IMG-LOGO
Nasional

Berikan Kontribusi Terbaik untuk Peradaban Indonesia dan Dunia

Rabu 16 Desember 2015 14:1 WIB
Bagikan:
Berikan Kontribusi Terbaik untuk Peradaban Indonesia dan Dunia

Jakarta, NU Online
Tantangan yang dihadapi NU semakin besar. Peradaban modern dan kecanggihan teknologi informasi harus dijawab dengan cerdas. Kalau waktu berdirinya NU, ajaran radikalisme berkembang di luar negeri. Kini, radikalisme ada di tengah-tengah kita. Jangan sampai kita lengah. Kita harus bersatu memberikan yang terbaik untuk peradaban Indonesia dan dunia.<>

Demikian ditegaskan KH Said Aqil Siroj dalam silaturahim PWNU se-Indonesia dan PBNU di lantai 8 Kantor PBNU, Rabu (15/12).

"Muktamar sudah selesai. Sekarang waktunya kita bersama-sama membangun Indonesia. Tema Islam Nusantara yang sudah digagas NU dalam Muktamar Ke-33 di Jombang sudah menjadi referensi bagi dunia Islam. Sudah banyak sekali duta besar dari berbagai negara yang ingin ketemu PBNU," tegas Kiai Said.

Dalam diskusi dengan berbagai PWNU se-Indonesia, Kiai Said juga menegaskan bahwa kepengurusan PBNU yang baru sudah menyiapkan banyak agenda kerja ke depan. Sudah disiapkan koordinator wilayah yang pada tahun 2016 nanti sudah turun ke bawah. Penguatan organisasi akan diprioritaskan, mulai menata PCNU, MWCNU, ranting, dan anak ranting.

"Secara organisasi harus kuat. Semua kepengurusan harus ditata dengan rapi. Para koordinator wilayah akan bekerja dengan serius, menjalin hubungan dan kerja  sama dengan semua PWNU. Ini langkah nyata agar NU semakin kerja maksimal dalam membangun Islam Nusantara. Peradaban Indonesia dan dunia sudah menunggu peran NU," tambahnya.

Dalam silaturrahim ini, hadir para pengurus PBNU, diantaranya Prof Maksum Mahfoedz, Helmy Faisal, Marsudi Suhud, Bina Suhendra, Imam Pituduh, KH Abdul Manan, dan lain sebagainya. (Madun/Fathoni)

Bagikan:
Rabu 16 Desember 2015 19:0 WIB
Ahok Apresiasi Kinerja Guru Madrasah
Ahok Apresiasi Kinerja Guru Madrasah

Jakarta, NU Online
Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama memberikan apresiasi terhadap kinerja guru-guru yang mengajar siswa-siswi madrasah yang ada di Jakarta. <>

"Karena guru-guru madrasah bukan cuma mengajarkan mata pelajaran formal, tetapi juga mengajarkan mengenai akhlak," kata Basuki dalam acara pelantikan Pengurus Dewan Pimpinan Wilayah Persatuan Guru Madrasah Indonesia (DPW-PGMI) DKI Jakarta 2015-2020 di Jakarta, Rabu. 

Menurut pria yang lebih akrab disapa Ahok itu, para pengajar di madrasah dapat menjadi contoh guru yang berakhlak serta berbudi luhur bagi seluruh anak didiknya. 

"Mereka (guru-guru madrasah) itu mengajar dari pagi sampai malam, bisa mengaji juga. Kalau kita bicara akhlak, saya rasa mereka bisa jadi contoh yang baik untuk anak-anak muridnya," ujar Ahok. 

Oleh karena itu, mantan Bupati Belitung Timur itu pun bertekad akan meningkatkan kesejahteraan semua guru pengajar di madrasah-madrasah yang tersebar di wilayah DKI Jakarta. 

"Kualitas guru-guru madrasah itu tidak kalah dari guru-guru di sekolah negeri, malah pandai mengaji juga. Maka dari itu, kami akan berupaya sebisa mungkin untuk meningkatkan kesejahteraan guru-guru madrasah," tutur Ahok. 

Lebih lanjut, dia menambahkan dengan mengedapankan akhlak dan budi pekerti luhur dalam setiap pelajaran, diharapkan guru-guru madrasah dapat mengajarkan siswanya untuk selalu berkata dan bersikap jujur. 

"Menurut saya, masalah yang dihadapi oleh bangsa kita pada saat ini adalah korupsi dan kemunafikan. Makanya, kami mengharapkan guru-guru madrasah bisa menjadi contoh yang baik bagi siswa-siswinya," ungkap Ahok. (Antara/Mukafi Niam)

Rabu 16 Desember 2015 18:1 WIB
Sekjen PBNU Jelaskan Model Konsolidasi NU
Sekjen PBNU Jelaskan Model Konsolidasi NU

Jakarta, NU Online
PBNU terus berupaya membangun model konsolidasi gerakan NU. Model ini digunakan untuk menata organisasi dengan rapi, sehingga kekuatan NU di berbagai daerah bisa bergerak maksimal. Kekuatan NU jangan hanya terkonsentrasi di Jawa saja, tetapi juga harus meluas dan mencakup semua daerah, khususnya Indonesia timur.<>

Demikian ditegaskan Helmy Faishal Zaini, Sekretaris Jenderal PBNU dalam acara silaturahim PWNU se-Indonesia dan PBNU di lantai 8 Kantor PBNU, Selasa (15/12).

"Kita membagi model konsolidasi dalam tiga hal. Pertama, Jawa-Lampung-NTB. Dalam model ini, konsolidasi harus sampai di tingkat ranting. Jawa Timur bahkan sudah menjadi contoh ideal untuk konsolidasi anak ranting (masjid). Kedua, konsolidasi luar Jawa. Dalam model ini, konsolidasi harus sampai pada tingkat MWCNU (kecamatan). Yang ketiga, konsolidasi daerah khusus. Ini konsolidasi tingkat cabang (PCNU)," terang Helmy.

Helmy juga mencontohkan bahwa antara Jawa Timur dan Papua sangat berbeda. Jawa Timur sudah sampai pada tingkat anak ranting, sementara di Papua, kepengurusan beberapa cabang ternyata ada di satu kantor. Bahkan ada yang satu Rais Syuriyah menjadi Rais Syuriyah untuk tiga cabang. Kantornya juga satu tempat.

"Daerah khusus, seperti Papua, harus menjadi perhatian serius. Ini gerak langkah nyata, agar konsolidasi NU secara menyeluruh sampai ke tingkat ranting, bahkan anak ranting," tambahnya.

Untuk itu, lanjut Helmy, seluruh kepengurusan NU di tingkat wilayah dan cabang harus selalu koordinasi dengan PBNU, sehingga diupayakan langkah-langkah strategis untuk membangun kekuatan NU.

"Kita akan bekerja keras. Konsolidasi organisasi akan terus kita kawal dan kita perbaiki, sehingga ke depan, NU benar-benar kuat secara kelembagaan dan peran sosial di masyarakat," tegasnya. (Madun/Fathoni)

Rabu 16 Desember 2015 15:3 WIB
Besok, Lesbumi Diskusikan Kekerasan Budaya Pasca 1926-1927
Besok, Lesbumi Diskusikan Kekerasan Budaya Pasca 1926-1927

Jakarta, NU Online
Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) PBNU akan menggelar diskusi di gedung auditorium lantai 8 PBNU, Jakarta, pada Kamis (17/12). Kegiatan bertema Kolonial Belanda dan Kekerasan Budaya Pasca-1926-1927 tersebut dimulai pukul 13.00 sampai dengan selesai.  
<>
Kegiatan terbuka untuk umum tersebut mengundang beberapa narasumber, yaitu Ketua Lesbumi PBNU KH Ng. Agus Sunyoto. Ia akan membidik kekerasan budaya pasca 1926-1927 dengan dengan pendekatan emic atau sudut pandang kita sendiri.

Sudut pandang ini, kata penulis Atlas Wali Songo, tersebut penting dilakukan. Ia mencontohkan, ketika orang Belanda menceritakan Indonesia akan berbeda ketika orang Indonesia menceritkan dirinya sendiri. “Ketika orang Belanda menceritakan Indonesia ia akan terjebak menggunakan sudut pandang etic (orang luar),” katanya di kantor redaksi NU Online, PBNU, Rabu (16/12).

Pangeran Diponegoro misalnya, lanjut dia, ketika menggunakan sudut pandang etic, dianggap sebagai pengkhianat karena melawan Belanda. Namun akhirnya orang Indonesia sadar bahwa dia adalah pahlawan yang membela tanah airnya. “Sudut pandang Belanda pasti menganggapnya penjahat,” lanjutnya.

Dari diskusi tersebut, kata dia, Lesbumi berupaya memandang jati diri sendiri dengan cara pandang kita sendiri. Kita yang membicarakan diri kita sendiri. Kemudian menyadarkan orang-orang yang sudah terpengaruh dengan cara pandang orang luar tentang kita.

Diskusi yang dimoderatori Widyasena Sumadyo tersebut, mengundang narasumber lain yaitu Ketua PBNU H Imam Azis. Ia akan berbicara tentang rekonsiliasi budaya yang terjadi di Indonesia. Sementara Daniel Rudi akan berbicara proses IPT 1965 di Den Haag. (Abdullah Alawi)  

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG