IMG-LOGO
Trending Now:
Pustaka

Mbah Hasyim Ideolog Sunni Indonesia

Senin 20 Desember 2010 11:23 WIB
Bagikan:
Mbah Hasyim Ideolog Sunni Indonesia
Judul Buku: Pemikiran KH. Hasyim Asy’ari Tentang Ahl Al-Sunnah wa Al-Jamaah
Penulis: Achmad Muhibbin Zuhri
Penerbit: Khalista dan LTN PBNU
Cetakan I: Desember 2010
Tebal: XXVI+ 328 Halaman
Peresensi: Fathul Qodir *

Fakta jika mayoritas umat Islam di Indonesia adalah pengikut ajaran Sunni atau ahlussunnah wal jamaah (aswaja) tidak dapat dipungkiri. Keberhasilan itu tidak bisa dilepaskan dari peran Nahdlatul Ulama yang sedari awal berdiri meneguhkan diri sebagai pengamal dan pengawal ajaran ahlussunnah wal jamaah. Diakui ataupun tidak, inklusifitas ajaran Nahdhatul Ulama yang ditransformasikan dari nilai-nilai aswaja telah memberikan kontribusi besar terciptanya wajah moderat dan fleksible Islam di Indonesia.<>

Bangsa Indonesia yang multikultur serta kaya akan ragam tradisi, tidak menghalangi Islam ala NU membumi. Mengacu pada teori Islam Kolaboratif Prof. Nur Syam, fleksibilitas doktrin sunni mampu berkolaborasi dengan tradisi-tradisi non Islami yang telah mapan tanpa menghilangkan nilai-nilai ajaran Islam yang bersifat absolut.

Fenomena kenduri, tahlilan, perayaan maulid, peringatan tiga hari, tujuh hari serta seratus hari pasca kematian, adalah bukti bentuk metamorfosa nilai-nilai ajaran Islam dengan budaya masyarakat Indonesia pra Islam. Sehingga, keberadaan Islam dapat diterima menjadi agama mayoritas masyarakat Indonesia tanpa resistensi yang berarti.

Dalam kajian historis, Walisongo sangat berjasa menanamkan ajaran ahlussunnah di ranah Nusantara. Namun, NU sebagai organisasi sosial keagamaan memiliki andil yang signifikan dalam mempertahankan ajaran ideologi Sunni. Menjamurnya organisasi keagamaan yang mengusung purifikasi dan pembaruan Islam dalam dekade awal abad 20 secara sistemik dan masif melakukan penggerogotan. Di sinilah NU berperan aktif melakukan pendampingan serta pengawalan terhadap tradisi Sunni sebagai way of life mayoritas umat Islam Indonesia.

Satu hal pokok yang tidak boleh dilupakan bahwa wajah Sunni Nahdlatul Ulama sangat dipengaruhi oleh paradigma Aswaja Hadratus Syeikh Hasyim Asy’ari. Tidak berlebihan jika KH Hasyim Asy’ari ditahbiskan sebagai ideolog Sunni Indonesia. Penelitian terbaru tentang pemikiran tokoh pendiri organisasi sosial keagamaan terbesar di dunia ini, Dr Achmad Muhibbin Zuhri menemukan corak Sunni KH Hasyim Asy’ari sangat khas dan tidak sebangun persis dengan konstruksi Sunni era awal, meskipun dalam banyak hal tetap mencerminkan pola Sunni.

Sunni Partikular ala Mbah Hasyim

Ahlussunnah wal jamaah
sebagai ideologi tidak dapat dilepaskan dari normatifitas ajaran yang telah digariskan pengagasnya. Namun, dalam tataran praksis, normatifitas ajaran ahlussunnah tersebut tidak bisa melepaskan diri dari proses dialektika dengan dinamika sosio religious yang mengelilingi. Jika entitas sunni era awal pembakuan sebagai counter ideologis terhadap Mu’tazilah dan Jabariah, serta counter politic terhadap syi’ah. Hal ini berbeda dalam konteks di mana Mbah Hasyim hidup.

Meskipun bangunan pemikiran Mbah Hasyim dipengaruhi oleh pemikiran ulama abad pertengahan dan klasik, namun dekade Mbah Hasyim identik dengan era pertarungan antara entitas Islam Tradisional yang diwakili oleh masyarakat pesantren dan mayoritas umat Islam Indonesia yang berhaluan sunni, berhadapan dengan entitas Islam puritan dan pembaharu yang dikelompokkan dalam Islam Modernis. Uniknya, kelompok Tradisionalis maupun Puritan-Modernis sama-sama mengaku sebagai entitas sunni dan secara geneologis bertemu pada simpul Ahmad bin Hanbal pendiri Madzhab Hanbali yang dikenal otoritasnya sebagai ahli hadist.

Konstruksi naratif pemikiran Mbah Hasyim dapat dipandang sebagai salah satu “counter discource” terhadap mainstream pemikiran modernis dan puritan. Yakni kelompok yang menolak secara tegas pola bermadzhab dan taqlid serta melarang bid’ah atau kreatifitas dalam ibadah yang secara eksplisit tidak terdapat acuan dalam nash Al-Qur’an maupun Al-Hadis.

Pandangan Mbah Hasyim mengenai tawassul, istighatsah, syafa’at, kewalian, maulid, tarekat, dalam beberapa kitab karangannya merupakan wacana tanding pemikiran kelompok Islam Puritan yang dikembangkan oleh Muhammad bin Abdul Wahhab pendiri Aliran Wahhabi. Sedangkan isu-isu pembaruan yang dimunculkan oleh kalangan Modernis pengikut pemikiran Jamaluddin al-Afghani, Rasyid Ridha dan Muhammad Abduh, direspon oleh Mbah Hasyim dalam pembahasan seputar ijtihad, madzhab, taqlid, talfiq, sunnah dan bid’ah.

Menurut Muhibbin, deskripsi pemikiran keagamaan Kiai Hasyim di atas berimplikasi teoritis terhadap konsep Sunnisme. Mbah Hasyim dapat diintrodusir sebagai “sunni partikular”, yaitu paham ahlussunnah wal jamaah yang telah berdialog dengan dinamika keagamaan di Indonesia, khususnya dialektika modernis-tradisionalis pada abad ke-20. (hal. 265)

Sebagai bagian dari komunitas Nahdliyin, penulis telah berhasil menggali dengan mendalam tentang konstruksi pemikiran KH. Hasyim Asy’ari. Tokoh pendiri Nahdlatul Ulama yang hingga saat ini menjadi ikon Islam subtantif dan moderat. Buku ini merupakan hasil disertasi yang diterbitkan, sehingga alur penulisannya sistematis dan analisanya mendalam. Oleh penulis, pembaca diajak mengarungi pemikiran ahlussunnah KH. Hasyim Asy’ari secara runtut dan detail. Mulai dari kajian embrio munculnya pemikiran Sunni, konsolidasi, pelembagaan ideologi sunni era abad pertengahan, hingga dialektika sunni dengan realitas sosio-religius yang melingkupinya dalam berbagai dekade.

Tidak kalah menarik, uraian tentang latar belakang intelektual yang membentuk paradigma Sunni KH Hasyim Asy’ari serta bagaimana pendiri Nahdlatul Ulama ini berusaha mendialektikakan mainstream sunni dengan realitas sosio-religious masyarakat Indonesia era awal abad 20. Sehingga, tampak jelas kepiawaian Mbah Hasyim dalam merumuskan doktrin-doktrin ahlussunnah dari nash Al-Qur’an dan Al-Hadis yang pada akhirnya memunculkan bentuk sunni yang khas Indonesia.

Studi dalam buku ini, selain dapat memberikan referensi bagi usaha-usaha reaktualisasi ideologi, juga berguna menambah khazanah keilmuan tentang Sunni Partikular, yaitu ekspresi ahlussunnah wal jamaah pada dimensi ruang dan waktu tertentu. Selain itu, buku ini merupakan wujud usaha aktualisasi sekaligus kontekstualisasi ahlussunnah wal jamaah yang bercorak inklusif, moderat dan fleksible dalam bersinggungan dengan kesejarahan umat. Walhasil, apresiasi yang besar layak diberikan kepada penulis, sebab isi buku ini menambah kekayaan tafsir tentang ahlussunnah di saat gempuran ideologi “kaca mata kuda”  Islam puritan yang cenderung eksklusif menguncang kedamaian dan kesantunan dalam beragama dan keberagamaan. Wallahu a’lam.....

* Staff Pengajar Pesantren Mahasiswa Luhur Al-Husna Surabaya. Alumni Pesantren Lirboyo 2004
Bagikan:
Senin 13 Desember 2010 10:35 WIB
Membongkar Sejarah Santri Yang Tersinggirkan
Membongkar Sejarah Santri Yang Tersinggirkan
Judul: Resolusi Jihad Paling Syar’i, Biar Kebenaran Yang Hampir  Setengah   Abad yang Dikaburkan Catatan Sejarah Terbongkar
Penulis: Gugun El-Guyanie
Penerbit: Pustaka Pesantren, Yogyakarta
Cetakan: I, 2010
Tebal: xiv+128 hal.
Peresensi: Ahmad Shiddiq *

Para ulama yang tergabung dalam Jam’iyyah NU, tentu memiliki pandangan dan ijtihad terhadap seluruh persoalan agama, termasuk dalam menafasirkan makna jihad secara kontekstual. Diskursus tentang jihad selalu menyita perhatian dari berbagai kalangan, baik Islam sendiri atau pun non muslim. Bagi kalangan Islam, ajaran jihad merupakan sesuatu yang inheren, sehingga setiap muslim secara otomatis adalah seorang mujahid. Dalam merespon situasi yang membahayakan kedaulatan, PBNU kemudian membuat undangan kepada konsul NU di seluruh Jawa dan Madura.<>

Hadhratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari  langsung memanggil kiai Wahab Hasbullah, kiai Bisri Samsuri, dan para kiai lainnya untuk mengumpulkan para kiai se Jawa dan Madura, atau utusan cabang NU-nya untuk berkumpul di Surabaya, tepatnya di Kantor PB Ansor Nahdlatul Oelama (ANO) di Jl. Bubutan VI/2, bukan di kantor PBNU yang saat itu berada di jalan Sasak nomor 23 Surabaya. Hingga memutuskan hal penting bagi bangsa dan negara, yang dikenal Revolusi Jihad tanggal 22 Oktober. Lalu pertanyaannya kenapa dalam lembaran sejarah perjuangan kaun santri lenyap begitu saja.

Buku yang yang ditulis oleh Gugun El- Guyanie ini, sangat penting untuk diketahui bangsa yang sudah lebih setengah abad merdeka. Karena, Pertama, Resolusi Jihad yang perankan NU termajinalisasi bahkan terhapus dari memori sejarah bangsa. Tentu karena pergulatan dan manuver politik, ada upaya-upaya dari kelompok tertentu yang ingin menggusur NU dari dinamika percaturan politik kebangsaan.

Mengapa heroisme terjadi di Surabaya? Kota yang menjadi simbol kota santri, ibu kota NU, dan di ibu kota tersebut pula Jam’iyah NU didirikan tahun 1926? Mengapa dalam pembahasan Resolusi Jihad ini perlu mengungkap setting geosospol dan geokultur. Karena kota Surabaya memiliki khas yang unik, baik dari segi politik, budaya, maupun religiusitasnya. Dengan demikian, akan ditemukan titik sinkron antara Surabaya dan heroisme jihad dari para kiai dan santri dalam membela tanah air. Surabaya kota pesisir timur pantai utara Jawa yang terus berubah, sekarang telah menjadi sebuah metropolitan, dengan proses dan dinamika yang muncul didalamnya.

Maka wacana Resolusi Jihad NU harus dihidupkan kembali, direkontruksi dan tidak ditempatkan pada upaya politisasi sejarah. Tanpa Resolusi Jihad, tak akan ada NKRI. Kedua, pada lingkup internal, banyak kader-kader Muda NU yang tidak mengerti rangkaian sejarah Resolusi Jihad. Hal ini dapat dibuktikan, ingatan masyarakat tentang Resolusi Jihad NU 1945 yang memiliki mata rantai dengan peristiwa 10 November di Surabaya semakin punah. Jangankan masyarakat umum, generasi penerus NU dari pusat sampai ranting, Ansor, Fatayat NU, IPNU-IPPNU pun banya yang tidak mendapatkan transfer sejarah mengenai resolusi penting ini.

Dari fatwa Resolusi Jihad ini, yang keluarkan oleh NU, umat menyambut seruan tersebut dengan gegap gempita. Dimana-mana, peperangan berkobar. Puncaknya, pada pagi, dari ujung-ujung terjauh pulau Jawa, para mujahid berdatangan memenuhi kota Surabaya. Pekik takbir pun membahana, menggoncang jiwa-jiwa musuh yang durjana. Resolusi Jihad telah menggerakkan perang paling kolosal yang pernah ada dalam sejarah Nusantara, yang kemudian terkenal dengan peristiwa 10 November 45. Namun, sejarah tidak merekam perjuangan kaum santri dengan Resolusi Jihadnya. Artinya bahwa kontribusi NU yang begitu besar dalam mempertahankan kedaulatan NKRI ternyata dipandang sebelah mata oleh pemerintah dari zaman kemerdekaan sampai hari ini.

Seandainya saja Resolusi Jihad tidak ada, juga laskar-laskar yang berafilasi dengan  NU seperti Hizbullah dan Sabilillah bersama laskar-laskar rakyat lain tidak lahir untuk menentang sekutu, mungkin Indonesia yang merdeka tidak bisa dinikmati sampai hari ini. Hal inilah yang seharusnya menjadi perhatian para pengambil kebijakan, juga para sejarawan untuk memposisikan peran NU secara proporsional. Saatnya sejarah harus menampilkan peristiwa-peristiwa yang sebenarnya terjadi, bukan menutupi, mengurangi atau menambahi, memanipulasi atau mengkomoditinya.

Munculnya hari pahlawan, kota pahlawan, dan peristiwa 10 November serta para pahlawan yang gugur adalah bagian dari roh Resolusi Jihad yang ditiupkan oleh para kiai dan santri. Berapa pengorbanan jiwa dan raga yang harus dibayar oleh mereka untuk membayar kecintaannya pada bangsa, tetapi apa balasan pemerintah bagi mereka (warga NU)? Meminggirkan pendidikan pesantren, menuduh pesantren sarang teroris, menyinggirkan alumni pesantren dari dunia kerja?. Pada hal, dengan Resolusi Jihad berdampak pada dua hal penting terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia. Pertama, dampak politik, lahirnya resolusi jihad, secara politik meneguhkan kedaulatan Indonesia sebagai negara bangsa (nation state) yang merdeka dari penjajahan. Meski setelah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, Indonesia selalu berdarah-darah untuk mengahadapi masuknya tentara sekutu, agresi militer Belanda pertama dan kedua. Kedua, dampak militer. Resolusi jihad, dengan tampilnya lascar Hizbullah dan sabilillah, berkontribusi besar melahirkan tentara nasional. Tanpa laskar-laskar tersebut, yang terkomando dalam Resolusi Jihad untuk mempertahankan kemerdekaan, rekrutmen tentara nasional akan mengalami kesulitan. (hal, 102)

Resolusi Jihad NU telah mengobarkan jiwa dan raga para pejuangnya. Namun sampai hari ini, banyak generasi bangsa yang tidak mengenal tragedy bersejarah itu, bahkan generasi NU sendiri. Hal ini dikarenakan, para sejarawan nasional, atas kepentingan penguasa tidak  mencatat Resolusi jihad NU dalam tinta emas sejarah. Oleh karena itu, sudah saatnya sejarah harus berbicara jujur, untuk mengajarkan kepada generasi bangsa bahwa Resolusi Jihad NU adalah pengorbanan yang besar dari para kiai dan santri yang setia, dan mencintai tanah airnya. Orang-orang pesantren selalu meyakini hadits Rasullah bahwa cinta tanah air adalah sebagian dari iman.

Untuk itu, buku ini penting dibaca oleh generasi bangsa, mahasiswa, akademisi (sejarawan), warga dan pengurus NU dari berbagai level, agar bangsa ini bisa menghargai jasa pahlawan yang telah mengorbankan jiwa-raganya, demi terwujud kemerdekaan yang hakiki dari tangan penjajah. Dengan demikian, bangsa ini tidak seperti kata pepatah “air susu di balas air tubah”. Waallahu a’lamu bi al-shawab.

*) Santri Pesantren Luhur Al-Husna Surabaya
Senin 6 Desember 2010 10:37 WIB
Membuktikan Otentisitas al Qur’an
Membuktikan Otentisitas al Qur’an
Judul Buku: Sejarah al Qur’an: Verifikasi tentang Otentisitas al Qur’an
Penulis: Prof. Dr. H. A. Athaillah, M.Ag.
Penerbit: Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Cetakan: Pertama (1), Juli 2010
Tebal: 382 halaman
Harga : Rp 55.000,-
Peresensi: Otong Suhendar*

Al Qur’an adalah kitab suci umat Islam dan sekaligus sebagai sumber ajaran yang harus diimani dan diaplikasikan dalam setiap sendi kehidupan. Al Qur’an juga merupakan sumber inspirasi bagi setiap orang yang mampu menyelami makna-makna yang terkandung di dalamnya.
<>
Sebelum al Qur’an diturunkan, di bumi ini sudah terdapat beberapa kitab suci yang menjadi pedoman hidup manusia, seperti Taurat, Zabur, dan Injil. Berbeda dengan ketiga kitab suci tersebut yang hanya diperuntukan bagi umat tertentu, al Qur’an diperuntukan untuk seluruh umat manusia. Jadi tidaklah mengherankan, selama lebih dari 14 Abad al Qur’an tetap terjaga otentisitasnya, karena perhatian kaum muslim terhadap al Qur’an ini sungguh luar biasa.

Berbagai upaya telah dan akan terus dilakukan umat Islam untuk memelihara otentisitas al Qur’an, baik dengan hafalan maupun dengan tulisan. Upaya tersebut telah berlangsung sejak Nabi Muhammad saw masih hidup sampai sekarang, sehingga kemurnian al Qur’an tetap sama seperti awalnya.

Prof Dr HA Athaillah, M.Ag. melalui bukunya yang berjudul “Sejarah al Qur’an; Verifikasi tentang Otentisitas al Qur’an” mengajak para pembacanya untuk melihat sisi otentisitas al Qur’an melalui historisnya sekaligus menolak pandangan kaum orientalis dan sebagian umat Islam sendiri yang meragukannya.

Menurut penilaian mereka (seperti Abraham Geiger, Richard Bell), al Qur’an itu bukanlah wahyu Allah, melainkan hasil karya Muhammad saw yang sumbernya berasal dari berbagai pihak. Di antaranya ada yang berasal dari orang-orang Yahudi dan Nasrani. Di samping itu, mereka menggugat keabsahan mushaf ‘Utsmani dan otentisitasnya. Sebagaimana yang dikatakan John Wonsbrough; Teks al Qur’an baru menjadi baku setelah tahun 800 M., dan kitab yang diyakini oleh umat Islam selama ini hanyalah fiksi belaka yang kemudian direkayasa oleh kaum Muslim sendiri (hlm. 1).

Pandangan-pandangan negatif  yang dilontarkan oleh kaum orientalis tersebut dibantah oleh penulis buku tersebut dengan metode analisis dari berbagai argumen dan data yang telah mereka kemukakan dengan menggunakan dalil-dalil dan bukti-bukti yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, baik dalil-dalil yang  dikutip dari al Qur’an sendiri, fakta-fakta sejarah, maupun hasi penemuan-penemuan ilmiah di abad modern ini yang relevan dengan informasi-informasi yang terkandung di dalam al Qur’an.

Senada dengan pernyataan penulis pada bagian pendahuluan buku tersebut; bahwa ada dua masalah pokok yang akan dijawab dalam buku tersebut. Pertama, apakah betul al Qur’an itu firman Allah?. Kedua, apakah al Qur’an masih otentik hingga saat ini?

Dalam menjawab kedua pertanyaan tersebut dan sekaligus membuktikan kebenaran tentang otentisitas al Qur’an, penulis tidak langsung merespons pernyataan-pernyataan kaum orientalis dan sebagian kaum muslim tersebut secara sinis, tetapi ia menyuguhkan sejarah al Qur’an berdasarkan fakta dan data akurat yang telah diseleksi kebenaran dan keabsahannya oleh para pakar di bidangnya (hlm. 9-10).

Otentisitas al Qur’an

Al Qur’an memperkenalkan dirinya dengan berbagai ciri dan sifat. Salah satunya adalah bahwa ia merupakan kitab yang keotentikannya dijamin oleh Allah (QS. 15:9). Mengutip pendapat seorang ulama kontemporer, Muhammad Husain al Thabathaba’iy yang menyatakan bahwa sejarah al Qur’an demikian jelas dan terbuka, sejak turunnya sampai sekarang ia dibaca oleh kaum muslim, sehingga pada hakikatnya al Qur’an tidak membutuhkan sejarah untuk membuktikan keotentikannya. Kitab suci tersebut - lanjut Thabathaba’iy – memperkenalkan dirinya sebagai firman-firman Allah dengan menantang siapapun untuk membuat tandingannya.

Salah satu bukti, bahwa al Qur’an yang berada di tangan kita sekarang adalah al Qur’an yang turun kepada Nabi Muhammad saw. tanpa perubahan dan tetap sebagaimana keadaannya dahulu. Sejalan dengan pendapat Thabathaba’iy diatas, Rasyad Khalifah juga mengemukakan bahwa dalam al Qur’an sendiri terdapat bukti-bukti sekaligus jaminan akan keotentikannya.

Sejarah mencatat bahwa sejak zaman Nabi Muhammad saw, al Qur’an telah dihafal oleh ratusan sahabatnya. Walaupun Nabi saw. dan para sahabat menghafal ayat-ayat al Qur’an, namun untuk menjamin terpeliharanya wahyu-wahyu Ilahi itu, tidaklah cukup hanya mengandalkan hafalan saja, tetapi dalam bentuk tulisan juga. sejarah menginformasikan bahwa ayat-ayat al Qur’an sebelum dikumpulkan dan ditulis dalam satu mushaf (mushaf ‘Utsmani) telah ditulis dalam berbagai benda seperti kulit, tulang, pelepah kurma, dan kepingan batu.

Pada masa sekarang ini pun masih sama, meskipun al Qur’an telah tercetak dalam sebuah mushaf, perhatian kaum Muslim untuk menjaga otentisitas al Qur’an tetap luar biasa, seumpama kita menyurvei dari ujung Timur sampai Barat bumi ini, maka kita pasti akan tercengang, kita akan menemukan jutaan para penghafal al Qur’an. Jadi sangatlah wajar, jika al Qur’an dari periode awal ketika Nabi masih hidup sampai masa kita masih sama tanpa ada perubahan sedikit pun.

Akhirnya, dengan membaca buku “Sejarah al Qur’an; Verifikasi tentang Otentisitas al Qur’an” ini, para pembaca akan menemukan bukti-bukti keotentikan al Qur’an yang disajikan oleh penulisnya dengan menggunakan “sejarah” sebagai pisau analisinya.

* Staf Pembimbing pada Yayasan Ali Maksum, Yogyakarta
Senin 29 November 2010 9:45 WIB
Jejak Rekam NU dan Negara
Jejak Rekam NU dan Negara
Oleh Ali usman

Judul: NU dan Bangsa 1914-2010: Pergulatan Politik dan Kekuasaan
Penulis: Nur Khalik Ridwan
Penerbit: Ar-Ruzz Media
Cetakan: I, Juni 2010
Tebal: 628 halaman

Nahdlatul Ulama (NU) dan negara sesungguhnya dua entitas yang berbeda, walau eksistensinya kadangkala dianggap jadi satu kesatuan. NU adalah gerakan sosial keagamaan yang berbasis Islam, sementara negara merupakan institusi formal yang memayungi semua kepentingan elemen-elemen masyarakat, termasuk ormas Islam NU. <<>;br />
NU dan negara dianggap jadi kesatuan merujuk pada selain karena ekesistensinya, juga lantaran NU ikut andil dalam perjuangan mendirikan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pertanyaannya, bagaimana hubungan NU dan negara di tengah pergulatan politik dan kekuasaan?

Buku ini menyajikan sejumlah jawaban yang sangat memadai dalam menjelaskan pasang-surut pola hubungan NU dan negara sejak masa-masa awal pembentukan NU 1914 oleh KH Abdul Wahab Hasbullah, hingga resmi didirikan pada 31 Januari 1926, bahkan sampai tahun 2010 sewaktu masih dinahkodai KH Hasyim Muzadi. Termasuk pula, di buku ini, Nur Khalik Ridwan, penulisnya, secara detail dan komprehensif menampilkan jejak rekam sejarah pergulatan aktivis NU yang terlibat aktif merebut kemerdekaan RI dari tangan Belanda dan membuahkan deklarasi kemerdekaan 17 Agustus 1945. Hal ini bisa ditengok dalam anggota BPUPKI dan PPKI, yang di dalamnya terdapat nama KH Masykur dan KH Wahid Hasyim sebagai delegasi NU.

Itu sebabnya, tecara internal ke-NU-an, terdapat sejumlah fakta-fakta sejarah yang menarik untuk disimak. Tahun 1914 adalah cikal-bakal kelahiran NU dengan membentuk Tashwirul Afkar, sebuah pertukaran gagasan di kalangan santri (pemuda) atas prakarsa KH Abdul Wahab Hasbullah, yang waktu itu, baru saja pulang dari Mekkah. Dari sana, kemudian di tahun 1916 membentuk Nahdlatul Wathan, yang berarti Kebangkitan Tanah Air. Berikutnya, tahun 1918, KH Abdul Wahab Hasbullah bersama KH Hasyim Asy’ari mendirikan Nahdlatul Tujjar (kebangkitan kaum pedagang), yang difungsikan untuk menyelamatkan perekonomian-perekonomian lokal bumiputera akibat penetrasi yang dilakukan oleh Belanda dan China.

Hal yang menarik dari deklarasi Nahdlatul Tujjar tersebut adalah soal komitmen para ulama atau agamawan untuk menggedor solidaritas kaum bumiputera dan kelompok kaum miskin. Pekik doa keberhasilan terdengar lantang waktu itu: ”Ya Allah, berilah keberhasilan. Amin. Seorang penyair menyatakan, jika ahli ilmu dan hujjah tidak dapat memberikan manfaat, maka keberadaan mereka di tengah-tengah masyarakat sama saja seperti orang bodoh. Demikian juga, jika seseorang tidak memberikan manfaat kepada orang lain, maka keberadaannya bagaikan duri di antara bunga” (hlm. 40).

Dengan semangat berapi-api untuk ikut peduli terhadap nasib rakyat dan bangsa yang ditunjukkan oleh para ulama itulah, yang di kemudian hari, tepatnya tanggal 31 Januari 1926  melahirkan organiasi terbesar di Indonesia bernama NU. Dua tantangan besar menjadi latar belakang berdirinya NU, yaitu gerakan wahhabi dari Timur Tengah yang banyak diadopsi oleh kelompok Islam tertentu, sehingga mengakibatkan kematian ‘tradisi’ masyarakat lokal yang telah tumbuh berkembang di bumi nusantara; dan untuk menyikapi imperialisme alias penjajahan fisik yang dilakukan oleh Belanda, Inggris, dan Jepang terhadap bangsa Indonesia.

Kehadiran NU di kehidupan berbangsa memberikan corak tersendiri dalam mengisi hari-hari keindonesiaan, dari masa kemerdekaan RI hingga detik ini. Yang menarik adalah kekuatan NU tidak dalam keterlibatannya di partai politik praktis—sebagaimana masih terjadi kesalahpahaman di antara banyak kalangan. Jubah kebesaran NU justru pada penguatan civil society yang bergerak liar dalam melakukan advokasi dan pemberdayaan umat.

Keterlibatan NU di kancah dunia politik, yang pernah tergabung dalam Masyumi dan berubah menjadi partai politik pada 7 November 1945, maupun ketika melakukan fusi ke PPP tahun 1973 di masa Orde Baru, mestinya dibaca sebagai bentuk eksperimen NU yang hasilnya kita tahu, mengalami kegagalan total. NU selalu menjadi korban atau tumbal kekuasaan serta seringkali dipecundangi oleh kawan koalisinya di internal partai.

Kehidupan politik NU pada mulanya dirasakan sebagai perluasan wawasan, setidaknya sampai akhir tahun 1950-an, tetapi ternyata perkembangannya memunculkan realitas lain. Sikap dan tindakan NU selalu dikaitkan dengan orientasi untung rugi dari segi kepentingan politik semata. Politik bagi NU bukanlah aspek yang dianggap primer. Sebab, orientasi yang demikian mengakibatkan NU tidak bisa menghindari posisi yang berwatak taktis untuk mendapatkan keuntungan politik belaka. Sedang orientasi utama NU sebagai jam’iyah untuk membina umat, mengembangkan tradisi keagamaan menurut ajaran ahlussunnah waljama’ah yang lebih utuh dan meningkatkan kualitas kehidupan jamaah yang menjadi karakteristik NU, terabaikan (Haidar,1994).

Sejak saat itu, NU mengalami trauma politik, sehingga pada Muktamar 1984 di Situbondo membuat keputusan bersejarah, yaitu kembali ke khittah 1926. Dalam perjalanannya, khittah ini berjalan mulus hingga bertahan kurang lebih 12 tahun, terhitung pascamuktamar 1984. Namun di era reformasi setelah tumbangnya rezim Soeharto, teks khittah kembali “diungkit” dan diinterpretasikan ulang, melahirkan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), yang pada 23 Juli 2010 genap berusia 12 tahun.

Karena itu, kehadiran buku ini, tentu sangat penting untuk mengingatkan kembali masyarakat kita atas prakarsa founding fathers yang telah bersusah payah menegakkan NKRI bersejajar dengan negara-negara lain di seluruh penjuru dunia. Dalam batas-batas tertentu, buku ini seperti kronik yang merekam momen-momen sejarah penting keindonesiaan. Analisis yang di kandung di dalamnya melampaui soal ke-NU-an semata, tapi juga mencakup banyak hal dan kelompok-kelompok lain yang terekam secara apik dalam bingkai keindonesia. Selamat membaca.

*Pustakawan, dan aktivis muda NU di Yogjakarta
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG