IMG-LOGO
Pesantren

Gus Yusuf: Cinta Kasih Adalah Ciri Khas Pendidikan Pesantren

Kamis 19 Juli 2018 9:15 WIB
Bagikan:
Gus Yusuf: Cinta Kasih Adalah Ciri Khas Pendidikan Pesantren
KH Yusuf Chudlori, Pengasuh API Tegalrejo Magelang (Foto: Ist.)
Jakarta, NU Online
Pengasuh Pondok Pesantren Tegalrejo, Magelang, KH Yusuf Chudlori (Gus Yusuf) menjelaskan bahwa ciri khas pendidikan pondok pesantren adalah mengedepankan cinta kasih dan suri tauladan yang baik.  

Ia mencontohkan jika ada seorang pendidik merasa jengkel kepada peserta didik atau santrinya maka langkah yang terbaik adalah dengan mendoakan dan mengirimkan fatihah kepadanya. Langkah seperti inilah yang akan memunculkan ikatan batin dan rasa cinta kasih kepada mereka.

"Itulah ciri khas pendidikan pesantren. Ciri khas pendidikan pesantren itu didasari dengan cinta kasih," tegasnya dikutip NU Online dari video di Gus Yusuf Channel, Rabu (18/7).

Ia pun mengisahkan sebuah contoh bagaimana seorang kiai memberikan peringatan kepada peserta didiknya untuk tidak melakukan pelanggaran agar mampu menjadi pribadi yang lebih baik. Ia merujuk kepada kisah yang terdapat pada buku yang berjudul “Petuah Bijak dan Kisah Inspiratif Ulama Salaf Nusantara”.

Kisah itu terjadi di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, Jawa Timur, saat ada salah seorang santri yang suka keluar malam. Ia selalu lolos dari pengawasan pengurus pondok. Anehnya, justru KH Abdul Karim mengetahuinya.

"Lantas beliau menulis pada secarik kertas dengan tangannya sendiri, Kula mboten remen santri ingkang remen miyos (Saya tidak suka santri yang suka keluar). Tulisan tersebut kemudian beliau tempelkan di bawah bedug," lanjutnya.

Secara kebetulan, santri yang biasa keluar pondok tanpa izin itu ternyata pada malam harinya memilih tidur di bawah bedug. Betapa kagetnya santri itu, ketika membaca sebuah tulisan persis di depan matanya. Dia sangat mengenali tulisan itu, yang menulisnya adalah Mbah Kiai Abdul Karim. Yang selama ini dianggapnya tidak mengetahui kelakuannya selama ini.

"Setelah peristiwa menakjubkan pada malam itu, santri itu insaf. Dia tidak lagi keluar pondok pada malam hari. Kita mungkin tidak sanggup meniru persis cara Mbah Abdul Karim. Tetapi kita bisa meneladani kebijaksanaan dan kearifan beliau. Murid atau anak yang nakal, mendidiknya tidak dilakukan dengan kekerasan dan pemaksaan. Melainkan dengan kasih sayang dan do’a," ungkapnya.

Dari kisah ini Gus Yusuf mengingatkan bahwa pemaksaan dalam kadar tertentu memang akan menghasilkan tindakan seperti yang diinginkan si pemaksa. Tetapi pada saat yang bersamaan ia memantik bara api yang akan menjadi sumber bencana di waktu yang akan datang.

"Orang-orang yang terpaksa mengikuti dan melayani paksaan akan kehilangan rasa hormat kepada pemaksa. Seorang guru akan kehilangan kehormatan dari muridnya. Seorang bapak akan kehilangan bakti anaknya. Seorang suami akan kehilangan cinta istrinya," pungkasnya. (Red: Muhammad Faizin)
Bagikan:
Selasa 10 Juli 2018 13:0 WIB
Tradisi Unik Santri Baru di Pesantren Tremas
Tradisi Unik Santri Baru di Pesantren Tremas
Masjid Pesantren Tremas (Foto: Zainal Faizin)
Pacitan, NU Online
Sejak dibukanya tahun pelajaran baru pada tanggal 15 Syawal lalu, gelombang santri baru  yang mondok ke Pesantren Tremas Pacitan Jawa Timur terus berdatangan. Mereka datang dari berbagai daerah dan berangkat dari latar belakang budaya dan bahasa yang berbeda-beda.

