::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Hukum Baca Shalawat dan Radhiyallahu Anhu saat Tarawih

Kamis, 24 Mei 2018 18:00 Ramadhan

Bagikan

Hukum Baca Shalawat dan Radhiyallahu Anhu saat Tarawih
(Foto: pinterest)
Sudah menjadi tradisi sebagian Muslim Indonesia, shalat tarawih di sela-sela dengan doa dan shalawat, ditambah membaca doa untuk Khualafaurrasyidin (empat pengganti Nabi: Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali). Namun pernahkah kita bertanya-tanya, apa hukum membaca keduanya ketika selesai salam shalat tarawih?

Sebelum kita melangkah kepada rincian hukum membaca shalawat dan membaca radhiyalahu ‘anhu untuk empat khalifah di sela-sela shalat tarawih, baiknya kita mengetahui hukum memisah dua shalat dengan berpindah tempat atau berbicara.

Hukum memisah dua shalat dengan berpindah tempat dan berbicara adalah sunah. Sebagaimana Al-Khatib Asy-Syirbiny menjelaskan dalam Kitab Mughnil Muhtaj:

وَيُسَنُّ (أَنْ يَنْتَقِلَ لِلنَّفْلِ) أَوِ الْفَرْضِ (مِنْ مَوْضِعِ فَرْضِهِ) أَوْ نَفْلِهِ لِتَكْثِيْرِ مَوَاضِعِ السُّجُود فَإِنَّهَا تَشْهَدُ لَهُ.قَالَ فِي الْمَجْمُوعِ فَإِنْ لَمْ يَنْتَقِلْ فَلْيُفْصِلْ بِكَلَامِ إِنْسَانٍ

Artinya, “Disunahkan berpindah dari tempat ia melaksanakan shalat fardhu ataupun sunah ke tempat yang lain untuk melaksanakan shalat sunah atau fardhu, supaya memperbanyak tempat-tempat sujud, sesungguhnya itu akan menjadi saksi baginya. Imam Nawawi mengatakan, dalam Al-Majmu’, ‘Apabila ia tidak pindah, maka hendaknya memisah dengan ucapan manusia,’” (Lihat Al-Khatib Asy-Syirbiny, Mughnil Muhtaj ilâ Ma’rifati Alfâzhil Minhâj, [Beirut, Darul Fikr], juz I, halaman 183).

Dalil praktik ini bersandar pada hadits Nabi SAW yang diriwayatkan Imam Muslim dalam Shahih-nya:

Dari As-Saib bin Yazid bahwasannya Mu’awiyah RA berkata kepadanya:

إذَا صَلَّيْتَ الْجُمْعَةَ فَلَا تَصِلْهَا بِصَلَاةٍ حَتَّى تُكَلِمَ أَوْ تَخْرُجَ فَإِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّمَ أَمَرَنَا بِذَلكَ، أَنْ لَاتُوْصَلَ صَلَاةٌ بِصَلَاةٍ حَتَّى نَتَكَلَّمَ أَوْ نَخْرُجَ

Artinya, “Apabila engkau selesai shalat Jumat, maka jangan kau sambung dengan shalat lain sampai kau berbicara atau keluar. Sesungguhnya Rasulullah SAW telah memerintahkan kami dengan itu, supaya tidak menyambung shalat hingga kita berbicara ataupun keluar.”

Dalam sabda Rasulullah Saw yang berbunyi: (أَمَرَنَا بِذَلكَ، أَنْ لَاتُوْصَلَ صَلَاةٌ بِصَلَاةٍ) kalimat shalat disana umum, tidak terikat apakah ia shalat wajib atau tidak, intinya sunah untuk memisahnya.

Penjelasan ini menjadi akar disunahkannya membaca shalawat Nabi dan membaca radhiyallahu ‘anhu di setiap sehabis salam saat tarawih. Mengapa tidak berpindah tempat saat shalat tarawih? Bayangkan saja jika masing-masing orang harus berpindah tempat, proses shalat tarawih tentunya akan menyulitkan.

Adapun hukum membaca shalawat di setiap dua rakaat tarawih, dijelaskan oleh Zainuddin bin Muhammad Al-Aydarus dalam Kitab Ittihaful Anam bi Ahkamis Shiyam menjelaskan:

وَأَمَّا الصّلَاةُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ رَكَعَاتِ التَّرَاوِيْحِ الْمُعْتَادَّةُ فِي بَعْض الْبُلْدَانِ فَهِيَ مِنْ جُمْلَةِ الْأَذْكَارِ الْمُتَقَدِّمَةِ وَهِيَ حَسَنَةٌ وَمَطْلُوْبَةٌ وَمَرْغُوْبٌ فِيهَا عَلَى الدَّوَامِ، فَغَالِبًا مَا يُصَلِّي عَلَى النَّبِي ثُمَّ يُعَقِّبُها دُعَاءٌ، وَيَخْتَمُ بِهَا أَيْضًا مَعَ الثَّنَاءِ عَلَى اللهِ تَعَالَى، وَهَذَا ثَابِتٌ مُجْتَمَعٌ عَلَيْهِ، وَهُوَ مِنْ أَسْبَابِ إِجَابَةِ الدُّعَاءِ.

Artinya, “Adapun shalawat kepada Nabi SAW di antara beberapa rakaat tarawih yang sudah biasa dilakukan di beberapa negara, yaitu kalimat zikir permulaan, adalah baik, dianjurkan dan disunahkan secara kontinu, pada biasanya membaca shalawat kemudian diikuti dengan doa, dan ditutup pula dengan shalawat serta pujian kepada Allah SWT, dan tradisi ini tetap dan telah disepakati, dan ia adalah sebab-sebab diistijabahnya doa,” (Lihat Zainuddin Al-‘Aydarus Al-Ba’alawy, Ittihaful Anam bi Ahkamis Shiyam, [Maktabah Al-Mujallad Al-‘Arabi], halaman 197).

Kemudian, diterangkan dalam kitab Al-Fatawa Al-Fiqhiyyah Al-Kubrâ, tanya jawab mengenai hukum membaca shalawat di setiap sesudah salam shalat tarawih.

ـ (وَسُئِلَ) فَسَّحَ اللَّهُ فِي مُدَّتِهِ هَلْ تُسَنُّ الصَّلَاةُ عَلَيْهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - بَيْنَ تَسْلِيمَاتِ التَّرَاوِيحِ أَوْ هِيَ بِدْعَةٌ يُنْهَى عَنْهَا؟

Artinya, “Imam Ibnu Hajar Al-Haitami–semoga Allah melapangkannya–apakah shalawat kepada Nabi SAW di antara salam shalat tarawih disunahkan atau bidah yang dilarang?”

ـ (فَأَجَابَ) بِقَوْلِهِ الصَّلَاةُ فِي هَذَا الْمَحَلِّ بِخُصُوصِهِ. لَمْ نَرَ شَيْئًا فِي السُّنَّةِ وَلَا فِي كَلَامِ أَصْحَابِنَا فَهِيَ بِدْعَةٌ يُنْهَى عَنْهَا مَنْ يَأْتِي بِهَا بِقَصْدِ كَوْنِهَا سُنَّةً فِي هَذَا الْمَحَلِّ بِخُصُوصِهِ دُونَ مَنْ يَأْتِي بِهَا لَا بِهَذَا الْقَصْدِ كَأَنْ يَقْصدَ أَنَّهَا فِي كُلِّ وَقْتٍ سُنَّةٌ مِنْ حَيْثُ الْعُمُومُ بَلْ جَاءَ فِي أَحَادِيثَ مَا يُؤَيِّدُ الْخُصُوصَ إلَّا أَنَّهُ غَيْرُ كَافٍ فِي الدَّلَالَةِ لِذَلِكَ.

Artinya, “Imam Ibnu Hajar menjawab, shalawat dalam keadaan ini dengan kekhususannya tidak ada dalilnya dalam sunah, juga tidak pada perkataan sahabat kami (ulama), maka itu adalah bidah yang dilarang bagi orang  yang melaksanakannya dan menganggap hal itu adalah sunah, dan tidak termasuk bidah yang terlarang, orang yang melaksanakannya bukan karena tujuan ini, seperti menganggap bahwa shalawat itu disunahkan di setiap waktu dari segi keumumannya, akan tetapi ada beberapa hadits yang menguatkan kekhususan shalawat, dengan catatan tidak cukup menjadikannya dalil,” (Lihat Imam Ibnu Hajar Al-Haitami, Al-Fatawa Al-Fiqhiyyatul Kubra, Al-Maktabah Al-Islamiyyah], juz I, halaman 186).

Kemudian Imam Ibnu Hajar menerangkan:

وَمِمَّا يَشْهَدُ لِلصَّلَاةِ عَلَيْهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - بَيْنَ تَسْلِيمَاتِ التَّرَاوِيحِ أَنَّهُ يُسَنُّ الدُّعَاءُ عَقِبَ السَّلَامِ مِنْ الصَّلَاةِ وَقَدْ تَقَرَّرَ أَنَّ الدَّاعِيَ يُسَنُّ لَهُ الصَّلَاةُ أَوَّلَ الدُّعَاءِ وَأَوْسَطَهُ وَآخِرَهُ وَهَذَا مِمَّا أَجْمَعَ عَلَيْهِ الْعُلَمَاءُ فِي أَوَّلِهِ وَآخِرِهِ

Artinya, “Salah satu dalil yang mendukung membaca shalawat di antara rakaat-rakaat shalat tarawih, yaitu disunahkan membaca doa setelah salam, dan sudah ditetapkan bahwa orang yang berdoa disunahkan membaca shalawat, di awal, di tengah, dan di akhir doa,” (Lihat Imam Ibnu Hajar Al-Haitami, Al-Fatawa Al-Fiqhiyyatul Kubra, [Al-Maktabah Al-Islamiyyah], juz I, halaman 186).

Dari keterangan di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa membaca shalawat di antara dua rakaat tarawih adalah sunah sesuai dengan kadar niatnya.

Kemudian bagaimana hukum membaca radhiyallahu anhu atau taradhdhi untuk Khulafaurrasyidin saat tarawih?

Zainuddin bin Muhammad Al-Aydarus dalam Kitab Ittihaful Anam bi Ahkamis Shiyam mengutip dari kitab Fatawa Ramadhan karya Sayyid ‘Abdullah bin Mahfudz Al-Haddad sebagai berikut:

وَهُوَ فِعْلٌ حَسَنٌ وَلَيْسَ بِدْعَةً ضَلَالَةً وَلَا أَنَّهُ سُنَّةٌ، فَمَنْ فَعَلَهُ فَقَدْ أَحْسَنَ، وَمَنْ تَرَكَهُ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ، وَالتَّرَضِّي عَنِ الصَّحَابَةِ دُعَاءٌ يُثَابُ عَلَيْهِ.

Artinya, “Membaca taradhdhi adalah perbuatan yang bagus, bukan bid'ah yang sesat, dan bukan pula sunnah. Siapa yang mengerjakannya, maka ia telah berbuat baik, siapa yang meninggalkannya maka tak ada dosa baginya, dan membaca radhiyaLlahu ‘anhu untuk sahabat Nabi adalah doa yang diberikan pahala,” (Lihat Zainuddin Al-‘Aydarus Al-Ba’alawy, Ittihaful Anam bi Ahkamis Shiyam, [Maktabah Al-Mujallad Al-‘Arabi], halaman 201).

Kesimpulannya, membaca shalawat dan membaca radhiyallahu ‘anhu setiap sehabis salam saat tarawih adalah sunah mengingat hadits nabi yang menganjurkan untuk memisah shalat sunah dengan berpindah atau berbicara. Hakikatnya, membaca shalawat dan radhiyallahu ‘anhu adalah doa.

Demikianlah penjelasan hukum membaca shalawat Nabi dan radhiyallahu ‘anhu di setiap sehabis salam saat tarawih. Semoga doa yang kita panjatkan kepada Allah SWT dikabulkan dengan membaca shalawat, begitu pula semoga mendapat berkah melalui para sahabat Nabi SAW. Wallahu a‘lam. (Amien Nurhakim)