Cerpen

Mobil Tua

Ahad, 31 Maret 2024 | 15:00 WIB

Mobil Tua

Ilustrasi (Freepik)

Cerpen Muji Prasetyo
Sudah lebih satu jam Puji mencuci mobil itu. Sebuah minibus tua pabrikan Jepang tahun 1987. Entah sudah berapa kali dia mengelap, menggasak, mengelus-elus body, kaca, dan bagian joknya. Tenaganya yang tak muda lagi seperti tiada lelahnya. Peluh menyembul di kening, juga membasahi sekujur kaosnya.


“Mbok ya sudah to Pak, wong mobilnya sudah bersih banget, mau diapakan lagi?" seru istrinya dari balai-balai rumah.

 

"Tinggal bagian kolongnya Bune, kan habis perjalanan jauh dan kehujanan pula. Kalau tidak dibersihkan kolongnya bisa gawat, bisa karatan,” sahut sang suami tanpa menoleh.

 

"Ini sudah lewat jam 4. Dan Pakne belum shalat Asyar. Lagian ini bulan puasa, nanti tenagamu habis terkuras buat nyuci mobil. Mana Pakne nggak sahur lagi. Sudahlah buat besok lagi nyucinya," cerocos istrinya masygul.


"Ayah, nanti sore kita jadi nengok Eyang ya, sekalian ingin buka di sana. Kangen lho sama kolak pisang buatan Eyang,” Si bungsu Rini setengah merajuk, ia telah berdiri di samping ibunya.


“Rini, nengok Eyang besok lagi ya. Kita buka di rumah saja. Ingat kan aturan ayah, setelah dicuci mobil kita nggak keluar lagi," kening Puji berkerut tanda keberatan, jika mobil kesayangannya harus keluar lagi setelah dicuci bersih. Mobil bisa kotor terkena cipratan tanah becek usai hujan deras. Atau, malah basah kuyup lagi.

 

"Yaah, ayah sekarang lebih sayang mobil, daripada sayang Eyang," keluh Rini polos sembari berlalu bersama istrinya.

 

Tangan Puji memeras kanebo yang warnanya telah menghitam. Ditanggalkannya kain lembut itu pada spion. Kini ia beralih menyambar tongkat pendek dengan kain bulat warna cerah di satu ujungnya. Tongkat itu dibuatnya sendiri khusus untuk mengelap bagian kolong mobilnya.

 

Sejurus kemudian Puji merebahkan sebagian tubuhnya ke tanah untuk membersihkan bagian kolong mobil. Selang air bertekanan tinggi dipegangnya dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya menggosok-gosok bagian kolong mobil dengan tongkat ajaibnya.

 

Hampir tiap sore, para warga sering mendapati Puji mencuci mobilnya dengan semangat menggila. Kemudian menyelimuti, memanjakannya sebagai barang teristimewa. Awalnya, mereka bergunjing tentang Puji yang berlebihan dalam memperlakukan mobil tuanya.

 

“Ah, maklum saja ketemben punya mobil.”

 

“Huuu… baru punya mobil tua saja sudah dielus-elus tiap hari.” 

 

Begitulah, nyinyiran dan cibiran warga yang mampir. Namun tak sedikit pula tetangga yang kagum dengan ketekunan Puji merawat mobilnya. Di mata mereka, Puji adalah sosok yang tekun dan ringan tangan.

 

Seolah tak pedulikan suara-suara itu, Puji tetap asyik membersihkan bagian kolong mobilnya. Ada kepuasan tersendiri ketika melihat kotoran-kotoran di kolong itu luruh oleh semprotan air dan tongkat ajaibnya.

 

Entahlah, semua tak dihiraukan Puji yang semakin khusyuk menikmati ritualnya itu. Seperti ada magnet yang melekatkan ia dengan mobil tuanya.

**


Dua jam berlalu, usai sudah ritual Puji sore itu. Dipandanginya mobil kesayangan yang baru dicucinya dengan sempurna. Memang, mobil model station wagon warna coklat tua dengan lampu bulat itu terkesan jadul dan ndeso. Jika disandingkan dengan kendaraan keluaran terbaru, pasti bukan tandingannya. Namun ada rasa bangga di dada lelaki itu, ada rasa puas yang tak terkira bisa memiliki besi tua itu.

 

Setelah berhasil memiliki mobil, Puji merasa lebih berarti sebagai kepala keluarga. Ia merasa menjadi diri yang utuh dan lengkap bagi istri dan dua anaknya, Rini dan si sulung Rita. Sekarang istrinya tidak harus antre menunggu angkudes jika hendak ke pasar. Puji sendiri yang mengantar-jemput. Meskipun Wati, istrinya adalah sosok wanita somah yang nrima, tak sekali pun ia menuntut lebih pada dirinya. Wati begitu setia mengabdi pada lelaki biasa seperti dirinya. Namun justru sifat lemah istrinya inilah yang mendorong Puji untuk selalu membahagiakannya dalam lima belas tahun usia pernikahan mereka. Demikian pula pada Rini dan Rita, selalu dia menyempatkan mengantar-jemput sekolah, di sela kesibukan Puji di sawah.

 

Dengan mobil itu pula, Puji sering disambat warga jika ada keperluan seperti kondangan atau besuk ke rumah sakit. Untuk ini Puji tak pernah mau menerima uang sewa. Ia hanya minta mobilnya untuk diisi bensin sepantasnya. Dan ia sendiri yang mengemudi dengan senang hati. Atas kemurahan hatinya, Puji banyak mendapat simpati warga. Maklum, di dukuh ini hanya tiga orang yang punya mobil: Juragan Darman, Pak Sis sang kepala dusun, dan dirinya yang hanya petani kecil.


Warga tak mungkin minta bantuan pada Juragan Darman yang terkenal pelit. Sementara Pak Sis sibuk di balai desa dan orangnya mriyayi sehingga warga pun segan karena sifat ningratnya. Jadi, Pujilah satu-satunya orang yang nyaman jika diminta tolong untuk urusan mobil.

 

Namun sejatinya, ada satu hal yang paling membahagiakan di hati Puji setelah berhasil membeli mobil itu. Tak lain, karena ingin sedikit menunjukkan darma baktinya kepada sang ibu, Eyangnya Rini dan Rita.

 

Ikhwalnya, empat bulan silam saat ibunya yang sudah sepuh, terjatuh lantaran darah tinggi. Di saat gawat itu, Puji kalang kabut mencari mobil pinjaman untuk membawa Sang Ibu ke Rumah Sakit. Saat itulah Puji minta bantuan Juragan Darman untuk meminjam mobilnya. Namun benar kata orang-orang, bukannya dibantu, Puji merasakan langsung pelitnya sang juragan, yang sebenarnya masih ada hubungan saudara keluarga besar Puji. Hal ini pula yang memberanikannya meminjam mobil pada Juragan Darman.

 

"Wah, pangapura (mohon maaf) Mas Puji. Ban mobil baru saja saya cek sedang bocor alus, saya tidak berani meminjamkan pada Sampeyan, takutnya di jalan malah nggembes terus bagaimana hayo?” alasan Juragan Darman waktu itu.


“Tapi ban serepnya kan ada kan, Pak? Mohon saya dipinjami kali ini saja Pak, ibu saya anfal, darah tingginya kumat dan harus dibawa ke rumah sakit sekarang juga,” kata Puji memelas.


“Oh, iya… itu, accu…yah, accu-nya sudah sowak, saya khawatir nanti macet di jalan, tidak bisa di-starter malah bisa berabe, iya kan?” tukasnya terus berkelit. 


Puji hanya diam seribu bahasa waktu itu. Benar-benar ia menghadapi langsung pelitnya Juragan Darman. Matanya melirik ke dalam rumah, telinganya ia pertajam, berharap ada pembelaan dari istri juragan Darman. Namun sepi belaka. Hanya suara sengau Darman dengan basa-basi tak jelas menggiringnya ke luar rumah.


Dengan gontai Puji berlalu dari rumah Juragan Darman. Matanya masih lamat-lamat melihat mobil orang kaya itu, terbalut selimut warna perak. Puji yakin, mobil tersebut baik-baik saja. Ia melihat langsung juragan Darman belum seberapa lama masuk garasi rumahnya.

 

Memang, tidak ada kewajiban seseorang meminjamkan barang berharga miliknya untuk orang lain. Namun dalam situasi darurat, haruskah kita membuta diri?. Apakah telah sirna rasa kebersamaan dan kegotongroyongan di desa ini?. Sepanjang jalan ke rumah sang ibu, batinnya terus bergelut. Nuraninya tercederai sebuah nilai yang mengoyak rasa kemanusiaan.

 

Beruntunglah, sesampainya di rumah orang tuanya, sang ibu sudah membaik. Pemuda dukuh sebelah yang menjadi mantri memberikan pertolongan cepat. Usai minum obat dari mantri, ibunya selamat dari akibat yang fatal.

 

“Alhamdulillah ibu tertolong. Tapi saya weling (pesan) pada Sampeyan, Ibu tidak boleh jatuh lagi untuk yang kedua kali. Nah, besok Ibu harus segera dibawa ke rumah sakit di kota kabupaten. Biasanya seminggu sekali harus terapi di sana. Oh ya, Ibu Sampeyan harus dibawa dengan mobil untuk menghindari cedera,” pesan Mas Mantri empat bulan silam, yang terus menggema dalam benak Puji.

**


Sepotong kebun yang sudah jadi milik sah, dijual Puji pada Pak Sis, sang kepala dusun. Ditambah sedikit tabungan di bank desa, Puji berhasil membeli mobil tua yang kemudian dirawatnya. Dengan usaha keras, mobil yang kurang terawat oleh pemilik sebelumnya, diperbaikinya dengan tekun. Alhasil, besi tua itu kini layak dijadikan kendaraan keluarga. Istrinya memberinya pewangi. Anak-anaknya menaruh boneka-boneka di ruang kemudi. Puji sendiri menambahkan kipas kecil karena mobil itu belum ber-AC.

 

Kini, tiap minggu ibunya berobat ke rumah sakit di kota dengan lancar. Puji selalu mengantarnya dengan mobil itu, menunggui Sang Ibu tanpa batas waktu. Sampai di sini ia merasa menjadi orang yang paling bersyukur atas apa yang didapatnya dengan susah payah.


Puji pun tak menaruh benci pada Juragan Darman. Sejak kecil ibunya mengajarkan, selalu ada hikmah di balik ujian yang dirasa getir. Mungkin jika Puji orang kaya, bisa jadi ia juga bersikap serupa Darman, takut jika harta bendanya dipinjam dan jadi berkurang.


“Ah, benar saja kata Ibu, kalau Juragan Darman dulu dengan mudah meminjamkan mobilnya padaku, aku tak terpacu untuk memilikinya sendiri. Meski hanya sebuah mobil tua, tapi milik sendiri. Dari pada mobil mewah pinjaman orang,” batin Puji memekik, seperti menemukan sebuah makna yang dicari.

 

“Ayah, mandi dulu… jangan nyuci mobil terus!” si kecil Rini kembali membuyarkan lamunannya. Dipandanginya sekali lagi mobil tua yang kini sembunyi di balik selimut hitam. Sebuah ritual penting telah ditunaikan. Namun baru saja ia menghampiri Rini untuk bercanda, istrinya berteriak cemas.

 

“Pak, Juragan Darman Pak, Juragan Darman..."


“Juragan Darman? Kenapa Juragan Darman?” sahut Puji terkejut.

 

“Pak Darman jatuh dari kamar mandi, katanya darah tingginya kumat. Nggak ada yang bisa mengantarnya ke rumah sakit, anak-anaknya kuliah di kota. Istrinya minta tolong kita, Pak. Bagaimana ini, Pak?” suara Wati berpacu dalam kebingungan. 


Puji menengadah, sekejap memejamkan mata. Puji tahu di dusun ini sedikit sekali lelaki yang bisa mengemudi, apalagi punya mobil. Sejurus kemudian ia menghela nafas panjang.

 

“Ya Allah, semoga Engkau lindungi Pak Darman. Baiklah Bu, jaga anak-anak ya, Bapak segera ke rumah Juragan Darman, akan Bapak antar ke rumah sakit,” sahut Puji bergegas berganti baju.

 

“Hati-hati Ayah, di luar mulai hujan,” seru si sulung Rini yang baru masuk.

 

“Iya Nak, kalau begitu ayah berangkat dulu. Kalian juga hati-hati di rumah, doakan ayah bisa membawa Pak Darman dengan selamat ke rumah sakit, dan Pak Darman bisa segera pulih,” kata-kata Puji kebapakan kepada kedua anaknya.

 

Lelaki itu membuka selubung mobil kesayangannya yang belum lama dicucinya. Perlahan, besi tua itu keluar dengan tenang, menyusuri jalanan desa dengan arah yang pasti. Lampunya yang bulat seperti mata kucing, menyala terang menembus malam yang mulai pekat, diiringi guyuran hujan.

 

***


Muji Prasetyo, akrab dipanggil Mujiprast, lahir di Banyumas, 27 Januari 1975. Dikenal sebagai penulis, pemusik dan pencipta lagu. Beberapa buku/karya bersama yang pernah diterbitkan antara lain Karcis Nggo Ramane (Kumpulan Cerkak Banyumasan), Wulan Ndadari (Antologi Guritan Banyumasan), Ketawang Angen-Angen (Antologi Geguritan), Kusumaning Driya (Kumpulan Cerkak), Menggulung Kabut di Makam Ibu (Antologi Kelas Cerpen), dll. Kini bergiat di Komunitas Penulis Satu Pena Jawa Tengah, kontributor arina.id, serta nguri-uri majalah Banyumasan Ancas bersama budayawan Ahmad Tohari.