Dalam sepekan ini, ratusan santri baru sudah mulai beradaptasi dengan aktfitas kegiatan dan kultur pesantren. Lalu apa saja kegiatan yang dilakukan santri baru di Pesantren Tremas? NU Online berhasil menghimpun beberapa tradisi unik santri baru di pesantren yang menjadi tempat kelahiran ulama internasional asal Nusantara, Syekh Mahfudz Attarmasi itu.

Tidak Tidur Siang Selama Satu Minggu

Dalam sepekan ini santri baru tengah menjalani sebuah tradisi unik yang sudah mengakar di kalangan santri Pesantren Tremas yaitu tradisi tidak tidur siang selama tujuh hari sejak hari pertama kedatangan mereka di Tremas.

Tidak tidur siang, suatu hal yang kelihatannya sepele dan ringan ini ternyata sangat sulit dilakukan. Dalam praktIknya, biasanya para santri baru selalu mendapat berbagai cobaan dan godaan, seperti merasakan kantuk yang sangat berat.

Untuk itu para santri senior biasanya dengan senang hati akan membantu mereka dengan selalu mengingatkan dan bahkan menunggui atau mengajaknya jalan-jalan keliling perkampungan Desa Tremas agar tidak tertidur.

Pada prinsipnya, tradisi seperti ini tidak terdapat dasar hukumnya sama sekali. Ini merupakan tradisi yang sudah  diwariskan secara turun temurun. Apalagi Pesantren Tremas pun tidak menulisnya dalam sebuah peraturan.

"Dicari dalilnya dalam kitab pun juga tidak ada. Namun bila kita cermati lebih jauh, tradisi ini merupakan suatu tes mental yang amat dalam maknanya untuk menguji sejauh mana kesungguhan dan ketekunan santri baru dalam menuntut ilmu di Tremas," jelas salah seorang pengurus Pesantren Tremas, Ustadz Jahrudin, saat ditemui NU Online, Senin (9/7) malam.

Apabila santri baru berhasil melakukan tradisi ini, maka itu merupakan pertanda baik bagi keberlangsungan belajar mereka di Pesantren Tremas. "Biasanya santri baru akan segera betah dan kerasan tinggal di pesantren kalau sudah lulus ujian mental yang  pertama ini," tambahnya.

Ziarah 41 Hari Tanpa Putus

Di pesantren yang didirikan oleh KH Abdul Manan Dipomenggolo pada tahun 1830 M ini, lahir sebuah tradisi unik yang sudah berjalan sejak ratusan tahun yang lalu, yaitu setiap santri baru “diusahakan”, bahkan ada yang  "wajib" untuk rutin berziarah ke makam masyayikh (sesepuh) Pesantren selama 41 hari berturut-turut tanpa putus.

Santri baru berusaha mentradisikan ziarah ke makam para sesepuh tiap pagi dan sore hari ke makam Gunung Lembu yang terletak sekitar 350 meter barat daya dari komplek pesantren Tremas dan makam Semanten yang terletak di sebuah bukit desa Semanten (pinggiran kota Pacitan) pada setiap hari Kamis dan Jumat.

Di makam gunung Lembu bersemayam para sesepuh dan pengasuh Pesantren Tremas, seperti KH Dimyathi, KH Abdurrozaq, KH Habib Dimyathi, KH Haris Dimyathi, KH Hasyim Ihsan, KH Toyyib Hasan Ba’bud, KH Mahrus Hasyim, dan para kiai Tremas yang lain.

Sedangkan di makam bukit Semanten, Pacitan, dimakamkan para kiai seperti KH Abdul Manan Dipomenggolo (Wafat 1860) pendiri pertama Pesantren Tremas Pacitan yang merupakan generasi pertama orang Indonesia yang belajar di Universitas Al Azhar Kairo Mesir, Sayyid Hasan Ba'bud dan sesepuh lainya.

