Pustaka

Mimpi-Mimpi yang Diupayakan

Ahad, 20 Agustus 2023 | 12:00 WIB

Mimpi-Mimpi yang Diupayakan

Novel Cinta dalam MImpi menggambarkan pernikahan antara putra atau putri kiai dengan anak dari orang tua yang bukan siapa-siapa (Foto: NU Online/Syakir NF)

Di antara mimpi yang masih belum mewujud nyata adalah peristiwa pernikahan antara putra atau putri kiai dengan anak dari orang tua yang bukan siapa-siapa, bukan dari kalangan kiai lagi. Hal ini yang coba digambarkan dalam novel Cinta dalam Mimpi karya Muyassarotul Hafidzoh.


Penulis mencoba untuk menggambarkan dunia yang menjadi latar belakangnya, pesantren. Hal yang masih belum menjadi keniscayaan adalah pernikahan di atas. Tak pelak, hal itu seakan menjadi sebuah mimpi di siang bolong. Kalaupun terjadi dalam dunia nyata, maka itu menjadi peristiwa yang sangat amat jarang, saking langkanya. 


Betapa tidak, konsep kesetaraan menjadi satu dinding tebal yang sulit ditembus. Tentu saja, anak kiai dan anak bukan kiai tidaklah setara. Meskipun Gus Syauqi sebagai putra kiai dan tentu saja menjadi pihak laki-laki bukan termasuk dalam konsep kafaah jika diperhadapkan dengan Farah sebagai pihak perempuan yang bukan dari keluarga kiai. Hal berbeda jika sebaliknya, Farah yang merupakan anak kiai, sedang Syauqi yang menjadi bagian dari kalangan biasa. Namun tetap saja, dua keluarga ini berbeda. Ada jurang pemisah yang amat jauh jaraknya dan dalam.


Selain hal di atas, novel ini mengisahkan tiga hal lain. Pertama, berkaitan dengan pencegahan pernikahan dini bagi anak-anak. Hal ini tergambar dengan usaha yang dilakukan oleh Gus Syauqi untuk membuat Farah tidak jadi dikawinkan oleh orang tuanya karena alasan ekonomi. Ayahnya yang sudah tak mampu bekerja membuat perekonomian keluarganya menjadi terpuruk. Tak pelak, pernikahan menjadi satu jalan untuk melepaskan tanggung jawab orang tua terhadap anaknya. Padahal dalam pernikahan, sebagaimana diketahui, diperlukan sebuah kesiapan, kesanggupan, dan kesediaan untuk sama-sama menanggung kewajiban dan hak satu sama lain antara sepasang suami istri.


Pernikahan dini itu berhasil dicegah Gus Syauqi. Ia berupaya dengan memintanya untuk masuk ke pesantren asuhan orang tuanya. Ia juga mencoba untuk melobi orang tuanya agar dapat menerima Farah sebagai santri untuk mengaji dan belajar pada unit lembaga pendidikan di dalam pesantren.


Kedua, tentu saja novel ini mengajak pembacanya agar mengutamakan pendidikan. Hal yang sama juga ditampilkan oleh Gus Syauqi dengan mengajak Farah untuk melanjutkan studinya di pesantren. Sebab, kelak Perempuan itu bakal menjadi madrasah pertama bagi putra dan putrinya. Perempuan menjadi pintu gerbang pendidikan anak-anaknya sehingga menjadi penopang penting dalam kehidupan keluarga. Jika Perempuan tidak berpendidikan, tentu diragukan masa depan anak-anaknya kelak.


Ketiga, novel ini juga mengajak pembacanya untuk dapat mencintai lingkungan. Kampanye ini ditampilkan dengan kehadiran sosok Farah yang amat mencintai lingkungan dengan adegan melepaskan burung dari sangkarnya, mengajak bicara pohon pelpaya sembari membacakan shlawat agar dapat berbuah, dan sebagainya. Oh ya, sampai-sampai Farah ini mengetahui betul kapan hujan bakal turun. Saing akrabnya dengan alam.


Hal terakhir inilah yang kerap alpa di dalam diri umat Islam sendiri. Menebang pohon dengan sembarangan tanpa memedulikan perasaan si pohon itu, apalagi ekosistem yang dibentuk dari keberadaan pohon itu sendiri. Padahal, ada lebah yang yang bisa hinggap, ada burung yang bisa membuat sangkar dan bersarang di dahannya, ada oksigen yang bisa dihasilkan, ada udara kotor yang bisa diserap, dan berbagai macam manfaat lainnya. Namun, hal tersebut kerap diabaikan demi hal lain yang dapat memenuhi kebutuhan nafsunya.


KH Ali Yafie dalam Merintis Fiqh Lingkungan Hidup (2006) menegaskan bahwa ekosistem itu layaknya sebuah jalinan hubungan yang harmonis. Sebab, meskipun secara lahiriah mereka tampak menjadi unsur-unsur yang terpisah satu sama lain, antara udara, pohon, burung, lebah, dan lainnya. Namun senyatanya, mereka membentuk satu kesatuan sistem yang bekerja dan saling mendukung dan memberikan ketergantungannya masing-masing. Jika ada salah satu di antaranya rusak, maka unsur lain juga dapat rusak akibatnya.


Keharmonisan ekosistem itulah yang hendak dijaga oleh tokoh bernama Farah. Demi menjaga itu, ia memberanikan diri meminta Ibu Nyainya untuk membatalkan rencananya menebang pohon yang sudah siap ditebang oleh santri. Ia mencegahnya dan meyakinkan ibu nyainya agar tidak menebang sampai jangka waktu tiga bulan. Jika dalam waktu tersebut tidak juga berbuah, bolehlah pohon itu ditebang. Namun, belum sampai tiga bulan, pohon itu telah berbunga dan berbuah.


Selain itu, penulis membuat novel ini dalam sudut pandang setiap tokohnya. Sayangnya, tidak ada marka atau penanda perubahan sudut pandang itu sehingga peralihannya tidak tampak. Meskipun demikian, hal itu bisa terasa dari siyaqul kalam, urutan pembicaraan. Penulisan novel dengan beberapa sudut pandang ini juga dilakukan Leila S Chudori dalam novel-novelnya, seperti Pulang dan Laut. Namun, Leila membuat tabwib, pembagian bab berdasarkan sudut pandang itu. Dalam Pulang, misalnya, ada bab Dimas Suryo, Lintang Utara, dan Segara Alam. Sedangkan dalam Laut Bercerita, ada bab Biru Laut dan Asmara Jati.


‘Ala kulli hal, saya mendapatkan informasi bahwa novel ini merupakan seri pertama dari sekuel yang buku lanjutannya bakal terbit dalam beberapa waktu ke depan. Saya menantikan kelanjutan kisah dari para tokohnya. Apakah Farah akan melanjutkan kisah percintaannya dengan Nabil, sahabat karib Gus Syauqi, yang sudah memendam rasa cintanya sejak lama? Pun Gus Syauqi akankah melanjutkan kisah cintanya dengan seorang perempuan mandiri yang menjadi tenaga pengajar di unit pendidikan pesantren asuhan orang tuanya? Apakah penulis akan tetap mengangkat isu-isu di atas dalam seri selanjutnya ataukah ada isu baru yang dimunculkan?


Peresensi Syakir NF, pelayan di Perpustakaan Cipujangga, Desa Padabeunghar, Kecamatan Pasawah, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.


Identitas Buku

Judul:  Cinta dalam Mimpi
Penulis: Muyassarotul Hafidzoh
Tebal : 271 halaman
Tahun : Desember 2020
Penerbit : Diva Press