Pesantren Jangan Tergesa Terapkan Kenormalan Baru, Ini yang Perlu Diperhatikan

Pesantren Jangan Tergesa Terapkan Kenormalan Baru, Ini yang Perlu Diperhatikan
Ketua PCNU Jombang, KH Salmanudin Yazid. (Foto: Istimewa)
Ketua PCNU Jombang, KH Salmanudin Yazid. (Foto: Istimewa)
Jombang, NU Online
Kebijakan New Normal atau kenormalan baru yang dibuat oleh pemerintah masih terus jadi perbincangan pesantren. Pesantren dimungkinkan akan mengalami kesulitan apabila kebijakan tersebut harus segera diterapkan secara menyeluruh.
 
Kehidupan pesantren cukup berbeda dengan tatanan kehidupan masyarakat pada umumnya. Sebut saja salah satunya tempat atau kamar santri di pesantren yang kadang dihuni oleh lebih dari 10 santri. Kondisi ini tentu otomatis sudah tidak bisa melakukan physical distancing (jaga jarak) sebagaimana yang diharapkan pada kebijakan kenormalan baru.
 
Belum lagi para santri yang sampai hari ini banyak yang belum kembali ke pesantren setelah sebelumnya 'terpaksa' harus dipulangkan sementara, guna menjaga kekhawatiran akan wabah Covid-19 makin meluas. Dan untuk kembali lagi ke pesantren, mereka harus dipastikan sehat, juga tidak dalam keadaan terpapar Covid-19.
 
Kondisi ini tentu memerlukan usaha medis untuk memastikan kesehatan para santri. Karenanya perlu ada perhatian pemerintah melalui kebijakan-kebijakan yang diambil, terutama dari aspek pendanaan untuk membantu mengecek kesehatan santri secara menyeluruh.
 
inilah beberapa poin yang disampaikan Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Jombang, Jawa Timur KH Salmanudin Yazid dalam diskusi virtual yang diselenggarakan Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PKB Jombang.
 
"Karena itu, sebaiknya tidak prlu tergesa-gesa untuk melakukan New Normal di pesantren, masih perlu digali secara mendalam dan dipikirkan dengan sangat matang, jangan sampai di kemudian hari menimbulkan masalah baru, terutama di pesantren," jelasnya, Sabtu (30/5) malam.
 
Dalam pandangannya, situasi sekarang ini erat hubungannya dengan kepercayaan masyarakat kepada pesantren. Jika penerapan kenormalan baru di lingkungan pesantren ini nantinya justru menambah kasus positif Covid-19 di Indonesia, maka perlahan orang tua, bahkan publik luas, menaruh kekhawatiran yang berlebihan akan keberadaan pesantren. Bahkan paling buruk mereka tidak lagi percaya akan manajemen pesantren.
 
"Yang paling kita takutkan kalau kita tidak memikirkan secara matang, khawatir nanti terjadi klaster baru yaitu klaster pesantren, dan kalau ini terjadi pasti pesantren kehilangan kepercayaan di mata masyarakat," kata Pengasuh Pondok Pesantren Babussalam Kalibening, Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang, Jawa Timur
 
Karena itu, lanjut dia, setidaknya ada tiga hal yang perlu diperhatikan oleh masing-masing pesantren sebelum akhirnya menetapkan New Normal.
 
Pertama terkait edukasi tentang protokol kesehatan akan Covid-19. Dalam hal ini pesantren perlu melakukan sosialisasi dan edukasi secara menyeluruh di lingkungan pesantren.
 
"Edukasi yang menyeluruh kepada santri, guru dan semua ustaz, karena sampai saat ini belum selesai. Di Jombang itu masih sangat minim terkait edukasi ini," ujarnya.
 
Yang kedua, imbuhnya, pesantren harus memikirkan teknik kembalinya santri ke pesantren. Menurutnya hal ini paling penting, karena akan menentukan terhadap penambahan atau tidaknya klaster pasien positif Covid-19.
 
"Saya yakin kalau santri semua sehat kembali ke pesantren, maka orang tua harus percaya bahwa pengelola pesantren akan memperhatikan santri sebagaimana anaknya sendiri. Pesantren akan berusaha semaksimal mungkin untuk menjaga santrinya," ucapnya.
 
Kemudian yang ketiga, upaya pesantren dalam menyambut New Normal hendaknya terus dipersiapkan. "Kesiapan pesantren harus dimonitor terus, karena masing-masing pesantren tidak akan sama kondisinya," ungkapnya.
 
Sementara itu, Ketua DPRD Jombang, H Mas'ud Zuremi mengaku akan mendiskusikan terkait situasi-situasi yang ada di pesantren dengan Bupati Jombang, Hj Mundjidah Wahab sebelum New Normal diaplikasikan di Jombang. Di samping itu, politisi PKB ini akan membincangkan terkait kepastian dana yang nanti dipakai untuk mendukung kebijakan New Normal di Jombang, khususnya untuk pesantren.
 
"Saya kira dalam waktu dekat harus segera ketemu dengan bupati membahas semua masukan-masukan para kiai pesantren. Terkait dukungan pemerintah secara pendanaan juga akan kami bahas," tuturnya.
 
Pewarta: Syamsul Arifin
Editor: Muhammad Faizin
BNI Mobile