Kegiatan berziarah selama 41 hari kelihatannya juga ringan dan gampang dilakukan, namun pada prakteknya sangat sulit untuk mencapai target sempurna, ada saja kendalanya, seperti hujan, ketiduran, dan halangan-halangan lainya.

Bila para santri berhasil mencapai target 41 hari tanpa putus, maka itu merupakan pertanda yang baik bagi mereka. Artinya mereka benar-benar sabar dalam menghadapi tes mental kedua ini, setelah tidak tidur siang selama satu minggu.

"Lagi-lagi ini merupakan tradisi unik yang sepertinya hanya ditemukan di Pesantren Tremas," kata Ustadz Jahrudin.

Dalam sebuah kesempatan peringatan Haul, Pengasuh Pesantren Tremas KH Fuad Habib Dimyathi mengatakan, salah satu wujud cinta kepada para ulama, diantaranya dengan sering menziarahi makamnya. Setidaknya, orang yang sering melakukan ziarah akan terlihat berbeda dengan orang yang tidak biasa melakukan ziarah ke makam para ulama.

“Banyak sekali hikmah dan manfaat ziarah kubur itu. saya haqqul yaqin, orang-orang yang sering ziarah kubur itu jauh berbeda wajahnya, peraupan-nya, ahwaliahnya (tingkah lakunya) dengan orang-orang yang tidak terbiasa melakukan ziarah kubur,” ungkap Kiai Fuad.

Ziarah kubur, imbuhnya, merupakan salah satu amaliyah yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW. Apalagi ziarah ke makam para ulama, walaupun sudah wafat, namun sejatinya mereka masih hidup di sisi Allah SWT.

Para santri Pesantren Tremas percaya akan hal itu dan merekapun berusaha mentradisikan ziarah sebagai bentuk ta'dhim (penghormatan) kepada para ulama.

Nahun, Tidak Pulang Selama 3 Tahun 3 Bulan

Tradisi Nahun, disebut juga tirakat atau lelakon. Tradisi ini pertama kali dilakukan oleh santrinya Simbah KH Dimyati (Wafat 1934 M), dimana pada saat itu perkembangan pesantren Tremas sangat pesat sehingga banyak santri yang datang menuntut ilmu dari berbagai penjuru nusantara, dan bahkan ada yang datang dari negara tetangga.

Karena letak pesantren yang jauh dari kampung halaman para santri, sementara waktu itu alat transportasi juga belum ada sama sekali kecuali gerobak dan sejenisnya, maka dilakukanlah "Nahun" dalam arti hakiki yaitu tekun belajar dan tidak keluar dari komplek pesantren dalam jangka waktu 3 tahun ataupun 3 bulan dan 3 hari.

Ustadz Jahrudin menerangkan, mengenai jangka waktu pelaksanaan tradisi Nahun sebenarnya tidak ada ketentuanya, dan hanya istilah yang digunakan para santri kala itu, bahkan pesantren Tremas pun tidak mengatur tentang hal ini.

Dia menjelaskan, ada sebuah kisah unik yang melatarbelakangi tradisi Nahun ini. Suatu ketika, Isteri KH Dimyathi yang bernama Nyai Khotijah yang sedang melakukan tirakat puasa selama 3 tahun, 3 bulan dan 3 hari, mengalami kejadian yang sangat aneh. Yaitu saat beliau mencuci beras untuk dimasak, tiba-tiba beras tersebut berubah menjadi emas.

Nyai Khotijah pun merasa kaget, seraya berdo’a: "Ya Allah, saya bertirakat bukanlah untuk mengharapkan emas atau harta benda dunia, akan tetapi saya memohon kepada-Mu ya Allah, jadikanlah Tremas ini bagian dari masyarakat, jadikanlah keluarga termasuk Ahlul Ilmi (ahli ilmu) dan jadikanlah santri-santri yang menuntut ilmu disini menjadi santri yang barokah," seraya membuang emas tersebut ke dalam sumur.

Setelah kejadian itu banyak santri yang melakukan tradisi Nahun sebagai bentuk tirakat agar kegiatan belajarnya di Pesantren Tremas senantiasa lancar dan berhasil mencapai tujuannya, hingga setelah terjun di masyarakat kelak.

