IMG-LOGO
Daerah

Kiai Imam Puro, Penyebar Islam di Wilayah Selatan Jawa


Selasa 9 Januari 2018 14:00 WIB
Bagikan:
Kiai Imam Puro, Penyebar Islam di Wilayah Selatan Jawa
Purworejo, NU Online
Penulis buku-buku sejarah Islam Nusantara Zainul Milal Bizawie mengatakan, Kiai Imam Puro merupakan salah satu ulama penting dalam jaringan ulama Nusantara di wilayah selatan. Kiai Imam Puro hidup pada zaman Perang Diponegoro dan dimakamkan di lereng Bukit Geger Menjangan Desa Candi Baledono Purworejo, Jawa Tengah. 

“Syekh Imam Puro akan masuk dalam buku Masterpiece Islam Nusantara edisi dua,", kata Gus Milal saat berziarah di Kiai Imam Puro dalam agenda Jelajah Nusantara, Ahad (7/1).

Gus Milal menceritakan, Kiai Imam Puro adalah orang yang memiliki wawasan ilmu keagamaan yang luas. Dia menyebarkan Islam di wilayah selatan Jawa pada masa kolonialisme. Sehingga ia tidak jarang bersinggungan langsung dengan para penjajah Belanda karena mereka tidak ingin Islam dan Nusantara maju.  

"Kesewenang-wenangan Belanda itu dilawan. Selain ilmu agama yang tinggi, Kiai Imam Puro juga digdaya, punya kesaktian lebih dari manusia lainnya," tuturnya.

Kiai Imam Puro gigih dalam menyebarkan Islam. Ia mendirikan Pondok Pesantren Sidomulyo, sekarang beralih nama menjadi Al-Islah. Di sini, ia mengajarkan ilmu-ilmu Islam kepada para muridnya yang datang dari luar daerah, bahkan ada yang dari luar Jawa. 

Suatu ketika, lanjut Gus Milal,  Kiai Imam Puro pernah ditahan kolonial karena pondok pesantrennya dicurigai melakukan kegiatan keagamaan yang memusuhi Belanda. Namun, beberapa hari kemudian Kiai Imam Puro dibebaskan lagi. 
Kiai Imam Puro juga dikenal sebagai pembawa pertama Tarekat Syatariyah di Purworejo. Dia memperoleh tarekat ini dari Kiai Guru Loning atau Syekh Mansyur Rofi'i, adik dari Kiai Taftazani (Guru utama Pangeran Diponegoro).

Nama asli Kiai Imam Puro adalah Khasan Benawi, seorang keturunan ke-8 dari Joko Umbaran yang merupakan kerabat dekat Sultan Agung Hanyokrokusumo, Raja Mataram Islam. Setelah belajar agama Islam, Khasan Benawi hijrah ke Purworejo dan menetap di sana. Ia kemudian dikenal sebagai Kiai Raden Imam Puro.

Karomah

Gus Milal menuturkan, Kiai Imam Puro merupakan ulama yang memiliki banyak kelebihan. Semasa hidupnya Kiai Imam Puro senantiasa salat Jumat di Mekkah, sedangkan jasadnya berada di Purworejo. 

Saat itu, ada salah satu jamaah haji asal Kebumen yang ketinggalan kapal saat hendak pulang. Jamaah haji yang ketinggalan kapal ini akhirnya bisa kembali pulang ke Kebumen dengan hanya digandeng tanganya (seperti terbang) Kiai Imam Puro yang ditemuinya saat salat Jumat di Mekkah. 

“Padahal di hari Jumat yang sama, beberapa orang lain juga mengaku bertemu Kiai Imam Puro di Purworejo,” katanya. (Red: Muchlishon Rochmat)
Bagikan:
IMG
IMG