Home Warta Fragmen Quran New Keislaman English Opini Tokoh Hikmah Download Kesehatan Lainnya Nasional Esai Khutbah Ubudiyah Cerpen Daerah Seni Budaya Internasional Sirah Nabawiyah Tafsir Risalah Redaksi Hikmah Nikah/Keluarga Obituari Ramadhan Pustaka Humor

Lebaran Kok Malah Berwisata, Bagaimana Memahaminya?

Lebaran Kok Malah Berwisata, Bagaimana Memahaminya?
Ilustrasi (Foto: alarbaiya.net)
Ilustrasi (Foto: alarbaiya.net)

Depok, NU Online 
Hari raya Idul Fitri merupakan momentum untuk melakukan silaturrahmi kepada keluarga dan kerabat, namun tempat-tempat wisata yang malah ramai dikunjungi masyarakat. Maka muncullah pertanyaan, apakah masyarakat saat ini sudah semakin individualis sehingga lebih memilih pergi ke tempat wisata dibandingkan bertemu keluarga?

 

Ketua Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi NU) M Jadul Maula menyampaikan pada dasarnya masyarakat Indonesia tetap menjalankan silaturrahmi, tetapi juga pergi ke tempat wisata. Jadi dua-duanya tetap berjalan. 

 

“Bersilaturrahmi dan berwisata tidak saling meniadakan, tetapi saling melengkapi. Wisata menumbuhkan perputaran ekonomi masyarakat dan dapat mengakrabkan anggota keluarga yang ikut berwisata,” paparnya. 

 

Dijelaskannya, silaturrahmi keluarga tetap menjadi bagian penting bagi masyarakat Indonesia. Buktinya, jutaan orang mudik setiap Idul Fitri, bahkan saat pandemi Covid-19 masih menakutkan dua tahun lalu.

 

“Mudik tentu saja faktor pendorongnya untuk bertemu dengan orang tua dan saudara,” katanya Sabtu (8/5/2022).

 

Namun diakuinya, bahwa level silaturrahmi yang dijalani masyarakat saat ini semakin terbatas pada keluarga inti, bukan lagi pada kerabat keluarga besar sebagaimana tradisi yang berjalan sebelumnya. Kondisi ini merupakan bagian dari perubahan dari masyarakat tradisional menuju masyarakat modern.

 

“Jadi modernitas membawa perubahan yang mendasar dalam kehidupan masyarakat, dan terutama yang paling terguncang nilai-nilai keluarga,” jelasnya.

 

Ia menggambarkan perubahan tersebut seperti truk yang turun dari atas bukit tanpa rem. Akibat tekanan yang kuat, semakin ke bawah, dorongan tersebut semakin kuat sehingga menciptakan perubahan mendasar. Di negara-negara Barat, nilai-nilai keluarga telah mengalami perubahan sedemikian rupa akibat modernitas tersebut. 

 

Di Indonesia, gejala menguatnya individualisme juga terjadi akibat tekanan ekonomi dan munculnya industrialisasi beserta spesialisasinya. Namun, ikatan keluarga terbukti tetap ada dengan bentuk kuatnya tradisi mudik atau halal bihalal.

 

“Fenomena seperti mudik sebetulnya sifatnya universal lintas budaya dan lintas agama. Namun tidak sekuat di Indonesia,” imbuhnya.

 

Terkait dengan perubahan zaman yang sifatnya merupakan kemestian saat ini sedang terjadi proses negosiasi untuk mencari titik temu antara nilai-nilai baru dengan tradisi lama. Salah satu bentuk inovasi silaturrahmi yang belakangan marak adalah buka puasa bersama yang mempertemukan sesama profesi, komunitas, atau jejaring sosial lainnya. Pada masa lalu, belum ada tradisi buka puasa bersama. 


Selama libur Idul Fitri, lokasi-lokasi wisata di seputar Jakarta mengalami lonjakan pengunjung. Kawasan Puncak mengalami kemacetan parah setiap harinya, namun hal ini tidak mengurangi minat masyarakat untuk berwisata di daerah tersebut. Taman Impian Jaya Ancol juga dipadati pengunjung. Kondisi serupa dialami tempat wisata di berbagai wilayah Indonesia. 

 

Pewarta: Achmad Mukafi Niam
Editor: Muhammad Faizin



Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Nasional Lainnya

Terpopuler Nasional

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×