Cerpen

Genangan Air

Ahad, 16 April 2023 | 16:00 WIB

Genangan Air

Ilustrasi (Freepik)

Cerita Pendek Eko Wahyu Pratama
Pada suatu waktu Sang Ratu Adil tengah berada di dalam sebuah perpustakaan surgawi. Perpustakaan yang antara siang dan malam tidaklah berbeda. Perpustakaan yang sekilas tertutup, namun menawarkan keterbukaan. Seribu jendelanya dihiasi lukisan dari segala penjuru alam. Suara-suara burung merdu menentramkan dari beberapa sela lukisan.


Buku-buku di dalam perpustakaan surgawi itu tidak akan pernah selesai dibaca seluruhnya. Meskipun si pembaca hidup bersama keabadian. Daripadanya, sang Ratu Adil tergugah jiwanya untuk membaca sebuah buku. Buku yang ia pilih berisi lembaran yang tidak terjumlahkan lagi, disatukan oleh benang emas dan keindahan. Dari sampul yang bertuliskan 'Keinginan' ia mulai membaca. 


Buku yang sedang ia baca itu menjadi bermekaran lantaran dari mulut Sang Ratu Adil keluar wewangian yang menggetarkan seluruh kata-katanya. Sejenak, hati Sang Ratu Adil tertambat pada narasi kecil tentang cerita sejarah sebuah rakyat pada suatu masa. Betapa ia menjadi sangat prihatin menyaksikan rakyat dunia itu hidup dengan kenelangsaan. Burung-burung pun tertegun kelu.


Ia menyaksikan hidup dari rakyat dunia itu penuh dengan kemalangan dan tersia-sia harapannya. Dan bagaimana mungkin perpustakaan surgawi menyimpan buku yang begitu mengerikan ini untuk para penghuninya?


Padahal, sebagaimana yang tersebut sebelumnya dalam buku tersebut, bahwa rakyat dunia itu diliputi oleh kekayaan alam pemberian Sang Pencipta. Disebutkan juga, daratan yang dihuni oleh para rakyat dunia itu tidak lain adalah secuil bagian dari taman surga yang di sana Sang Ratu Adil bermain dengan burung-burung elang dan blekok.


Tersebutlah kemalangan itu terjadi lantaran rakyat dunia itu hidup dalam ilusi-ilusi kekuasaan. Para pemimpinnya dihinggapi kesombongan dan keserakahan. Rakyat dunia itu hanya diperkenankan memilih dan memilih namun teramat jarang pilihan itu memiliki maksud untuk nasib mereka sendiri. 


Lantaran inilah air mata Sang Ratu Adil tidak dapat terbendung lagi. Ia menangis hingga air matanya menggenangi seluruh pengetahuan dan membuat burung-burung di sana menggedor-gedor jendela perpustakaan. Pada saat bersamaan di dunia sana hujan turun.

***


Malam itu ia terbangun selepas mimpi yang ganjil menyapanya dalam tidur. Ditambah lagi, genangan air yang terkena lesatan iring-iringan mobil itu terciprat membasahi hampir seluruh tubuhnya. Ia terjaga bersama hujan dan gigil malam pada sebuah emperan toko. Ia kuyup oleh keadaan. Alangkah ini juga mengapa perutnya mengadakan pawai yang melilit-lilit?


Ia jadi teringat, hari ini tidak ada satupun makanan yang masuk ke dalam perutnya. Namun hari ini tidaklah jauh berbeda dengan yang kemarin atau tahun lalu sekalipun. Memang ada sebuntal nasi dan beberapa helai pakaian baru, namun ia belum melakukan apa-apa dengannya. Dalam cekung matanya terlihat jelas bahwa ia masih menimbang-nimbang barang pemberian orang tadi pagi  itu. Cerita dari mana ia mendapatkan sebuntal nasi dan pakaian  itu berasal adalah demikian.

 

Pada pagi hari yang cerah tadi, ketika ia bersedekap dengan nasibnya sendiri berdiri di tepian sebuah perempatan, ia didatangi oleh empat orang berseragam. Empat orang itu turun dari sebuah mobil sedan. Ada yang mengenakan kacamata hitam, tapi seluruhnya memakai sepatu yang mengkilap. Mereka semua berbadan tegap. Empat orang itu mengerubunginya. Ia pun tertunduk.

 

Dikatakan oleh seorang itu padanya, "Hei kamu, kamu di sini saja. Nanti kamu akan dapat nasi sama baju. Nanti jangan lupa bilang terima kasih." Ia yang masih tertunduk menjawab dengan diam yang membingungkan.


Lainnya, orang yang mengenakan kacamata hitam menambahkan, "Kamu itu terlihat masih muda, badanmu juga bagus, tapi kenapa memilih hidup seperti ini?" Ia masih setia menjawab dengan kebisuan. "Oke tidak apa-apa, tapi di masa seperti ini, orang sepertimu yang kami cari," imbuhnya cepat.

 

Dua orang yang lain juga tidak mau kalah menginstruksinya. "Nanti akan ada orang baik yang akan menghampirimu. Kamu jangan lupa full senyum. Kami juga orang baik-baik. Yang jelas, terima baik-baik pemberiannya nanti. Ya?" 

 

"Betul itu, ya. Tenang. Ini semua untuk kebaikan kita bersama. Nanti juga, kalau ada orang meliputmu atau bertanya padamu, berikan jawaban yang baik dan sesuai." 

 

Ia masih saja terdiam. Perasaannya kacau. Apalagi mereka menyuruhnya untuk membasuh muka terlebih  dahulu dan tangannya telah rata dilumuri hand sanitizer. Buntalan dan barang-barang miliknya—yang selalu ia bawa—disingkirkan oleh empat orang itu jauh-jauh. Empat orang itu tidak tahu betul, bahwa buntalan dan seluruh yang melekat padanya adalah kenyataan. Dan ia untuk sesaat disuruh meninggalkannya?

 

Setelahnya, tidak sampai satu jam, datanglah iring-iringan mobil yang panjang meramaikan jalanan dan mengundang orang-orang untuk datang menyaksikan. Dari sanalah turun segerombolan orang. Mula-mula mereka bergaya layaknya sedang meninjau jalan, menunjuk sana-sini, mencatat dan sedikit bercakap-cakap. Dari gerombolan itu, tampak seorang yang mengenakan peci hitam yang dikerubungi banyak orang berjalan ke sisi perempatan.

 

Si pengguna peci terlihat sedang dibisiki oleh seorang–sebagaimana diketahui–yang telah melumuri seorang gelandangan dengan banyak sekali hand sanitizer. Si pengguna peci mengangguk paham dan berjalan menghampiri si gelandangan. 

 

Si pengguna peci menjabat tangan si gelandangan. Melempar basa-basi, menanyakan hari ini "Apa kabar?" dan lain-lain. Lalu si pengguna peci memberikan sebuntal nasi dan pakaian. Sebuah oleh-oleh kunjungan. "Ini pemberian dari saya, terimalah. Semoga bermanfaat."

 

Lalu ia katakan kepada semua orang, "Marilah bersama-sama kita entaskan pengangguran. Kita berantas kemiskinan. Kita harus saling membantu. Bahu membahu. Kita sama-sama berjuang. Jadi, saudara-saudara sekalian, bersama saya marilah kita songsong hari baik!" Lanjut foto-foto dan bubar jalan.

 

Si gelandangan yang masih terheran-heran dengan hal semacam itu hanya dapat membayangkan. Betapa ini sangat lucu dan membingungkan. Bagaimana bisa ada seorang pejabat mau bertegur sapa dengannya? Ini tentu menyalahi kebiasaan. Atawa ini memang awal dari perubahan-perubahan yang dimana selama ini hanya sekadar angin lalu?

 

Ia juga merasa tidak enak hati kepada si pengguna peci itu, masakan seorang gelandangan sepertinya ke mana-mana harus menggunakan pakaian yang bergambar wajah seorang pejabat?


Untuk itulah, mengapa sebuntal nasi dan pakaian pemberian itu belum juga ia apa-apakan. Namun, karena malam ini begitu dinginnya, juga lantaran perut dan badannya tidak bisa menunggu lagi. Keadaan tidak memihak prinsipnya. Pada akhirnya, dengan teramat ikhlas ia memakan sebuntal nasi dan mengenakan pakaian pemberian itu. Semoga bajunya yang lama esok cepat kering.

***


Dua mingguan ini adalah hari-hari yang sangat melelahkan baginya. Ia bagaimanapun harus tetap menjalankan sistem beserta konsep-konsep yang sudah ia kuasai dalam menjalankan kepemimpinannya. Itu juga sebenarnya adalah rutinitas yang membosankan. Tapi ini perkara prinsip!

 

Tapi syukurlah baginya. Ini hari terakhir kunjungan kerja sebelum habis masa jabatan. Hitung-hitung, agar gaung kepemimpinannya dapat melekat di hati rakyat ia juga tidak keberatan jikalau harus membagi-bagikan rezeki. Sandang, pangan dan papan adalah obat kuat untuk menguatkan pengaruh. Kalau tidak bisa memberikan ketiganya, ya minimal dua. Pikirnya begitu. 


Maka, ia lebih memilih yang dua saja. Sebab kalau papan juga ia sediakan, bagaimana bisa nanti ia pergi ke tempat karaokean atau sekadar berinvestasi? Sebagai seorang pemimpin ia pastinya juga butuh hiburan. Belum lagi untuk hari tua dan para kerabatnya. Maka untuk sandang dan pangan juga ala kadarnya. Yang terpenting itu dapat terlihat dan terbukti manjur.


Ini sudah jam sebelas malam, padahal masih dua lagu yang baru selesai dinyanyikan. Tapi hal penting selalu mudah menyerobot pikiran, ia lupa meminta  tanda tangan dari seorang kenalan luar negerinya sewaktu kunjungan tadi pagi. Melesatlah ia mengambil ponsel yang tertinggal di dalam mobil, cepat-cepat ia telepon si kenalannya itu. Beruntung si kenalan tidak mempermasalahkannya. Namun si kenalan itu hanya dapat menunggu sampai jam duabelas malam ini. 

 

Alhasil, ia beserta para rombongan yang tersisa itu bergegas menuju ke tempat si kenalan. Menerjang. Menelusuri kembali rute tadi pagi. Bersamaan dengan itu hujan turun begitu derasnya dengan jalan berlubang dan genangan air dimana-mana.

***


Akhirnya sekelompok burung elang dan blekok berhasil memasuki perpustakaan itu. Mereka mengitari Sang Ratu Adil. Berharap sang Ratu Adil tidak bersedih lagi. Ada yang mematuki dengan lembut tangan Sang Ratu Adil. Ada dari mereka yang sibuk memakan buku-buku perpustakaan. 

 

Sang Ratu Adil baru berhenti bersedih ketika seekor elang menggondol pergi buku yang baru ia baca. Entah ke mana, yang jelas, buku itu telah raib dari hadapannya.


Untuk menghibur dirinya beserta para burung-burung elang dan blekok, ia mengambil secarik kertas dan mulai menuliskan kisah yang paling ia harapkan.

 

November 2022


Eko Wahyu Pratama, aktif sebagai pengurus Lesbumi MWCNU Muncar, Banyuwangi, Jawa Timur. Nyantri di Daras Filsafat Muncar dan Selapanan Sastra.