Home Warta Fragmen Quran New Keislaman English Opini Video Tokoh Hikmah Arsip Kesehatan Lainnya Nasional Esai Khutbah Daerah Cerpen Ubudiyah Seni Budaya Sirah Nabawiyah Internasional Tafsir Risalah Redaksi Hikmah Nikah/Keluarga Obituari Ramadhan

Lirik Tasawuf dalam Lagu Noe Letto

Lirik Tasawuf dalam Lagu Noe Letto
Noe Letto dalam Ngaji budaya di Bumi Kamardikan Majan Tulungagung, Senin (22/7).
Noe Letto dalam Ngaji budaya di Bumi Kamardikan Majan Tulungagung, Senin (22/7).
Tulungagung, NU Online
Penyanyi Sabrang Mowo Damar Panuluh atau lebih tenar dengan nama Noe Letto berhasil mengguncang Tulungagung dengan syair tasawufnya, Senin (22/7). Putra Emha Ainun Najib (Cak Nun) ini memang cukup jeli dalam memilih lirik dalam setiap lagu-lagunya.
 
Tidak hanya menggambarkan kisa cinta anak muda biasa, Noe sering kali menyelipkan makna tazkiyatun nafs~ penyucian jiwa di setiap karyanya.
 
Lirik berbau tasawuf itu misalnya muncul dalam lagu sandaran hati dalam album Truth, Cry, Lies yang dirilis tahun 2005.
 
"Teringat ku teringat pada janjimu kuterikat. Hanya sekejap kuberdiri, kulakukan sepenuh hati," Noe  menyapa jamaah pengajian dengan penggalan lagu secara acapela.
 
Menurut pria asal Yogyakarta ini, lirik tersebut menggambarkan janji seorang hamba kepada Tuhannya. Bahwa, manusia sebelum lahir ke dunia sudah mengikat janji. Hidup manusia singkat, maka harus digunakan sebaik mungkin untuk hal-hal yang bermanfaat.
 
"Tak peduli ku tak peduli, siang dan malam yang berganti. Sedihku ini tiada arti, jika kaulah sandaran hati. Kaulah sandaran hati," lanjut pria yang pernah mengenyam sekolah di SMA 7 Yogyakarta itu.
 
Gus Sabrang melanjutkan tafsir lagunya bahwa siang dan malam selalu berganti. Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun.
 
Itu semua tak ada artinya jika hidup tak punya sandaran hati. Untuk mengadu atas semua gelisah dan masalah. Untuk mengadu atas semua gundah dan amarah. Kemana lagi hati kita sandarkan, jika bukan kepada Tuhan?
 
Ngaji budaya di Bumi Kamardikan Majan Tulungagung itu semakin larut dalam suasana mengingat Tuhan. Tak sedikit jamaah yang mengucap dzikir karena makna tersirat lagu tersebut.
 
Untuk itu cara yang tepat bagaimana kita mengenal tuhan, terlebih dulu ya harus mengenal diri sendiri. Dari mana kita berasal? Siapa diri kita? Apa hubungan antara makhluk dengan sang pencipta-Nya?
 
"Tanpa bisa mengingat itu semua tentu kita tidak akan pernah tahu diri sendiri. Jika dengan diri sendiri saja tidak pernah kenal, bagaimana bisa kita mengenal Allah?" lanjut pria berambut gondrong itu.
 
Noe juga menyebutkan, seorang ulama masyhur Yahya bin Muadz Ar-Razi berkata,ُ مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّه
 
"Barangsiapa yang mengenal dirinya, sungguh ia telah mengenal Tuhannya," pungkasnya. (Bagus Rosyid/Kendi Setiawan)


Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Nasional Lainnya

Terpopuler Nasional

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×