Sesuai perkembangan zaman, tradisi ini tetap ditiru oleh generasi selanjutnya meskipun dengan versi yang berbeda-beda. Sekarang ini versi Nahun yang berlaku di kalangan santri Pesantren Tremas ada tiga. Pertama, tidak keluar dari komplek Pesantren Tremas. Kedua, tidak keluar dari wilayah Kabupaten Pacitan. Ketiga, tidak pulang ke rumahnya.

"Yang berlaku umum di kalangan santri Pesantren Tremas sekarang ini adalah tradisi Nahun sesuai kategori kedua dan ketiga, dengan waktu minimal 3 tahun," jelas Ustadz Jahrudin.

Dia menambahkan, kebanyakan mereka yang melakukan tradisi Nahun adalah santri yang berasal dari luar Jawa, namun pada perkembangannya, santri asal pulau Jawa juga banyak yang melakukan tradisi ini.

"Mereka yang melakukan Nahun berangkat dari keinginan mereka sendiri, didasari niat yang tulus untuk bersungguh-sungguh belajar dan berharap berkah dari para sesepuh Pesantren Tremas," pungkasnya.

Demikianlah tradisi-tradisi unik santri Pesantren yang tidak ditemui di lembaga lain manapun. Tradisi ini merupakan khazanah kekayaan pesantren yang keberadaanya masih terjaga dengan baik sebagai ciri khas pendidikan Islam asli Nusantara. (Zaenal Faizin/Muhammad Faizin)
Sabtu 7 Juli 2018 13:0 WIB
Mengikuti Mabisa Nuris (3-habis)
Tekad Pesantren Nuris Lahirkan Santri Milenial
Tekad Pesantren Nuris Lahirkan Santri Milenial
Jember, NU Online
Jika berbicara tentang santri, maka yang terbayang di benak sebagian kalangan adalah insan yang sopan, jujur dan ibadah terjamin. Yang disebut terakhir ini adalah satu keharusan, karena ibadah juga mempunyai implikasi yang tidak kecil bagi pembentukan karakter. 

Akan tetapi untuk dapat mencapai hal tersebut tidak datang tiba-tiba. Perbaikan sekaligus peningkatan kualitas shalat santri baru menjadi perhatian dalam Mabisa atau Masa Bimbingan Santri di Pondok Pesantren Nurul Islam (Nuris), Kelurahan Antirogo, Kecamatan Sumbersari, Jember, Jawa Timur.

“Sebab, santri mondok tujuan dasarnya adalah pembentukan karakter akhlak mulia dan penyempurnaan ibadah,” kata Pengasuh Pondok Pesantren Nuris, Gus Robith Qashidi kepada NU Online di sela Mabisa, Jumat (6/7).

Dalam pelaksanaan Mabisa tersebut, santri dibimbing khusus dalam soal shalat. Tentu saja tata cara shalat ala Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja). Mereka diajarkan bacaan dalam shalat hingga fasih, dan artinya kalimat demi kalimat juga disampaikan. Sehingga diharapkan mereka bisa lebih menjiwai dan khusyu saat melaksanakan rukun Islam ini.

“Jangan sampai shalat santri tidak karuan. Tidak menggunakan thuma’ninah, bacaannya tidak fasih dan sebagainya. Itu memalukan,” jelasnya.

Untuk memacu semangat santri baru, di akhir Mabisa nantinya mereka akan diberi penghargaan atau reward. Reward diberikan kepada tiga peserta terbaik, masing-masing untuk kategori akhlak, hafal syair-syair kitab Tarbiyatush Shibyan dan terbaik bacaan shalat. Itu berlaku bagi santri putra dan putri.

“Untuk penilaian akhlak memang tidak diumumkan dari awal agar bisa berjalan alami dan tidak dibuat-buat,” jelas Gus Robith.

Mabisa dilaksanakan selama dua bulan. Setiap hari usai shalat Isya digelar bimbingan dan sebagainya. Sedangkan pagi hari diadakan pangajian klasikal, dan setelah Magrib mengaji Al-Qur’an.

Mabisa Nuris tahun ini diikuti sekitar 1.200 santri baru. Mereka adalah calon siswa di lembaga pendidikan formal Nuris seperti SMP, MTs, SMK dan MA. Sejak sekian tahun lalu, Nuris menerapkan kebijakan bahwa pelajar SMP ke atas wajib mondok. Itu tak lain sebagai upaya untuk melayani pendidikan santri secara integral.

“Sebab ketika santri oleh orang tuanya sudah dipasrahkan, maka kami punya tanggung jawab penuh untuk mendidiknya,” ungkap Gus Robith. Dengan sistem pendidikan seperti itu, santri Nuris diharapakan benar-benar memiliki aura santri, baik tingkah laku maupun dalam ibadah, lanjutnya. 

Namun hal tersebut tentu tidak cukup. Sebab santri milenial juga dituntut untuk menguasai sains dan teknologi. Karena itu, Nuris sudah lama membentuk sebuah lembaga internal, yaitu Seksi Penjamin Mutu. Lembaga ini melayani bimbingan intensif untuk 32 bidang ekstra kurikuler. Karenanya tidak mengejutkan jika siswa-siswi Nuris kerap menyabet juara dalam berbagai ajang tingkat regional maupun nasional. (Aryudi Abdul Razaq/Ibnu Nawawi
Sabtu 7 Juli 2018 8:30 WIB
Mengikuti Mabisa Nuris (2)
Kalimat Pengingat Tersebar di Sekitar Pesantren
Kalimat Pengingat Tersebar di Sekitar Pesantren
Jember, NU Online
Pembinaan karakter, tidak semata ditentukan oleh pemberian materi maupun penerapan kurikulum yang baik. Namun  teladan pendidik juga memegang peranan penting untuk membentuk karakter murid. 

Karenanya, Pondok Pesantren Nurul Islam (Nuris), Kelurahan Antirogo, Kecamatan Sumbersari, Jember, Jawa Timur, juga sangat memperhatikan kualitas akhlak tenaga pengajar maupun karyawan. Hal ini juga tercermin dalam pelaksanaan Masa Bimbingan Santri (Mabisa) Nuris tahun ajaran 2018/2019. 

Menurut Pengasuh Pondok Pesantren Nuris, Gus Robith Qashidi, guru maupun panitia Mabisa harus memberikan contoh perilaku yang baik kepada segenap santri. Karena merekalah yang nantinya membimbing dan melayani santri baru dalam mengikuti Mabisa selama dua bulan. 

“Kurikulum harus didukung oleh perilaku pendidik yang baik. Guru wajib menjadi suri teladan bagi anak didiknya,” katanya kepada di NU Online di sela Mabisa, Jumat (6/7).

Lingkungan, kata Gus Robith, juga merupakan salah satu elemen penting dalam proses pembentukan karakter anak didik. Selain lingkungan pergaulan, lingkungan alam juga bisa dimanfaatkan agar ikut berperan. Itulah sebabnya, di Nuris ditemukan sejumlah tulisan hadits maupun perkataan (qaul) ulama yang berisi tentang akhlak. Semua tertempel di tembok dan tempat umum di lingkungan pesantren. 

“Tulisan tersebut sebagai pengingat bagi santri dan kita semua tentang satu hal. Dan itu tidak hanya saat Mabisa. Sepanjang tahun tulisan serupa pasti tertempel, namun beda tema,” jelasnya.

Tulisan pengingat itu terkait dengan problema hidup sehari-hari. Misalnya hadits yang mengingatkan: Jangan marah, maka engkau akan mendapatkan surga. Atau qaul ulama seperti perkataan Syaikh Muhammad bin Alwi Al-Maliki bahwa melekatnya ilmu dapat diperloleh dengan cara muthalaah, dan barakahnya bisa diraih dengan berkhidmat. Sedangkan manfaat bisa didapatkan dengan ridla sang guru, dan sebagainya.

“Jadi, ini salah satu teknik untuk mengingatkan santri, dan ini efektif karena setiap hari dibaca oleh santri dan siapa pun yang lewat,” tandasnya. (Aryudi Abdul Razaq/Ibnu Nawawi)  
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG