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI).

Dalam hal yang sama NU adalah organisasi yang menyerukan persatuan antarorganisasi Islam. Kiai Hasyim Asy'ari mendukung berdirinya Majelis Islam A'la Indonesia (MIAI) pada 1938 yang kemudian dipimpin Kiai Wahid Hasyim. Pada zaman Jepang MIAI dilebur menjadi Majelis Syuro Muslimin (Masyumi) dipimpin sendiri oleh KH Hasyim Asy'ari.

Demikianlah Ukhuwah Islamiyyah didukung oleh Nahdlatul Ulama. Sementara Kiai Hasyim Asy'ari meninggal pada 1947.

Namun ada perubahan pada tahun 1952. Masyumi menandatangi Mutual Security Act (MSA) dengan Amerika Serikat. Karena hal itu dan juga ketidakcocokan secara politik, NU keluar dari Masyumi. Sementara PSII lebih mendahului.

Kemudian NU memelopori pendirian Liga Muslimin Indonesia yang melibatkan Perti dan PSII.

Liga Muslimin Indonesia digagas NU, dengan melibatkan Perti dan PSII. Ia adalah wadah persatuan atau badan federasi untuk menjalin kerja sama perjuangan umat Islam. Masyumi yang dipojokkan karena terbukti memberontak, kemudian mau bergabung ke Liga Muslimin Indonesia.

"Pada tahun 1958 para tokoh Masyumi melakukan pemberontakan dengan mendirikan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), dan akhirnya mereka ini dikucilkan," ujar Yusuf Suharto di hadapan sedikitnya 260 peserta Kursus Banser Lanjutan (Susbanlan) yang diadakan Satkorcab Banser Kota Surabaya di Pesantren Al-Fatih, Surabaya, Sabtu, (22/2).

"Lalu mereka ini mau bergabung dengan Liga Muslimin Indonesia, yang dipelopori NU, Perti dan PSII. NU mau, asal Masyumi mengutuk pemberontakan PRRI. Dalam proses berpikir itu kemudian Masyumi dibubarkan," kata Ustadz Yusuf Suharto.

Menurut Yusuf, inilah komitmen Nahdlatul Ulama. Bagi NU, NKRI ini sudah bagian dari kewajiban menegakkan kepemimpinan nasional.
 

Pewarta: Alhafiz Kurniawan
Editor: Kendi Setiawan
BNI Mobile