IMG-LOGO
Risalah Redaksi

UU Pesantren, Menuju Pesantren yang Lebih Berdaya

Ahad 23 September 2018 10:15 WIB
Bagikan:
UU Pesantren, Menuju Pesantren yang Lebih Berdaya
Ilustrasi (© Romzi Ahmad)
Disahkannya Rancangan Undang-Undang Pesantren dan Pendidikan Keagamaan sebagai RUU inisiatif DPR memberi harapan baru dalam upaya pemberdayaan pesantren yang selama ini kurang mendapatkan perhatian dari negara sebagaimana lembaga pendidikan lainnya. Para pemangku kepentingan pesantren kini secara intens memberikan masukan terkait dengan rancangan UU tersebut. Upaya legislasi terhadap pesantren ini akan mengatasi berbagai masalah aturan hukum terkait dengan pemberdayaan pesantren dari tingkat nasional sampai ke daerah.

Pesantren tumbuh dan besar karena inisiatif dari para tokoh agama untuk mendidik masyarakat, khususnya dalam bidang agama. Sebagai lembaga pendidikan yang dianggap informal, maka keberadaannya kurang mendapatkan perhatian dari negara. Apalagi saat pemerintahan dikelola orang orang-orang yang kurang paham atau tidak suka dengan komunitas pesantren. Padahal pesantren telah mendidik masyarakat dan menjaga moral bangsa. 

Dengan segala keterbatasannya, pesantren tetap mampu bertahan. Sebagian bahkan mampu memberi pengaruh dalam kehidupan nasional. Sejumlah pesantren besar mampu mengembangkannya sampai ke tingkat pendidikan tinggi. Namun, masih banyak yang kondisinya sangat sederhana dan butuh dukungan agar bisa tumbuh dan berkembang.

Sejarah panjang tentang diskriminasi pesantren atas lembaga pendidikan lain sudah terjadi sejak era kolonial. Bahkan, pada saat tersebut, pesantren menjadi basis perlawanan terhadap pemerintahan kolonial. Pesantren mengambil sikap oposisi atas segala macam yang berbau penjajah. Sebagai strategi kultural, penggunaan pakaian model Belanda dilarang karena dianggap meniru para kolonialis. Era Orde Lama, pesantren menjadi basis kuat dalam menghadapi kelompok komunis yang berusaha melakukan berbagai provokasi. Pada era Orde Baru, NU dianggap sebagai oposisi kuat. Segala hal terkait dengan infrastruktur sosial NU berusaha dieliminasi perkembangannya, termasuk di dalamnya lembaga pendidikan pesantren. Baru pada era Reformasi, pengakuan dan upaya pengembangan pesantren terus bertumbuh. 

Dengan situasi tertekan pada periode yang panjang ini, pesantren tertinggal dalam banyak hal dibandingkan dengan lembaga pendidikan lain. Sarana dan prasarana yang ada di lingkungan pesantren sangat terbatas. Pada banyak pesantren, para santri harus tidur berdesak-desakan, mandi harus mengantri, kelas yang apa adanya, dan beragam keterbatasan lainnya. Pesantren bukan menjadi pilihan pertama dan utama bagi banyak keluarga untuk mendidik putra-putrinya. Orang tua mengirimkan anak-anaknya ke pesantren dengan tujuan utama untuk mendidik moral agama, bukan untuk capaian prestasi akademik.  

Upaya pemangku kepentingan pesantren untuk mengatasi masalah ini dilakukan dengan membentuk pesantren modern atau pesantren muadalah, yaitu pesantren yang para santrinya diarahkan untuk melanjutkan ke pendidikan lebih tinggi setelah mereka tamat dari pesantren. Bahkan pada pesantren muadalah, yaitu pesantren yang disetarakan dengan SMA/MA, sejumlah universitas di Timur Tengah telah mengakuinya terlebih dahulu dibandingkan dengan perguruan tinggi di Indonesia. Pesantren modern merupakan upaya inovasi untuk memberi pilihan pendidikan di pesantren yang arahnya tidak untuk menjadi ulama, tetapi memberi bekal kepada santri dengan pengetahuan agama yang cukup buat hidupnya secara pribadi, tidak untuk ahli agama.

Pesantren salaf, yang sedari awal diorientasikan untuk mendidik calon-calon ahli agama, kini semakin sedikit peminatnya. Mereka kalah bersaing dengan perguruan tinggi Islam yang menawarkan gengsi dengan gelar sampai dengan tingkat doktor dan akses lebih luas. Salah satu solusi yang ditawarkan adalah pendirian ma’had ali yang menyetarakan pendidikan di pesantren setingkat dengan sarjana. Kemungkinan ke depan akan ada inovasi lebih lanjut di masa depan.

Dukungan pemerintah yang lebih kuat akan membuat pesantren lebih berdaya dari sebelumnya. Pendanaan yang lebih adil sebagaimana diterima oleh institusi pendidikan lainnya seperti sekolah atau perguruan tinggi memungkinkan pesantren mengejar ketertinggalannya. Dan untuk itu diperlukan perundang-undangan sebagai dasar hukum. 

Untuk menghasilkan pendidikan bermutu, kebutuhan akan sarana dan prasarana yang baik menjadi kemutlakan. Teknologi informasi sudah menjadi bagian integral dalam proses belajar mengajar. Jika standar sarana dan prasarana pendidikan di pesantren tidak setara dengan lembaga pendidikan lainnya, maka pesantren akan selalu ketinggalan.

Hal yang saja juga terjadi para tenaga pengajar. Saat ini, para pengajar di pesantren bersedia mengajar sebagai bentuk pengabdian kepada agama.  Tetapi mereka memiliki kebutuhan pribadi yang harus dipenuhi dengan baik dan kebutuhan untuk mengembangkan ilmunya. Semua hal tersebut membutuhkan pendanaan yang baik. 

Sejauh mana kurikulum pesantren yang ada saat ini sudah memenuhi kebutuhan masyarakat? Para pengaruh pesantren perlu secara terus menerus melakukan evaluasi agar lulusan pesantren mampu memenuhi kebutuhan masyarakat akan solusi keagamaan. Sebagai contoh, kini ekonomi syariah atau ekonomi Islam berkembang dengan pesat dalam bentuk bank syariah, sukuk, asuransi syariah dan beragam akadnya. Perkembangan ekonomi modern menghasilkan beragam inovasi akad yang belum ada pada masa klasik. Kebutuhan akan kajian fiqih kontemporer di pesantren menjadi penting untuk menyesuaikan diri dengan konteks kekinian. 

Dalam kehidupan politik, bentuk pemerintahan juga mengalami perkembangan dari kekhilafahan, kerajaan, atau republik. Bentuk negara saat ini adalah negara bangsa sedangkan pemerintahannya berbentuk parlementer atau presidensial. Kitab Al-Ahkamus Shulthaniyah karya Al Mawardi yang selama ini menjadi rujukan terkait dengan politik tidak lagi memadai dalam membaca konteks kekinian.
  
UU Pesantren ini nantinya tidak akan bertentangan dengan UU Sisdiknas yang sudah ada sebelumnya mengingat dalam UU tersebut, hal terkait dengan pesantren tidak diatur secara khusus, padahal terdapat sekitar 10 juta santri di seluruh Indonesia. Yang perlu diperhatikan adalah, jangan sampai terjadi terjadinya peraturan yang saling bertentangan antara dua UU tersebut karena dua-duanya mengatur soal pendidikan di Indonesia. UU Sisdiknas mengatur pendidikan secara umum, sedangkan UU Pesantren mengatur secara khusus pesantren dan pendidikan keagamaan lainnya. 

Di luar soal pentingnya dukungan pendanaan, kebijakan negara yang ramah terhadap pesantren sangat diperlukan. Pesantren yang tumbuh dan berkembang di masyarakat selama ini memiliki otonomi yang luas. Karena itu, kurikulum pesantren bisa sangat beragam. Sebagian besar pesantren mengutamakan kajian fiqih, tetapi ada pesantren Al-Qur’an, pesantren untuk pengalaman tarekat, atau bahkan ada pesantren untuk mempelajari ilmu-ilmu hikmah. Mengatur keberagaman seperti ini bukan hal yang gampang. Di sisi lain, negara harus mempertanggungjawabkan dana yang disalurkannya kepada publik sebagai mekanisme sistem demokrasi. 

Demikian pula, bagaimana mengatur munculnya pesantren non-arus utama dengan afiliasi ideologi luar negeri yang berpotensi merongrong kedaulatan NKRI, atau bahkan pesantren-pesantren yang berpotensi mengajarkan radikalisme harus mendapatkan perhatian serius. Sekalipun jumlah mereka sangat minim, tetapi jangan sampai hal tersebut berkembang. Jangan sampai negara memfasilitasi institusi pendidikan keagamaan yang malah mengancam eksistensi negara itu sendiri.  

Masih banyak hal yang perlu diatur secara lebih detail jika UU tersebut disahkan. Sejumlah aturan turunan diperlukan. Mengingat saat ini pemerintahan sudah otonom di tingkat kabupaten dan kota, UU ini akan menjadi panduan pembuatan aturan di tingkat yang lebih bawah. Selama ini, banyak keluhan dari kepala daerah yang ingin membantu pesantren, tetapi tidak ada undang-undang yang memayunginya sehingga mereka takut dianggap melakukan maladministrasi. 

Pemberdayaan pesantren akan menjadi bagian dari cita-cita besar menjadikan Indonesia sebagai pusat peradaban Islam dunia. Cita-cita besar tanpa langkah konkret untuk meningkatkan kualitas pendidikan Islam hanyalah omong kosong yang sia-sia. (Achmad Mukafi Niam)

Tags:
Bagikan:
Jumat 14 September 2018 13:45 WIB
Kepada Siapa Para Pesohor Berhijrah dan Belajar Agama?
Kepada Siapa Para Pesohor Berhijrah dan Belajar Agama?
Ilustrasi (via superprof.de)
Kehidupan masa kini menawarkan berbagai macam kenikmatan yang bisa diteguk oleh siapa saja. Perzinaan menjadi sesuatu yang dianggap normal. Narkoba, minuman keras, perjudian, dan hal-hal lain yang dianggap melanggar norma dan hukum, bisa diakses dengan gampang. Dunia adalah kebebasan. Siapa pun yang memiliki uang atau akses, berhak menikmatinya. Jalan hidup inilah yang diyakini dan dipraktikkan oleh sebagian dari para pesohor yang memuja kebebasan dan hedonisme.

Di antara para pesohor ada yang tertangkap menggunakan narkoba, ada yang video pornonya beredar di masyarakat. Tak sedikit pula yang bergonta-ganti pasangan. Berpakaian seksi yang memperlihatkan lekuk-lekuk tubuh dan bagian tubuh yang terbuka dianggap sebagai hal yang lumrah untuk menarik perhatian publik. Semuanya atas nama hak untuk melakukan apa saja karena manusia memiliki otoritas penuh atas tubuh dan pikirannya.

Bagi pemuja ideologi kebebasan, ajaran agama dianggap menjadi penghambat kemajuan. Agama menurut mereka adalah nilai-nilai kuno yang sudah tidak relevan dengan kondisi kekinian. Penganut agama yang taat dipandang sebagai orang-orang kolot. Para pemuja nilai hidup bebas menjadi pelaku dan penyebar kesenangan sesaat. 

Mereka beralasan, hidup tidak boleh dikekang karena membutuhkan kreativitas untuk menghasilkan kreasi baru. Apakah sesungguhnya memang demikian? Apakah kreativitas selalu dimaknai hidup sesukanya, tanpa aturan yang dirasa menghambat seseorang menikmati hidup? Ada beragam jawaban yang bisa disuguhkan. Faktanya banyak pesohor dengan perilaku hidup normal mampu menghasilkan karya yang berkualitas dan disukai oleh publik. 

Berkembangnya individualisme menyebabkan nilai-nilai kebebasan berperilaku berkembang massif. Tak ada lagi kontrol dari masyarakat karena selama dianggap tidak menganggu orang lain, hal tersebut boleh saja dilakukan. Di lingkungan perkotaan, hal tersebut tumbuh subur di mana hubungan masyarakat lebih renggang dibandingkan di pedesaan. Ada pihak yang menginginkan layanan dan ada yang siap menyediakannya. Sebagian pesohor menjadi model dalam pengembangan gaya hidup ini.

Di tengah lingkungan yang selalu mengagungkan sikap hidup hedonis ini, beruntung selalu ada para dai yang berusaha berdakwah untuk mereka. Dan sebagian di antara pelakunya berhasil disadarkan. Orang-orang yang tersadar bahwa kehidupannya penuh kubangan dosa dan kemudian ingin kembali ke jalan yang benar menggunakan istilah hijrah untuk perpindahan ini. Mereka bertobat dan berusaha menjalani kehidupan sesuai ajaran agama. Sebagian yang berhijrah adalah para pesohor.

Pesohor merupakan orang-orang yang memiliki pengaruh terhadap publik. Mereka memiliki jutaan penggemar yang mengawasi seluruh perilakunya. Bukan hanya perilakunya di depan publik, hal-hal yang bersifat pribadi pun menimbulkan ketertarikan. Media pun mengorek-korek apa saja yang kiranya bisa menjadi berita dan disukai penggemarnya. Jika ada perubahan dalam hidupnya, hal tersebut segera saja menarik perhatian. Ada pula sebagian yang mengikuti langkah yang dilakukan, atau minimal mendukungnya. 

Pada masyarakat umum, jumlah mereka yang bertobat atau berusaha menjadi Muslim yang lebih baik lebih banyak lagi, tapi memang mereka tidak banyak disorot. Orang-orang di lingkungan sekitar kita yang sebelumnya cuek soal agama, kini lebih rajin mengaji agama. Status media sosialnya penuh dengan ungkapan religius. Pada perempuan, mereka berusaha memperbaiki penampilannya dengan berjilbab. Jutaan orang pergi berumrah. 

Upaya untuk kembali ke jalan yang benar tentu harus kita syukuri bersama saudara-saudara Muslim yang kembali menemukan makna hidupnya dalam jalan agama layak untuk ditemani dalam proses mereka memperbaiki hidup. Ada orang-orang yang telah belajar agama ketika kecil di pesantren atau tempat lain sebelum mereka masuk ke dunia tersebut sehingga ketika jatuh dalam kehidupan kelam, mereka tahu jalan untuk kembali. Yang terjadi pada banyak orang, bekal pengetahuan agama yang dimiliki sangat kurang. Bahkan untuk hal-hal yang sangat sederhana seperti cara berwudhu yang baik dan bacaan shalat yang benar saja tidak bisa. 

Tanpa pendampingan, bisa saja mereka kembali kepada perilaku sebelumnya karena proses tersebut sangat berat. Semangat saja tidak cukup mengingat iman bisa naik atau turun. Dibutuhkan energi besar, ketangguhan, dan konsistensi yang luar biasa untuk bisa bertahan. Hidup yang biasanya penuh dengan kebebasan, kini dibatasi oleh banyak hal. Biasanya bebas tidur kapan saja, kini harus menjalankan shalat sebanyak lima kali dalam sehari. Sebelumnya boleh makan apa saja, kini hanya makanan halal saja yang boleh masuk dalam perut. Jika mental tidak kuat, bisa saja runtuh menghadapi kebiasaan-kebiasaan baru ini. 

Beratnya proses berhijrah ini bisa dilihat dari seorang pesohor yang mengubah perilaku dan penampilannya. Sayangnya, tak lama kemudian, ia kembali berjoget-joget. Konon hal tersebut dilakukan karena kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan. Ini menunjukan bahwa untuk bisa tetap istiqamah memang membutuhkan perjuangan. 

Hal lain yang tak kalah penting adalah, kepada siapa mereka berhijrah ini belajar agama. Ada beberapa kelompok dalam Islam. Bahkan masing-masing kelompok memiliki subkelompok atau organisasi sendiri-sendiri. Ada pengikut Ahlusunnah wal Jama’ah, ada Salafi, Wahabi, Tarbiyah, dan lainnya. Secara organisasi bisa berafiliasi dengan NU, Muhammadiyah, Jamaah Tabligh, Persis, dan lainnya. Tiap aliran memiliki perbedaan dalam sejumlah pandangan keagamaan atau sikap politik. 

Memberi pemahaman bahwa dalam Islam terdapat banyak pendapat terkait satu persoalan atau masalah khilafiyah juga sangat penting. Jangan sampai, orang-orang yang baru berhijrah ini memiliki pandangan sempit bahwa ajaran dari gurunya saja yang benar. Pandangan Islam yang lainnya penuh dengan bid’ah, sesat atau bahkan kafir. Hal ini akan menjadi persoalan baru dalam interaksi antarsesama umat Islam. Kasus ini pernah menimpa seorang pesohor yang mengaku sudah bertobat. Penampilannya berubah total. Jenggot tebal dan panjang menghiasi wajahnya. Ia berpendapat di depan media bahwa bacaan Alfatihah yang dikirimkan kepada orang yang sudah meninggal tidak akan sampai. Pernyataan kontroversial tersebut akhirnya memicu perdebatan publik sehingga dia harus minta maaf.

Ada yang kehilangan pekerjaan karena berhijrah, tetapi ada pula yang mendapatkan pekerjaan baru untuk produk-produk yang mengambil segmen Muslim. Beberapa pesohor perempuan yang sebelumnya tampil menantang kemudian bertobat, mengubah penampilannya dengan menutup aurat. Lalu, ia menjadi bintang iklan untuk produk-produk kosmetik perempuan. Sebagian keluar sepenuhnya dari dunia yang membesarkannya dengan membangun usaha baru, sementara yang lain tetap menggelutinya dengan sejumlah pembatasan.

Sebagain dari mereka istiqamah dalam berhijrah dan mendalami Islam sehingga pengetahuannya terus meningkat, lalu menjadi dai dengan memanfaatkan posisinya yang sudah dikenal publik. Mengisahkan perjalanan hidupnya kepada orang banyak dan mengajak orang lain untuk bergabung dalam barisan yang menuju kebaikan. Hijrahnya mendorong sebagian pengikutnya untuk mengambil tindakan yang sama. Banyak pula yang kemudian hidup sebagai orang normal yang tidak lagi disorot oleh publik. 

Kini, tantangannya adalah bagaimana mewarnai lingkungan para pesohor beraktivitas dengan hal-hal yang lebih religius, yang sesuai dengan nilai-nilai agama. Mereka dapat menjadi pelaku dakwah yang membantu membantu menyadarkan orang-orang untuk kembali ke jalan yang benar. Dengan status sebagai pesohor, dakwah yang mereka lakukan dapat berjalan dengan lebih maksimal. (Achmad Mukafi Niam)

Ahad 9 September 2018 16:15 WIB
Mewaspadai Terulangnya Krisis Ekonomi
Mewaspadai Terulangnya Krisis Ekonomi
Ilustrasi (eadaily.com)
Nilai tukar dolar terhadap rupiah sempat mencapai level psikologis 15 ribu rupiah per dolar AS baru-baru ini. Sejumlah kekhawatiran muncul, apakah Indonesia akan kembali jatuh dalam kubangan krisis ekonomi seperti tahun 1998 lalu yang memporakporandakan kehidupan ekonomi dan sosial. Turki, salah satu negara yang dianggap berhasil dalam melakukan pembangunan, kini sedang mengalami kesulitan ekonomi. Nilai tukar mata uang Turki, lira telah turun sekitar 70 persen dari awal tahun 2018 saja. Ada keresahan bahwa situasi yang terjadi di Turki akan merembet ke Indonesia. Sekalipun sementara nilai tukar dolar terhadap rupiah bisa dikendalikan di bawah 15 ribu, suatu saat bisa bergejolak lagi.

Perubahan nilai tukar sangat mempengaruhi kondisi perekonomian terkait dengan daya beli. Jika kita memiliki uang 100 juta, saat nilai tukar dolar dengan rupiah 14 ribu, maka kita memiliki uang sebanyak 7.142,86 dolar. Saat nilai kurang dolar naik menjadi 15 ribu, maka nilai uang kita tinggal 6.666,67 dolar atau sudah berkurang sebesar 458,19 dolar, sekalipun tetap 100 juta pada mata uang rupiah. 

Jika kita punya pinjaman seribu dolar, saat kurs 14 ribu rupiah per dolar, maka hutang kita jika dihitung dalam mata uang rupiah hanya14 juta rupiah. Saat kurs dolar naik menjadi 15 ribu, utang kita menjadi 15 juta, naik 1 juta rupiah tanpa kita sadari, sekalipun tetap seribu dolar. Naik turunnya nilai tukar menyebabkan kita menjadi lebih kaya atau miskin tanpa kita terasa. 

Saat nilai dolar naik, harga barang-barang yang harus diimpor menjadi lebih mahal. Bukan hanya produk elektronik seperti laptop atau handphone, dan sejumlah barang mewah tetapi Indonesia juga mengimpor berbagai produk pangan seperti gandum, beras, garam, gula, bahkan termasuk kedelai untuk membuat tempe. Masyarakat mengeluh akibat harga barang-barang kebutuhan pokok yang tidak terkendali.

Sebaliknya, produk-produk yang diekspor ke negara lain harganya menjadi lebih mahal jika dihitung dalam mata uang rupiah, sekalipun tetap sama dalam mata uang dolar. Eksporter CPO, karet, garment, elektronik, dan produk lainnya dari Indonesia akan mendapatkan berkah keuntungan tambahan tanpa melakukan satu tindakan apapun.

Pejabat pemerintah berusaha menenangkankan masyarakat bahwa kondisi fundamental ekonomi Indonesia saat ini berbeda jauh dengan tahun 1998 saat Indonesia mengalami krisis. Kurs saat krisis turun dengan cepat dari 2500 menjadi sekitar 8-10 ribu atau turun 80 persen. Rupiah sempat mencapai 15.500 pada 17 Juni 1998. Cadangan devisa juga dalam posisi yang jauh lebih baik, saat itu sekitar 23 miliar dollar sedangkan saat ini menjadi 118 miliar dollar. Inflasi tahun 1998 sebesar 77.6 persen sedangkan antara Januari-Agustus 2018 ini, inflasi hanya 2.31 persen. Daftar perbedaan tersebut masih bisa dibuat lebih panjang.

Berbagai perlindungan sosial juga telah diterapkan seperti adanya jaminan kesehatan yang diselenggarakan oleh BPJS, kartu keluarga sejahtera (KKS), biaya operasional sekolah (BOS) atau tunjangan lainnya yang diberikan oleh pemerintah daerah sesuai dengan kemampuan anggaran seperti Kartu Pintar untuk para pelajar di DKI Jakarta. Hal ini membuat daya beli masyarakat tetap terjaga dari berbagai gejolak. Kualitas pelayanan publik dan keberadaan infrastruktur Indonesia jauh lebih baik dari 20 tahun lalu. Sejauh ini, situasi tetap terkendali. 

Tahun ini merupakan tahun politik. Pihak oposisi pemerintahan memanfaatkan gejolak nilai tukar sebagai bahan untuk melakukan serangan terhadap pemerintah. Jumlah utang negara yang terus membengkak juga dijadikan alasan bahwa rezim kali ini menambah pinjaman yang bisa membahayakan negara. Penurunan jumlah orang miskin yang persentasenya sangat rendah juga menjadi kritik. Selalu ada hal yang bisa menjadi bahan kritikan kepada pemerintah. 

Sementara itu, pihak pemerintah berusaha membangun persepsi bahwa kondisi fundamental ekonomi Indonesia baik-baik saja. Permasalahan ada pada faktor eksternal seperti kebijakan penaikan suku bunga acuan Bank Sentral Amerika Serikat. Akibatnya, dolar yang sebelumnya diinvestasikan di berbagai belahan dunia kembali balik kandang ke negari Paman Sam karena memberikan imbal hasil investasi yang lebih tinggi dengan tingkat keamanan investasi yang lebih baik. Jika dibandingkan dengan negara lain, penurunan mata uang Indonesia masih jauh lebih terkendali dibandingkan dengan negara lain seperti Argentina (- 119%), Turki (-77%), Afsel (-26%), Brazil (-25%), dan India (-12%). Mata uang Indonesia hanya turun sekitar 11 persen.

Faktor lain yang menjadi penyebab gejolak mata uang adalah kebijakan proteksionisme Trump yang mengakibatkan terjadinya perang dagang antara mitra dagang Amerika Serikat, yaitu China dan Uni Eropa. Situasi ini menyebabkan ketidakstabilan dan ketidakpastian yang menganggu sistem perdagangan terbuka yang selama ini sudah berjalan. Amerika Serikat menerapkan tarif impor barang yang tinggi pada sejumlah produk yang berasal dari China dan Uni Eropa. Kebijakan tersebut kemudian dibalas atas sejumlah item dari AS yang masuk ke masing-masing negara. 

Sekalipun perang dagang hanya berlangsung di beberapa negara besar, tetapi pengaruhnya bisa melebar ke mana-mana. Sistem produksi rantai global menyebabkan hambatan produksi di satu wilayah menyebabkan permasalahan lain. Dalam sistem ini, sejumlah item atau komponen produksi diproduksi di berbagai dunia dengan mencari ongkos produksi yang paling efisien. Komponen-komponen tersebut dirakit di satu tempat untuk menjadi produk akhir, yang kemudian didistribusikan kembali ke seluruh dunia. 

Sebuah telepon cerdas merupakan produk akhir dari berbagai komponen yang berbagai negara. Transistor mungkin berasal dari Korea Selatan, item lain bisa berasal dari Indonesia, Taiwan, Malaysia atau negara lain. China menjadi tempat produk akhir yang kemudian oleh perusahaan pemegang merek yang berasal dari Amerika Serikat, dijual ke seluruh dunia. Adanya hambatan lalu lintas produksi karena tarif menyebabkan seluruh rantai produksi dari hulu ke hilir menjadi tidak lancar. 

Situasi ekonomi dunia banyak tergantung pada China dan Amerika Serikat. China menyerap banyak bahan baku untuk barang-barang yang diproduksi di negari tirai bambu tersebut. Indonesia mengekspor batubara, pulp dan kayu, karet, produk nabati dan hewani serta lainnya ke China untuk memenuhi kebutuhan industri di sana. Saat permintaan barang hasil produksi dari China turun atau dihambat, maka permintaan bahan baku juga menurun. 

Krisis ekonomi merupakan sesuatu yang tak dapat dikendalikan sepenuhnya. Amerika Serikat sendiri pernah mengalami krisis ekonomi pada 2008 sekalipun di negeri tersebut, terdapat ekonom paling pintar sedunia. Sekalipun perangkat pemerintahan untuk mengendalikan ekonomi telah berjalan dengan baik dibandingkan dengan negara-negara lain. Mereka juga telah belajar dari Depresi Besar yang terjadi pada 1929, toh krisis tetap terjadi.

Penjaga kondisi ekonomi Indonesia yang merupakan sebuah tim yang terdiri dari Bank Indonesia (BI), Kementerian Keuangan, dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia menentukan kebijakan moneter, Kementerian Keuangan merencanakan dan mengatur besarnya pendapatan dan belanja pemerintah, sedangkan OJK bertugas mengawasi lembaga keuangan di Indonesia. 

Mereka bagai sebuah tim yang mengendalikan kendaraan dalam sebuah perjalanan penuh liku dan jalanan yang bergelombang. Ngebut akan cepat sampai, tetapi menimbulkan risiko kecelakaan, terlalu berhati-hati, tentu akan lambat sampai di tujuan. Saat situasi ekonomi sedang kurang stabil, BI menaikkan suku bunga acuran sehingga masyarakat lebih suka menyimpan uangnya di bank dibandingkan membelanjakannya atau jika dalam denominasi dolar, maka uang tersebut tetap disimpan di Indonesia, tidak dibawa ke luar negeri. Kementerian Keuangan menentukan, mana saja proyek yang perlu ditunda dan mana yang harus tetap dilaksanakan sedangkan OJK mengawasi agar lembaga keuangan tetap terkelola risikonya. Kombinasi berbagai kebijakan tersebut menentukan arah dan kecepatan kebijakan dalam sektor keuangan.

Indonesia telah banyak belajar dari krisis 1998. Tata kelola lembaga-lembaga keuangan telah diperbaiki, tingkat risiko lebih terkelola. Kondisi perekonomian juga jauh lebih baik. Langkah-langkah antisipatif lainnya telah dilakukan. Namun kewaspadaan tinggi harus tetap dijaga. Dunia yang semakin terhubung menyebabkan krisis yang terjadi di satu tempat dengan cepat menyebar ke tempat lainnya. Amerika Serikat, Yunani, Argentina dan lainnya telah mengalami pahitnya krisis ekonomi. Siapapun dapat mengalami hal ini jika tidak mampu mengelola ekonomi dengan baik. Warga dengan pendapatan terbawah yang paling akan terdampak. (Achmad Mukafi Niam)

Sabtu 1 September 2018 13:30 WIB
Sukses Asian Games, Momentum Perbaikan Olahraga Indonesia
Sukses Asian Games, Momentum Perbaikan Olahraga Indonesia
Ilustrasi (Antaranews)
Rakyat Indonesia kini dilanda eufaria Asian Games. Ada kebanggaan sebagai sebuah bangsa bahwa kita memiliki prestasi olahraga yang baik di tingkat Asia. Target 16 medali emas ternyata bisa terlampaui dengan perolehan 30 medali emas. Cabang pencak silat yang merupakan olahraga bela diri asli Indonesia memberi sumbangan besar terhadap perolehan emas sebanyak 14 buah atau mencapai komposisi 46.67 persen. Cabang yang tak diunggulkan pun ternyata memberi sumbangan emas, yaitu balap sepeda gunung yang meraih dua emas. Para atlet Indonesia berusaha sekuat tenaga untuk mencapai prestasi terbaik guna mengharumkan nama bangsa. 

Kegembiraan ini sungguh wajar, mengingat selama bertahun-tahun dalam berbagai ajang olahraga internasional, tak banyak medali emas yang berhasil dibawa pulang. Bahkan dalam SEA games, Indonesia bukanlah negara yang selalu berada di puncak klasemen, sekalipun ada jutaan anak muda berbakat dalam bidang olahraga. SEA Games terakhir yang diselenggarakan di Singapura pada 2015 lalu, kontingen Indonesia hanya berada pada peringkat 5, di bawah negara kecil seperti Singapura, Vietnam dan Malaysia, serta Thailand yang menjadi juara umum. Pada Asian Games di Guangzou China (2010) dan Incheon Korsel (2014), Indonesia masing-masing hanya mendapatkan empat emas. Prestasi saat ini mengobati kekecewaan yang terus-menerus dirasakan dalam bidang olahraga.

Capaian saat ini tentu saja harus kita syukuri dengan baik. Posisi sebagai tuan rumah memberikan keuntungan tersendiri karena adanya dukungan publik dan para atletnya dipersiapkan dengan lebih baik. Strategi-strategi sukses saat bisa menjadi pijakan untuk keberhasilan Indonesia dalam ajang olahraga internasional berikutnya seperti Olimpiade Tokyo tahun 2020. Ujian sebenarnya bagi tim kita adalah ketika berkompetisi di negara lain. Di bawah tekanan pendukung dari negara lain dan dalam situasi yang tidak diakrabinya. Jika kita mampu, prestasi tersebut akan lebih membanggakan lagi. Jangan sampai kita hanya serius mengelola olahraga saat menjadi tuan rumah, tetapi melempem saat kompetisi diselenggarakan di negara lain.

Dari prestasi olahraga, sebuah bangsa membangun nasionalismenya. Jutaan orang menyambut juara piala dunia di pusat kota. Stadion selalu penuh ketika tim kebanggaan nasional bertanding. Dan bagi yang tidak bisa datang langsung, mereka menyaksikannya melalui layar kaca atau streaming dari telepon cerdasnya. Ungkapan kebangaan disampaikan melalui media sosial saat kemenangan tiba. Merekalah pahlawan masa kini yang mengangkat harga diri sebuah bangsa.   

Dalam  strategi kompetisi di arena internasional, cabang-cabang olahraga yang sudah kuat inilah yang harus diperkuat agar perolahen medali emasnya banyak. Ini merupakan salah satu keunggulan bersaing yang secara khas dimiliki negara-negara tertentu. Para juara lari dikenal banyak yang berasal dari negara-negara di Afrika, Sepak bola, tentu saja semuanya paham, bahwa tradisi sepak bola sangat kuat di Amerika latin sementara Amerika Serikat dengan kompetisi basket yang sudah mapan, selalu mendominasi olahraga ini. Indonesia yang cukup kuat adalah bidang bulu tangkis dan pencak silat. Saatnya mengidentifikasi bidang-bidang lainnya yang memiliki potensi untuk dikembangkan dengan baik karena tak mungkin kita bisa unggul dalam semua cabang olahraga. 

Untuk mencapai prestasi olahraga dalam tingkat internasional, dibutuhkan komitmen kuat dalam jangka panjang. Para atlet harus berlatih keras sepanjang hari selama bertahun-tahun. Perbedaan dalam hitungan detik dalam sebuah lari 100 meter dihasilkan dari latihan ketat yang membutuhkan ketahanan fisik dan mental. Selain itu juga dibutuhkan komitmen kuat negara untuk memberikan dukungan bagi pengembangan atlet.

Negara memiliki peran penting dalam pembinaan atlet dan penyediaan anggaran. Sebelum mencapai level nasional, atlet-atlet muda merupakan hasil seleksi dari berbagai turnamen lokal seperti ajang pekan olahraga di tingkat daerah atau nasional atau dari kompetisi yang diselenggarakan masing-masing cabang olahraga tersebut. Merekalah yang akan diseleksi untuk terus dikembangkan sehingga kemampuannya semakin terasah. Dan untuk itu dibutuhkan pendanaan yang memadai guna mendukung berbagai kebutuhan yang diperlukan. Tak mungkin atlet diminta mencari pendanaan sendiri sekaligus tiap hari berlatih. Hasilnya tentu akan kurang maksimal. 

Bahkan, kehidupan pascakarir sebagai atlet selesai pun harus dipikirkan oleh pemerintah. Kepastian masa depan setelah mereka gantung sepatu akan membuat para atlet memiliki komitmen penuh untuk menekuni karir olahraga yang berusia pendek. Atlet mencapai puncak prestasinya pada usia muda. Pada usia di 30 tahunan, ketika sejumlah bidang karir baru mulai menanjak, banyak atlet yang sudah tidak dapat berkompetisi dengan mereka yang berusia lebih muda. 

Kisah sedih dapat dibaca di berbagai laporan media yang mengabarkan, para atlet yang dipuja-puja saat meraih prestasi dalam ajang olahraga internasional ternyata hidupnya merana di usia senja. Mereka mengalami kesulitan ekonomi karena tidak ada yang memperhatikan nasibnya. Contoh-contoh seperti ini akan membuat keluarga yang memiliki anak dengan bakat sebagai atlet akan enggan mengarahkan dan mendukung anak tersebut sebagai atlet. Beberapa upaya perbaikan kebijakan telah diupayakan seperti menawari para peraih emas sebagai pegawai negeri sipil (PNS) atau memberi bonus besar atas prestasi yang diraih sang atlet. Mantan atlet berprestasi kini juga diperhatikan nasibnya dengan berbagai tunjangan untuk membantu kehidupannya.  

Olahraga dapat menghasilkan kehidupan yang layak bagi para pemain yang terlibat di dalamnya asal dikelola dengan baik. Di sejumlah negara maju, olahraga telah dikemas sebagai salah satu industri hiburan yang menghasilkan pemasukan uang bagi para pemainnya. Kompetisi sepak bola, tenis, basket, tinju dan beberapa lainnya adalah contohnya. Para pemainnya hidupnya sejahtera dan menjadi pesohor yang menjadi pujaan banyak orang. Para pemain sepak bola kelas dunia memiliki pendapatan mencapai miliaran rupiah per pekannya. Pemain tenis peringkat atas dunia kekayaan tak kalah dari penyanyi papan atas dunia. Para pemain basket bergelimangan harta dengan beragam sumber penghasilan yang tidak hanya dari gaji sebagai pemain, bonus dan dari sponsor. Pemain sepak bola Rolando memuncaki posisi sebagai atlet dengan pendapatan tertinggi tahun 2017 dengan penghasilan 1.24 triliun rupiah. 

Untuk menjadi sebuah industri yang menghasilkan banyak uang dan menghasilkan dampak ikutan yang besar, ajang olahraga harus dikelola dengan baik sehingga enak untuk dinikmati. Upaya tersebut tidaklah mudah. Kompetisi sepak bola di Indonesia masih menimbulkan ketakutan kepada sebagian masyarakat akan potensi kerusuhan yang ditimbulkan oleh pendukung tim yang kalah. Masih banyak PR untuk menjadikan olahraga sebagai sebuah pertunjukan yang enak ditonton oleh siapa saja, menjadi hiburan bagi keluarga yang mana anak-anak pun bisa ikut dengan aman, bukan malah menimbulkan ketakutan. 

Sejumlah negara atau daerah berhasil menjadikan olahraga untuk mendorong industri wisatanya seperti maraton di Tokyo, New York, Berlin, dan lainnya. Para peserta dari negara asing berdatangan untuk mengikuti lomba tersebut. Tour de France menjadi ajang balap sepeda yang ditunggu-tunggu dan kota yang dilaluinya  selalu dipadati penonton. Ajang balap mobil Formula 1 menjadi peristiwa yang ditunggu-tunggu penonton di seluruh dunia. Dalam tingkat lokal, lomba maraton di Bali, Borobudur, Jakarta yang belakangan ini diinisiasi oleh pemerintah daerah untuk memperkenalkan daerahnya.

Keberhasilan atlet profesional dapat menginspirasi generasi di bawahnya untuk meraih sukses dengan meniti karir profesional dalam bidang olahraga. Sementara bagi masyarakat umum, tubuh bugar mereka bisa dipromosikan sebagai teladan untuk aktif berolahraga. Remaja dan anak muda merupakan orang-orang yang selalu mencari teladan dan mereka berusaha menirunya. Teladan dari bidang olahraga memiliki nilai positif yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan pesohor dari dunia hiburan yang hidupnya selalu penuh drama, seringkali lebih berupa upaya pengembangkan pencitraan daripada prestasi yang sesungguhnya. Pada dunia olahraga, dengan kompetisi yang ketat, siapa berprestasi dan yang tidak, ketahuan dengan jelas.

Energi yang meluap-luap  para remaja dapat diarahkan ke hal-hal yang sifatnya produktif. Aktivitas olahraga mendorong sikap sportif dan menambah pertemanan. Aktivitas olahraga dapat meningkatkan prestasi akademik. Mereka yang rajin berolahraga memiliki tubuh yang lebih bugar dan lebih mampu berkonsentrasi, sehingga capaian akademik juga meningkat.  

Penyakit-penyakit paling mematikan saat ini bukanlah diakibatkan oleh bakteri atau virus yang menular, melainkan penyakit karena gaya hidup seperti jantung, stroke, dan diabetes. Risiko terhadap penyakit tersebut sesungguhnya bisa dikurangi dengan rutin berolahraga. Apalagi saat ini, kemudahan teknologi semakin membuat orang tidak perlu bergerak. Ke mana-mana kita menggunakan kendaraan bermotor. Beragam pekerjaan di rumah seperti mencuci, membersihkan rumah, memasak, dan lainnya semuanya bisa dilakukan hanya menekan tombol Akibatnya, tubuh manusia yang didesain untuk selalu bergerak menjadi tidak terlatih dan akibatnya, berbagai penyakit muncul. Pada negara yang penduduknya sehat, biaya kesehatan yang harus dikeluarkan pribadi atau pemerintah melalui layanan jaminan kesehatan akan terkendali. Pada masyarakat yang sehat, mereka memiliki produktifitas yang tinggi. 

Olahraga menjadi hulu dari masyarakat yang sehat. Berbagai kompetisi olahraga merupakan sarana untuk mendorong masyarakat berperilaku hidup sehat. Para pemain olahraga dapat menjadi teladan bagi masyarakat untuk berolahraga. Cabang olahraga yang dikemas dengan baik dapat menjadi hiburan bagi masyarakat dan memberikan kesejahteraan bagi para pelakunya. Prestasi yang baik dan memunculkan tradisi berolahraga tidak bisa dicapai dalam jangka pendek, melainkan akumulasi dari ketekunan dan kegigihan, dan kerja sama dari berbagai pemangku kepentingan. Pemerintah memiliki peran sangat penting dengan kebijakan pembinaan dan penganggaran yang baik. Investasi dalam bidang olahraga merupakan salah satu prasyarat memenangkan kompetisi global. (Achmad Mukafi Niam)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG