Nasional

Gus Baha: Logika Berpikir Benar Dapat Cegah Ekstremisme Dini

Ahad, 6 Februari 2022 | 17:00 WIB

Gus Baha: Logika Berpikir Benar Dapat Cegah Ekstremisme Dini

Rais Syuriyah PBNU KH Baha’uddin Nur Salim (Gus Baha). (Foto: Tangkapan layar YouTube TVNU)

Jakarta, NU Online
Diskusi Kitab Ushulul Wasathiyyah (konsep dasar moderat) karya Prof Al-Habib Abdullah bin Muhammad Baharun (Rektor Universitas Al-Ahgaff Tarim) diulas dengan sederhana oleh Rais Syuriyah PBNU KH Baha’uddin Nur Salim (Gus Baha).


Saat didapuk menjadi narasumber webinar dalam Konferensi Cabang (Konfercab) IX Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Yaman, Gus Baha mencontohkan beberapa logika berpikir yang benar yang dapat mencegah ekstremisme secara dini.


“Ada banyak literatur yang memperlihatkan sikap moderat kanjeng Nabi. Seperti dalam kitab Bukhori yang menceritakan seorang lelaki peminum khamr. Bukan sembarang minum karena dia melakukannya di masjid,” terang Gus Baha dalam tayangan YouTube TVNU dilihat NU Online, Sabtu (5/2/2022).


Alasannya, lanjut Gus Baha, ia ingin tetap dekat dengan orang saleh walaupun dalam keadaan mabuk. Walau bagaimanapun para sahabat tidak setuju dengan perbuatan laki-laki tersebut, lantas Nabi bersabda kepada para sahabat.


“La talanuhu fainnahu yuhibullah wa rasuuluh. (Jangan melaknatnya, karena dalam dirinya masih ada rasa cinta kepada Allah dan rasul-Nya),” kata Gus Baha mengutip hadis Nabi.


Setelah kejadian tersebut, Rasulullah tidak lantas mengeluarkan lelaki tersebut dari masjid. Nabi memberikan penjelasan kepada para sahabat bahwa maksiat merupakan dorongan hawa nafsu, sedangkan mencintai Allah dan Rasul-Nya adalah status yang melekat dalam jiwanya.


“Jadi, harus dibedakan mana status mana kesalahan. Contoh lainnya, kita sebagai warga Indonesia tentu loyal terhadap negara. Tapi, ketika ada warga yang bersalah bukan berarti dia tidak berstatus WNI lagi, dia tetap warga negara dan harus tetap diberi sanksi. Pun demikian dengan seorang mukmin yang bersalah,” tegas Gus Baha.


Ajaran Nabi Muhammad, lanjut Gus Baha, sejak dahulu tidak pernah menghakimi kesalahan. “Di mana-mana yang namanya Nabi itu ketika ada yang kafir ya dijadikan muslim. Ketika ada orang fasiq ya dijadikan saleh, bukan malah dibalik logikanya. Yang sudah mau masuk Islam malah dikeluarkan. Jadi takfiri itu ga butuh dalil karena sudah jelas salahnya,” imbuh Gus Baha.


Kiai asal Rembang ini menuturkan bahwa sikap moderat itu ialah sikap yang mau mendengarkan pendapat orang lain walaupun berbeda.


“Dulu perempuan itu dilarang untuk belajar karena khawatir mereka menjadi pintar. Tapi lama-lama diketahui bahwa terlalu lugu, tidak tahu apa-apa malah menjadi korban kekerasan, mudah diakali, difitnah,” ujarnya.


Begitu pula dengan polisi perempuan, dahulu dilarang. Tapi karena ada beberapa kasus pengedar narkoba yang menyelundupkan barang tersebut di bagian-bagian terlarang, otomatis menuntut adanya kebijakan baru dan perempuan harus berperan di dalamnya.


“Inilah yang dinamakan berkahnya mau mendengar. Karena awal risalah Nabi juga dahulu diperdengarkan. Beliau memaklumatkan diri bahwa beliau adalah seorang Nabi. Dan barokahnya memperdengarkan itu ada logika nubuwwah yang didengar orang kafir, sehingga mereka masuk Islam,” tutur Gus Baha.


Di akhir diskusi, Gus Baha menyampaikan bahwa setelah membaca seluruh isi kitab Ushulul Wasathiyyah itu, tidak ada satu pun argumen dari Prof Al-Habib Abdullah bin Muhammad Baharun yang bertentangan.


Acara yang mengusung tema Meneguhkan Karakteristik Nahdliyyin Yaman dalam Mewujudkan Persatuan Satu Abad NU itu diselenggarakan di Kota Tarim yang menjadi tuan rumah sejak 28 Januari 2022 hingga 10 Februari 2022.


Kontributor: A Rachmi Fauziah
Editor: Musthofa Asrori