IMG-LOGO
Nasional

Kisah Wangi Darah Santri Gugur Melawan Belanda

Senin 17 Juli 2017 17:21 WIB
Bagikan:
Kisah Wangi Darah Santri Gugur Melawan Belanda
Cirebon, NU Online 
Perang melawan kolonial Belanda berlalu puluhan tahun silam. Kemenangan bangsa Indonesia diraih bukan hanya dengan cucuran air mata dan keringat, tapi juga darah. Di antara darah yang tercecer itu adalah milik santri bernama Muhit.

Abdul Mufti menceritakan perang perjuangan Muhit saat ditemui kontributor NU Online di rumahnya di Desa Astanajapura, Cirebon, pada Selasa, (11/7). Ia tengah berbincang santai dengan anak dan cucunya. 

Diminta bercerita tentang masa perjuangan, ia langsung teringat sosok Muhit. Muhit adalah seorang warga Buntet Pesantren yang terkenal badannya menimbulkan aroma tidak sedap.

“Muhit, Kang, masya Allah, ambune blenakepor (baunya sangat tidak sedap),” kenang KH Abdul Mufti Umar.

Di Desa Sukamulya, ia dan Muhit serta satu rekan lainnya berjuang melawan lima puluhan tentara Belanda. Enam pasukan Belanda tewas di tangan mereka. Namun naas, Muhit turut jadi korban peperangan tersebut.

Datanglah KH Abdullah Abbas menanyakan wangi yang ia cium.

“Siapa yang pakai minyak wangi, wangi sekali?” tanya putra KH Abbas Buntet itu pada Kiai Uti, panggilan masyarakat sekitar pada Abdul Mufti.

Kiai berumur 97 tahun itu malah balik bertanya, “Ya siapa yang di tengah hutan pakai minyak wangi?”

Ternyata, setelah diperhatikan, wangi itu bersumber dari darah Muhit.

“Ambune ning lenga wangi bli kira-kira (bau minyak wangi tidak kira-kira). Ari wis getihe (ternyata darahnya) Si Muhit. Masyaallah,” kenangnya. (Syakirnf/Abdullah Alawi)

Bagikan:
Senin 17 Juli 2017 18:1 WIB
Muslimat NU Kerja Sama Pembentukan JPZIS dengan LAZISNU
Muslimat NU Kerja Sama Pembentukan JPZIS dengan LAZISNU
Jakarta, NU Online
Pimpinan Pusat Muslimat NU melakukan penandatanganan kerja sama dengan LAZISNU dalam pembentukan Jaringan Pengelola Zakat Infak Sedekah (JPZIS). Penandatangan kerjasama dilakukan pada  Ahad (16/7) di Gedung Konvensi Taman Makam Pahlawan, Kalibata, Jakarta Selatan.
 
Dengan penandatanganan kerjasama tersebut memungkinkan Muslimat NU mengumpulkan dan mengelola dana ZIS dari dan kepada masyarakat.

“Ada peratutan terbaru yang harus ditaati dalam tata kelola zakat. Bahwa Muslimat NU menjadi salah satu Jaringan Pengelola ZIS di bawah LAZISNU. Nantinya pengumpulan dan pengelolaan ZIS dilakukan oleh Muslimat NU, tetapi pelaporannya tetap diserahkan ke LAZISNU sebagai lembaga yang memiliki wewenang dalam pengumpulan dan penyaluran ZIS,” kata Ketua Umum PP Muslimat NU, Khofifah Indar Parawansa.

Perempuan yang juga Menteri Sosial itu menuturkan langkah tersebut sebagai penguatan seluruh komponen NU untuk meningkatkan peran bagi bangsa dan negara.

“Karena dalam kesempatan ini juga hadir perwakilan lembaga-lembaga dan banom NU, saya mengajak bahwa ini akan menjadi penguatan NU secara menyeluruh untuk meningkatkan peran di masyarakat,” ujarnya.

Khofifah menjelaskan, format kerja sama dengan LAZISNU tersebut sebagai upaya penguatan dan peningkatan ekonomi di Muslimat NU, sekaligus sebagai peningkatan peran Muslimat NU bagi masyarakat. (Kendi Setiawan/Fathoni)
Senin 17 Juli 2017 17:0 WIB
Khofifah Tekankan Aspek Spiritual Masuk dalam Semua Mata Pelajaran
Khofifah Tekankan Aspek Spiritual Masuk dalam Semua Mata Pelajaran
Jakarta, NU Online
Ketua Pimpinan Pusat Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa menjelaskan, seharusnya aspek spiritualitas bisa diajarkan di dalam semua mata pelajaran, termasuk di dalam pelajaran ilmu-ilmu umum seperti matematika, fisika, kimia, dan lainnya agar mereka memiliki semangat nasionalisme dan memiliki pemahaman yang baik tentang hubungan antara agama dan negara. Namun demikian, ia menyadari bahwa hal itu masih belum begitu diperhatikan oleh para tenaga pengajar.

Sejauh ini ada beberapa hasil survei yang menyatakan bahwa ada sekitar empat persen siswa sekolah yang anti-Pancasila. Oleh karena itu, Khofifah berharap, siapapun tidak menganggap enteng hasil survei tersebut. 

“Ada (hasil survei dari) SMRC, ada Wahid Institute, ada Setara, ada penelitian Kemenag, ada UIN. Ini sudah cukup menjadikan kita mempertimbangan dari format proses pendidikan terutama di SMP, SMPA, dan perguruan tinggi yang bisa mengintegrasikan berbagai macam bidang studi dengan format bangunan nasionalisme,” urainya.

Khofifah menekankan, seharusnya format NKRI, Pancasila, dan cinta tanah air menjadi satu kesatuan di dalam proses belajar mengajar di sekolah-sekolah. 

Ia menilai, selama ini proses pengajaran kita masih belum sepenuhnya terintegrasi antara satu mata pelajaran dengan nilai-nilai spiritualitas. Ia mencontohkan, seorang guru yang mengajar pelajaran Matematika hanya akan mengajar Matematika saja tanpa disusupi dengan nilai-nilai spiritualitas.

“Kita tidak mengaitkan pada saat anak-anak diajari Matematika, Fisika, Kimia, dan lainnya, pada saat yang sama aspek spiritualitas seharusnya sudah dibangun. Anak-anak harus mendapatkan guru yang bisa mensinergikan bagaimana hubungan antara agama dan negara,” jelasnya.

Ia mengakui, guru yang memiliki kualifikasi sebagaimana yang disebutkan di atas tidak lah banyak. Namun demikian, ia yakin guru yang memiliki kompetensi yang integral tersebut akan memadahi kalau mereka diberikan pelatihan pendidikan dan kependidikan terkait hal tersebut.

Perempuan yang kini menjabat sebagai Menteri Sosial ini menyebutkan, sistem pendidikan yang berintegrasi bisa menjadi contoh dalam membuat sistem pendidikan yang integral. “Misalnya seperti ini, kalau guru mengajar tentang gravitasi. Kalau integrated system, kenapa ada gravitasi bumi? Karena di situ ada kekuatan Allah,” katanya. (Muchlishon Rochmat/Zunus)
Senin 17 Juli 2017 14:0 WIB
Khofifah: Orang Tua Bagian Utama dan Pertama dalam Perlindungan Anak
Khofifah: Orang Tua Bagian Utama dan Pertama dalam Perlindungan Anak
Jakarta, NU Online
Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa mengungkapkan orang tua menjadi bagian utama dan pertama yang harus memberikan perlindungan kepada anak-anak.

“Berdasarkan Undang-undang Perlindungan Anak, jika menemukan anak-anak terlantar maka kewajiban masyarakat Indonesia untuk memberikan perlindungan,” kata Khofifah menjawab pertanyaan wartawan di sela-sela Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) di Gedung Konvensi Taman Makam Pahlawan, Kalibata, Jakarta Selatan, Ahad (16/7) siang.
 
Peringatan HAN tahun ini digelar bersamaan dengan Halal Bihalal PP Muslimat NU. Khofifah mengatakan bagi Muslimat NU peringatan HAN sudah berlangsung bertahun-tahun.

“Muslimat NU punya 15.600 TPQ. Hari Anak Nasional bagi Muslimat sudah tahunan. Biasanya Muslimat NU  membuat  Festival Anak Soleh Nasional, tapi itu agenda 3 tahun sekali. Jadi tahun ini tidak ada,” ujarnya.

Walau digelar bersamaan dengan Halal Bihalal, Khofifah mengatakan nuasansa yang ingin dibangun tetap sama.

“Bahwa kita berharap anak-anak di Indonesia bisa bahagia. Lindungi anak-anak Indonesia. Jangan biarkan anak-anak terekpoitasi dan terlantar,” pesan Khofifah.

Peringatan HAN dan Halal Bi Halal PP Muslimat NU berlangsung meriah, dihadiri ribuan peserta, utamanya ibu-ibu dan anak-anak. Sejumlah tokoh turut hadir seperti Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Ketua KPAI Asroru Niam Saleh, Kepala BKKBN, dan tokoh pemerhati anak Seto Mulyadi. (Kendi Setiawan/Fathoni)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG