IMG-LOGO
Fragmen

Guru Madjid dan Tukang Cukur

Rabu 21 Desember 2011 8:15 WIB
Bagikan:
Guru Madjid dan Tukang Cukur

Siang begitu panas menyengat para penjual dan pembeli di pasar, di bilangan Pekojan, Jakarta Barat. Di saat itu, seorang tukang cukur ngobrol dengan tukang kain.

“Ah, tumbenan amat nih hari lagi sepi,” keluh tukang cukur. “Dagangan lu rame, Jid?” Tanya tukang cukur pada tukang kain.

<>“Namanya juga usaha, ya kagak rame saban hari,” sahut pedagang kain yang tengah duduk sambil melipat satu dua pakaian.

Keduanya biasa berbincang-bincang tentang usaha masing-masing. Di lain waktu, percakapan pun mengaitkan pedagang lain yang juga mangkal sepanjang pinggir jalan. Mereka sudah lama saling kenal.

Namun, namanya orang pasar, tak sampai mengenal detil masing-masing. Apalagi kegiatan dan status masing-masing di tempat tinggalnya.  Meski demikian, tukang cukur dan tukang kain lebih akrab dari yang lain, karena tempat keduanya bersebelahan.

Suatu pagi, tukang cukur memenuhi permintaan tukang kain, yang beberapa waktu sebelumnya, meminta menyambangi rumahnya. Beruntung tukang kain ada di rumah. Ia pun di jamu alakadarnya.

Di luar dugaan, tukang cukur diajak ke masjid. Aneh memang aneh, karena belum masuk waktu sembahyang. Belum keanehan itu lenyap, muncul perintah dari tukang kain.

“Kau duduk dulu di sini sebentar, aku mau ambil sesuatu di rumah. Ada yang ketinggalan.”

Tukang cukur mematuhi saran temannya.

Keanehan tukang cukur makin berkecambah karena tak berapa lama, masjid yang tadinya melompong itu didatangi orang-orang berpeci, berserban dan mengenakan sarung. Dan, mereka menenteng kitab-kitab.

Tukang cukur tak enak hati. Sementara si penjual kain belum juga menunjukkan dahinya. Satu tanda tanya besar membandul dalam hatinya.

“Astagfirullah, ni para kiai hendak berkumpul hingga tiap jengkal sisi masjid hampir tak terlihat. Tepi ngomong-ngomong, ni para kiai, mau ngapain? Kalau mau mengaji, siapa gurunya?” pertanyaan itu berderet-deret di benaknya.

Di saat yang sama, heran pun segera merangkak di benak para kiai. Meskipun dengan ungkapan berbeda, bahasa hati mereka seragam. “Ya Rabbi Ya Karim, siapa ni orang? Beraninya dia bertengger di sebelah tempat duduk Guru? Potongannya potongan pasar pula?”

Tak lama berselang, pedagang kain masuk masjid. Ia disambut takzim para kiai yang melingkari masjid tersebut.

Alangkah terkejutnya tukang cukur itu. Kawan yang kesehariannya berdagang pakaian, adalah guru para kiai itu. Andaikan bukan di dalam masjid dan di hadapan para kiai, entah di pinggir jalan atau di bulakan, ia sudah terjumprit nyungseb ke tanah saking kaget dan malu. Ia kapok lantaran ucapan-ucapannya di pasar selama ini sangat liar, slebor, dan sembarangan.

Pedagang kain, sahabat tukang cukur itu, adalah Guru Abdul Majid, guru para kiai Betawi.

***

KH Abdul Madjid atau lebih dikenal Guru Madjid, lahir di Pekojan, Tambora, Jakarta Barat, pada tahun 1887. Ayahnya bernama KH. Abdurahman. Buyutnya bernama Rahamtullah merupakan keturunan Pangeran Diponegoro yang datang ke Betawi dan kemudian tinggal di Kebayoran Lama.

Madjid kecil belajar ilmu agama pada ayahnya. Kemudian pada tahun 1897, pada usia 10 tahun, ia melanjutkan pendidikan di Makkah. Ia berguru kepada Syekh Mukhtar Attharid, Syekh Umar Bajunaid al-Hadrami, Syekh Ali al-Maliki, dan Syekh Sa’id al-Yamani. Di sana menimba ilmu selama 20 tahun.  Madjid kembali ke Tanah Air tahun 1914.

Di tanah Betawi, ia terkenal akan penguasaan berbagai ilmu, diantaranya tasawuf, tafsir, ilmu falaq dan ilmu kalam. Ia hapal Al-Quran yang merupakan satu keistimewaan tersendiri di tanah hooft gubernur jenderal ini. Karena itulah, namanya berkibar kencang di kalangan santri dan kiai Betawi. Ia diminta mengajar di majelis-majelis di berbagai tempat.

Karena itulah jadwal Guru Madjid sangat padat. Ia mengajar di Gang Abu dan Gang Sae Kemakmuran, Sawah Besar, Petojo, Batu Tulis, Tanjung Priok, Kramat Senen, Rawa Bangke, Jatinegara, Klender, hingga Tambun-Bekasi.

Sementara itu, di tempat tinggalnya, Guru Madjid juga membuka pengajian. Ia mengajar dari pukul delapan hingga pukul sebelas. Muridnya bukan sembarang murid. Mereka terdiri dari para kiai yang memiliki majelis di kampungnya masing-masing, setingkat kecamatan atau sekurang-kurangnya kelurahan.

Dari majelis-majelis tersebut, lahir ulama-ulama Betawi di kemudian hari. Mereka adalah KH Abdur Razak Makmun Tegal Parang (Katib III Syuriyah PBNU tahun 1967-1971) KH Sayafi’i Hadzami Kebayoran Lama (Rois Syuriyah PBNU 1994-1999), KH Abdullah Syafi’i (pendiri As-syafi’iyah), KH Thohir Rohili (pendiri perguruan Ath-Thohiriyah), KH Najihun Kosambi, dan masih banyak lagi.

Di tengah kesibukannnya Guru Madjid aktif di organisasi Masyumi-NU, anggota Cosangiin (anggota DPRD zaman jepang). Selain itu, dia tidak lupa menuangkan pikirannya dalam bentuk tulisannya. Kitab Taqwimun Nayyirain yang membahas ilmu falaq adalah buah karyanya.

Kesibukan lain dari kiai yang wafat 1947 ini, adalah berjualan pakaian. Ia menghidupi keluarganya dengan keringatnya sendiri. (Al-Hafiz Kurniawan)

Sumber: Wawancara KH Hasbullah Pondok Pinang




Bagikan:
Ahad 4 Desember 2011 6:9 WIB
Jihad Versus Jihad
Jihad Versus Jihad

Pada tanggal 9 Juni 1971, bekas presiden Soeharto almarhum, pidato tanpa teks dalam rangka membuka Pasar Klewer di Surakarta, Jawa Tengah. Pidato ini banyak mendapatkan komentar dan menjadi bahan diskusi banyak kalangan.

<>

Dan Soeharto sendiri rupanya amat berkesan dengan pidatonya ini, hingga dalam otobiografinya ditulis secara istimewa. Bunyi judulnya “Gagasan di Pasar Klewer”. Soeharto bilang dengan bangga dalam tulisan itu, “Pidato saya ini merupakan dasar politik pembangunan kita.”

Di antara pidato Soeharto itu berisi pentingnya pembangunan di segela bidang. Dia menekankan pembangunan industri dengan penopang segi pertanian yang tangguh. Ditegaskan pula, perlunya pembangunan yang terus berkelanjutan.

“Mencapai cita-cita masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila itu, tidaklah mungkin hanya dengan melaksanakan satu Pelita saja,” jelas Soeharto. Penjelasan ini tentu “aba-aba” dari Soeharto bahwa dirinya harus dipilih kembali. Pidato Pasar Klewer dilakukan sebulan jelang Pemilu 1971.

Dalam pidato itu juga dia menerangkan pentingnya hutang bagi pembangunan Indonesia. “Kalau kita terus memperbanyak hutang, itu adalah untuk mempercepat proses pembangunan,” kata Soharto.

Dan yang tak kalah penting, Soeharto melontarkan istilah “jihad” untuk melawan para penentangnya. Jika Soekarno tidak pernah mengeluarkan istilah jihad, berarti Soeharto adalah presiden pertama yang menggunakan kata istilah “agama” ini. Dan bisa jadi, lontaran jihad oleh Soeharto ini paling “menggelegar” setelah NU mengeluarkan Resolusi Jihad pada bulan Oktober 1945, untuk mempertahankan kemerdekaan.

“Saya peringatkan supaya pemimpin-pemimpin jangan mudah menghasut rakyat. Begitu pula,hendaknya rakyat jangan gampang dihasut oleh pemimpin semacam itu. Kalau toh terjadi pengacauan itu, demi kepentingan pembangunan, demi kepentingan Pancasila dan UUD ’45, tidak ada jalan lain bagi rakyat bersama ABRI-nya, harus menghadapi jihad itu dengan jihad pula,” demikian Soeharto menggunakan istilah jihad.

Lalu siapa yang akan “dijihadi” Soeharto? Tentu Soeharto tidak main-main dengan kata jihad ini. Karena jihad, seperti juga ijtihad, menyimpan makna berat dan sungguh-sungguh. Berperang dengan benar melawan musuh adalah jihad karena sungguh berat, penuh pengorbanan. Menahan nafsu pribadi itu disebut jihad karena memang berat nian. Dengan kata lain, Soeharto punya musuh yang berat, sehingga harus menyatakan jihad.

TERNYATA YANG DISASAR adalah Subhan ZE, salah seorang ketua PBNU waktu itu. Dia seorang yang pintar, berpengetahuan luas, jago pidato, masih muda, dihormati, kaya, ganteng, tapi tidak punya senjata, apalagi bala pasukan. Jika Soeharto berhasrat mematikan orang kelahiran Kudus ini, tentu gampang.

Perintahkan saja satu atau dua kopral berpistol, cegat di jalan. Dor! Dor! Dor! Lalu dikubur di hutan. Selesai! Tidak perlu menyerukan jihad lewat pidato resmi, karena gampang banget.

Tapi, bukan tidak mungkin, Soeharto melontarkan istilah jihad dengan pertimbangan yang masih mentah, tidak penting, bahkan guyon. Kan dia pidato tanpa teks, bisa saja kecletot lidah. Atau karena dia terpancing dan tak ingin kalah “keren” dengan pidato Subhan ZE.

Almarhum Subhan ZE dalam kampanye-kampanye Partai NU menjelang pemilu 1971, memang sering melontarkan istilah jihad. Ia dengan lantang mengingatkan Jenderal Amir Mahmud, Menteri Dalam Negeri waktu itu, agar menjadi wasit yang adil dan jangan main buldozer.

Subhan melancarkan kritik tajam dan menohok pada Orde Baru sudah sering, bukan saja jelang pemilu 1971. 1 Oktober tahun 1968, dalam pidato di radio menyambut hari Kesaktian Pancasila, Subhan sebagai Wakil Ketua MPRS menyuarakan bahwa Orde Baru melenceng dari kaidah-kaidah perjuangan, intrik, konspirasi,  korupsi sudah merajalela dan dipraktikkan kembali.

Dan Subhan juga merespon pidato Pasar Klewer. Ia menyayangkan Soeharto yang mengidentikkan dirinya sebagai pemberontak, sehingga harus diperangi dengan semangat jihad. Terjadilah polemik istilah jihad di koran milik NU, Duta Masyarakat. Sampai-sampai Ketua Umum PBNU Idham Chalid, menyampaikan komentar. Dengan kikuk, Idham berkata:

“Tidak tahu-menahu dan sangat menyesalkan sikap Subhan ZE, bahwa bisa saja Presiden Soeharto sebagai pemimpin nasional memberikan peringatan kepada setiap warga negaranya untuk tidak berbuat hal-hal yang dapat membahayakan negara.”

Pemilu 1971, NU menempati urutan kedua, memperoleh 58 kursi, tambah 13 kursi dari pemilu 1955. Dan Subhan adalah bintang pemilunya.

Desember 1971, NU menggelar muktamar di Surabaya. Dalam muktamar itu, ia juga jadi bintang yang bersinar, tapi tidak terpilih sebagai ketua umum, karena diganjal. Ia hanya menempati salah satu ketua. Tapi belum sebulan umur muktamar, Subhan dipecat dari ketua PBNU. Tak lama setelah itu, ia tewas sebab kecelakaan mobil, dalam perjalanan dari Mekkah ke Madinah. (Hamzah Sahal)


Sumber: Otobiografi Soeharto oleh Ramadan KH, Subhan ZE oleh Arief Mudatsir Mandan, Pertumbuhan dan Perkembangan NU oleh Choirul Anam

Selasa 22 November 2011 6:21 WIB
Blora, Cabang NU Pertama
Blora, Cabang NU Pertama

Siapa sangka, bahwa NU Blora, Jawa Tengah, menjadi cabang pertama di Indonesia. Berdasarkan catatan sejarah, NU cabang Blora berdiri tahun 1927 M. Ini berarti, cabang di sana berdiri setelah setahuan NU dilahirkan, yakni 31 Januari 1926 M, di Surabaya.
 
NU Cabang Blora dipusatkan di Desa Kidangan, Kecamatan Jepon. Namun, demi untuk kemajuan organisasi, akhirnya mulai tahun 1930 M, NU Cabang Blora dipindahkan dari yang semula berkedudukan di Kidangan ke kota Blora.

<>Demikian catatat yang dikemukakan Ketua MWC NU Kecamatan Jepon-Blora, Imam Syaerozi. ”Berdasarkan catatan berita dari majalah Lailatul Idjtima’ Nahdlotoel Oelama (LINO) yang dikeluarkan pada awal Mei 1971 M, jelas-jelas disebutkan bahwa NU Cabang Blora berdiri pada tahun 1927 M dan pusatnya di Kidangan,” ungkap Syaerozi.
 
Menurutnya, karena merupakan cabang pertama, peresmian NU Cabang Blora tersebut sempat  mendapat perhatian luas dari kalangan umat Islam. Ribuan masyarakat hadir pada acara itu. Bahkan, pada acara peresmian NU Cabang Blora tahun 1927 M secara langsung dihadiri KH Wahab Hasbullah, KH Asjhary dan KH Abdullah Ubaid.
 
Saat itu, yang menjadi pengurus cabang  pertama tersebut adalah ketua Kiai Makshum, Sekretaris Sudjak (seorang pensiunan komandan polisi), bendahara Tjipto, Pembantu Chasan Hardjo. Untuk syuriyah dipercayakan kepada Kiai Muntaha, Kiai Muzayyin, H Zaenuri dan Kiai Tamzis.
 
Saat NU didirikan di Blora, Belanda masih bercokol. Sehingga usaha-usaha yang dilaksanakan NU Cabang Blora sering mendapat hambatan dan rintangan dari Belanda. Bahkan, Kiai Ma’shum selaku pendiri NU Cabang Blora pernah ditahan oleh Belanda.
 
Adapun usaha-usaha yang dilaksanakan pengurus pada waktu itu antara lain mendirikan jamaah di desa-desa yang belum ada masjidnya. Kemudian pengurus juga mendirikan masjid dan madrasah di sejumlah desa. Seperti Masjid Brumbung, Masjid Kidangan, Masjid Puledagel dan Masjid Tempel. Peninggalan yang berupa madrasah, antara lain Madrasah Ibtidaiyah Kidangan dan Madrasah Ibtidaiyah Jetis.
 
Masih menurut informasi dari LINO, lanjut Syaerozi, mulai tahun 1930 M, NU Cabang Blora yang berkedudukan di Kidangan dipindahkan ke kota Blora.

Selain itu juga dilakukan penyempurnaan kepengurusan. Seperti Ketua Umum Kiai Ma’shum, Wakil Ketua Umum H Asjhary. Karena minimnya informasi, untuk sekretaris tidak diketaui, dan Bendahara H Busyro dan H Suyuti.
 
”Generasi penerus NU di Jepon, khususnya Kidangan memiliki beban berat untuk mengembalikan kejayaan NU seperti era tahun 1927 an ,” tambahnya.

Walaupun demikian, kita masih menunggu versi sejarah lain yang mungkin belum ditemukan. Kita tahu, Singosari-Malang, Madura, Jakarta, Lasem-Rembang, atau Jombang dan Surabaya sendiri adalah kota-kota di mana memiliki basis utama NU di masa-masa awal berdiri. Wallahu a'lam bisshowab. (Sholihin Hasan)

Selasa 8 November 2011 16:18 WIB
Pak Idham Bantah Republik Indonesia Kafir
Pak Idham Bantah Republik Indonesia Kafir

Wilayah Nusantara pasca kemerdekaan tidak kalah genting dengan masa penjajahan Belanda dan Jepang. Lantaran tidak semua kelompok lantas bersatu membangun Indonesia merdeka. Ada di antara kita yang ingin memisahkan diri dari kesatuan, termasuk dari kelompok Islam.

Kelompok Islam ini melontarkan tuduhan: Republik Indonesia (itu) kafir. Kelompok Islam ini ingin membubarkan Republik Indonesia dan menggantinya dengan Darul Islam (DI) tahun 1950-an.

<>Kartosuwiryo memimpin DI Jawa Barat, Kahar Mudzakar di Sulawesi Selatan, Ibnu Hajar mengomandani pemberontakan di Kalimantan Selatan.

KH Dr. Idham Chalid, atau biasa dipanggil Pak Idham dibuat sibuk oleh kelompok Islam ini. Sebab, tuduhannya serius, yakni menyangkut perkara teologi. Mereka membawa-bawa dalil agama untuk menjalankan misinya. Pak Idham yang waktu itu menjabat Wakil Perdana Menteri II dan Kepala Badan Keamanan tentu tak akan main-main, tentu juga karena ia sendiri adalah seorang ulama.

Sebelum menyikapi Kartosuwiryo dan kawanannya, Pak Idham meminta kaum ulama membahas Darul Islam. “Ini tugas saya yang paling berat,” tulis Pak Idham autobiografinya.

Dalam sebuah sidang di badan keamanan, Pak Idham bertanya, “Bagaimana menurut Bapak-bapak kiai,apa betul mereka berjuang memakai senjata menghadapi negera Republik Indonesia? Di Jawa Barat mereka menyebut Rebuplik Indonesia sebagai ‘RIK’ (Republik Indonesia Kafir). Apakah hal ini kita biarkan?”

Sidang kaum ulama memutuskan bahwa Kartosuwiryo dan tentaranya tidak bisa dibenarkan. DI itu, kata Pak Idham, bukan perjuangan, tapi pemberontakan. Kartosuwiryo tidak sesuai dengan negara yang berdasarkan Pancasila. Cita-cita Islam yang luhur tidak bisa didapat dengan cara kekerasan seperti yang dilancarkan DI.

“Aksi DI/TII bukannya menguntungkan umat Islam, tetapi merugikan. Banyak umat Islam yang menjadi korban kekejaman mereka. Mungkin di Aceh tidak terjadi perbuatan seperti di Jawa Barat dan Sulawesi Selatan. Di dua daerah ini DI membakari madrasah dan masjid-masjid yang tidak sependapat dengan paham mereka.”

Sikap tegas Pak Idham pada DI/TII nyaris bikin dirinya tewas diterjang timah panas, yakni ketika Idul Adha DI/TII menyerang Bung Karno saat shalat Id.

“Peluru yang ditembakkan anggota DI/TII yang menyusup ke Jakarta itu juga menyerempet saya. Terasa benar panasnya peluru ditengkuk saya,” cerita Pak Idham.

Pak Idham sudah tiada, pulang ke Rahmatullah Juli tahun lalu di usia 88 tahun. Tapi, jasa dan perjuangannya masih dapat dinikmati hingga sekarang, dan Indonesia mendatang. Negeri Pancasila yang mengedepankan persatuan di tengah berbedaan agama, suku, bahasa, golongan, masih berlangsung, meski di sana-sini masih direcoki. (Hamzah Sahal)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG