Home Warta Fragmen Quran New Keislaman English Opini Tokoh Hikmah Download Kesehatan Lainnya Nasional Esai Khutbah Ubudiyah Cerpen Daerah Seni Budaya Internasional Sirah Nabawiyah Tafsir Risalah Redaksi Hikmah Nikah/Keluarga Obituari Ramadhan Pustaka Humor

Nabil Haroen Tegaskan Khidmah di Pagar Nusa Tidak Hanya saat Jadi Ketum

Nabil Haroen Tegaskan Khidmah di Pagar Nusa Tidak Hanya saat Jadi Ketum
M Nabil Haroen dalam siniar yang ditayangkan di Kanal Youtube Swara NU. (Foto: tangkapan layar)
M Nabil Haroen dalam siniar yang ditayangkan di Kanal Youtube Swara NU. (Foto: tangkapan layar)

Jakarta, NU Online 
Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa, M Nabil Haroen menegaskan akan tetap mengabdi untuk Pagar Nusa meski kelak sudah tak jadi ketua umum. 


Komitmen tersebut diungkapkan  dalam siniar bertajuk 'Menjelang Kongres IV Pagar Nusa' yang ditayangkan di Kanal Youtube Swara NU, sebagaimana dikutip NU Online, pada Senin (5/12/2022).


Pengabdian untuk Pagar Nusa itu akan terus dilakukan karena ia mengaku telah berbaiat dan menyatakan diri untuk menjadi bagian dari organisasi pencak silat NU ini sampai kapan pun dan di posisi apa saja.


"Ini masa khidmah dibatasi 2 periode. Ya sudah saya akan tetap berkhidmah (mengabdi) dalam posisi apa pun. Bahkan hanya menjadi kader sekalipun, saya akan tetap berkhidmah," ungkap Gus Nabil, sapaan akrabnya.


Nabil mengaku, saat ini dirinya memiliki ruang pengabdian yang banyak. Salah satunya menjadi wakil ketua umum Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (PB IPSI). Melalui IPSI ini, Nabil akan membantu Pagar Nusa dalam berbagai hal.


"Di IPSI, saya bisa membantu Pagar Nusa untuk meningkatkan jumlah pelatih di tingkat nasional, wasit juri tingkat nasional, dan Pagar Nusa bisa berkompetisi di tingkat internasional. Buat saya, ruang pengabdian tidak akan ada habisnya," ungkap Nabil.


Selain itu, ia kini tengah menjabat sebagai anggota Komisi IX DPR RI yang salah satu fokus garapannya adalah tentang kesehatan. Dari sini, Nabil mengaku juga akan bisa membantu Pagar Nusa melalui kebijakan-kebijakan.


Melalui Komisi IX DPR RI ini, ia menjelaskan akan melakukan afirmasi terhadap tabib-tabib (dokter tradisional) yang ada di Pagar Nusa. Hal ini juga sedang diperjuangkan Nabil dalam Komisi IX DPR RI dan membutuhkan waktu yang sangat lama.


"Misalnya kalau di ketabiban kita harus punya kode etik dan kita sedang menuju ke arah sana. Tidak bisa bim salabim. Harus ada naskah akademiknya, filosofinya seperti apa. Apalagi ragam di Pagar Nusa ini tabib dan pengobatannya banyak sekali. Ini tidak mudah," jelas Nabil.
 

Perjalanan Gus Nabil di NU

Perjalanan Nabil Haroen di NU justru dimulai dari menjadi salah satu penulis di Majalah Misykat yang ada di Lirboyo, Kediri, Jawa Timur. Ketika di Lirboyo, ia memang sudah sangat dekat dan akrab dengan seni bela diri pencak silat. 


Terlebih, Nabil juga sangat akrab dengan KH Abdulloh Maksum Jauhari atau Gus Maksum. Kemudian ia menuliskan biografi Gus Maksum dan dimuat di Majalah Misykat Lirboyo.


"Terus kita sangat dekat, apalagi dengan keluarga beliau. Saya banyak belajar dari Gus Maksum dan keluarganya," ungkap Nabil.


Dari menulis di Majalah Misykat itu, ia kemudian dipercaya menjadi pengurus Lembaga Ta'lif wa Nasyr (LTN) Kota Kediri. Belum genap lima tahun mengabdi di sana, ia kemudian diminta untuk menjadi pengurus di LTN PWNU Jawa Timur. Selanjutnya, Nabil mengabdi di LTN PBNU. 


Ketika di Jakarta, Nabil diminta oleh ketua umum Pagar Nusa saat itu, yaitu KH Fuad Anwar untuk masuk di Departemen Media dan Litbang PP Pagar Nusa. Ia langsung menerima permintaan untuk sebagai wujud pengabdian kepada kiai.

 
Kemudian, Pagar Nusa menggelar kongres di Lamongan, Jawa Timur, pada tahun 2012. Setelah kongres, Nabil diminta untuk menjadi sekretaris umum PP Pagar Nusa selama 5 tahun, hingga 2017. 


Lalu pada Kongres Pagar Nusa di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta pada 2017, Nabil diberikan mandat oleh seluruh kader se-Indonesia untuk menjadi ketua umum Pagar Nusa.


Kini, ia telah memimpin Pagar Nusa selama satu periode masa khidmah. Sementara batas menjadi ketua umum adalah dua kali masa khidmah atau 10 tahun. 


Meski begitu, ia tetap tak bisa menolak apabila dalam Kongres IV Pagar Nusa di Padepokan Pencak Silat TMII Jakarta, pada 5-7 Desember 2022, kader se-Indonesia tetap menghendakinya sebagai pemimpin Pagar Nusa.


"Saya kira tergantung teman-teman di cabang dan wilayah. Saya tidak bisa memberikan dan menawarkan apa-apa, selain bahwa saya siap mengabdi dengan setulus dan seikhlas mungkin," tegas Nabil.


Ia menjelaskan, Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) mengatur bahwa ketua umum badan otonom dibatasi selama dua periode masa khidmah.


"Kita di Pagar Nusa, harus sesuai dengan AD/ART NU, bahkan kita harus meratifikasi kalau ada perubahan-perubahan di muktamar," pungkasnya.


Pewarta: Aru Lego Triono
Editor: Syamsul Arifin 



Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Nasional Lainnya

Terpopuler Nasional

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×