HARLAH KE-17 NU ONLINE

Mafindo: Hoaks Senjata Efektif untuk Manipulasi Emosi Masyarakat

Ilustrasi hoaks. (NU Online)
Ilustrasi hoaks. (NU Online)
Ilustrasi hoaks. (NU Online)

Jakarta, NU Onine

Kabar bohong atau (hoaks) yang kerap tersebar di media sosial selalu memberikan dampak tersendiri di masyarakat, apalagi jika kontennya menyangkut ideologi, agama, ras, dan politik. 


Hoaks diyakini mampu memanipulasi emosi masyarakat sehingga setiap orang merasa terancam, cemas, khawatir bahkan saling membenci dan hilangnya kepercayaan seseorang terhadap sesuatu hal.  


Presidium Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo), Anita Wahid, menuturkan, sampai saat ini hoaks menjadi senjata paling efektif untuk memanipulasi emosi masyarakat. Sebab, kata dia, setiap manusia memiliki perasaan dan hubungan manusia di dunia seluruhnya dipengaruhi  oleh emosi atau perasaan tersebut. 


Menurut putri ketiga Gus Dur ini, target hoaks adalah mereka yang tercantum pada isi informasi bohong yang tersebar. Namun, yang paling berbahaya target hoaks adalah kalangan masyarakat luas. 


Biasanya, hoaks dibuat agar masyarakat meyakini mengenai informasi bohong yang disebarkan di internet dan media sosial. 


“Misalnya NU yang disbut begini begitu, nah itu berarti target hoaks. Terus Pilpres 2019 kemarin, Pak Jokowi dan Prabowo paling sering dibicarakan, karena banyak hoaks mengandung nama mereka,” tutur Anita Wahid pada Diskusi Daring bertajuk Tantangan Media di Tengah Industri Manipulasi Informasi, Kebencian dan Kepentingan Politik, Jumat (10/7) dalam rangka Harlah ke-17 NU Online.


Anita menegaskan, jika informasi bohong hanya diterima oleh individu artinya tidak dikonsumsi oleh masyarakat luas dan tidak menyebar setiap waktu, mungkin pengaruhnya tidak begitu besar.


Namun, selama ini hoaks menyentuh semua lapisan masyarakat pengguna media sosial setiap harinya. Akhirnya, hal itu mempengaruhi tingkat kepercayaan masyarakat seperti kasus Pilpres 2014 dan 2019.  


Selain itu, penyebaran hoaks yang serba cepat dan mudah diakses serta biayanya yang murah telah memberikan dampak yang negatif secara langsung. 


Menurut Anita, jika deras informasi hoaks terus mengalir dan diterima masyarakat maka yang muncul adalah menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap objek yang dibicarakan dalam konten hoaks.


“Kalau kita bicara soal emosi yang dimainkan hoaks. Pertama adalah emosi dalam diri kita, ketika ada ancaman terhadap keselamatan dan orang-orang yang kita sayang. Ketika kita merasa ada ancaman emosi yang muncul khawatir, takut, cemas, was-was, emosi ini mudah diterima,” tuturnya. 


Selain kepada diri kita, lanjut Anita Wahid, hoaks paling banyak ditemukan, yakni hoaks yang menyerang agama, ideologi, dan ras masyarakat Indonesia.


Kata dia, karena hoaks yang diterimanya, masyarakat  terdorong dan tersentuh untuk melakukan sesuatu termasuk sikap marah dan benci yang akan terjadi dengan cepat.

 

Diskusi ini juga menghadirkan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) H Robikin Emhas, Pemimpin Redaksi NU Online Achmad Mukafi Niam, Pemimpin Redaksi Harian Kompas Sutta Dharmasaputra, Pemimpin Redaksi Tirto.id Sapto Anggoro, dan Pemimpin Redaksi Narasi TV Zen RS.


Pewarta: Abdul Rahman Ahdori

Editor: Fathoni Ahmad

BNI Mobile