Home Warta Fragmen Quran New Keislaman English Opini Video Tokoh Hikmah Arsip Kesehatan Lainnya Nasional Esai Khutbah Daerah Cerpen Ubudiyah Seni Budaya Sirah Nabawiyah Internasional Tafsir Risalah Redaksi Hikmah Nikah/Keluarga Obituari Ramadhan

Mengenal Tradisi Bertukar Makanan saat Lebaran

Mengenal Tradisi Bertukar Makanan saat Lebaran
Kue-kue lebaran. (Foto: iStock)
Kue-kue lebaran. (Foto: iStock)

Jakarta, NU Online 

Hari Raya Idul Fitri merupakan momen yang sangat ditunggu oleh setiap umat muslim. Salah satu yang wajib dilakukan pada saat lebaran adalah tradisi silaturahmi yang dilaksanakan saat hari kemenangan tiba. Di berbagai daerah terdapat tradisi unik yang selalu dilaksanakan saat Hari Raya Idul Fitri.


Pertama, tradisi nyorog di Betawi. Salah satu tradisi masyarakat Betawi yang hingga kini eksis adalah nyorog. Tradisi nyorog umumnya dilakukan dengan mendatangi kediaman anggota keluarga yang lebih tua. Masyarakat Betawi mendatangi rumah anggota keluarga lebih tua dengan membawa sejumlah makanan atau bingkisan.


Warga asal Bekasi, Maratus Sholihah menjelaskan tradisi nyorog yang biasanya dijalankan jelang lebaran.


“Tradisi nyorog ini rutin dilakukan sehari sebelum lebaran atau dua hari setelah lebaran. Biasanya kami mengirim ketupat, rendang, opor ayam ke orang tua, mertua, kakak,” kata Mar’atus, sapaan akrabnya kepada NU Online, Jumat (29/4/2022).


Tradisi ini, ungkapnya, bertujuan untuk menjaga silaturahmi. Menurutnya, tradisi nyorog selalu dijalankan masyarakat Betawi. Masyarakat Betawi akan merasa ada yang kurang bila nyorog tidak dilakukan.


Kedua, tradisi Ngateuran di Jawa Barat. Tradisi ini dilakukan dengan saling bertukar makanan menggunakan sebuah rantang yang berisi makanan khas lebaran sebagai upaya untuk mempererat tali persaudaraan dan saling menghormati antar sesama.


Dilansir dari budayajawa.id, tradisi nganteuran biasanya dilaksanakan di hari lebaran atau 2 hari sebelumnya. Tradisi tersebut telah berlangsung secara turun temurun di wilayah Jawa Barat bagian selatan seperti wilayah Bandung, Pangandaran, Tasikmalaya, hingga Garut.


Dalam tradisi nganteuran, yang lazim diantar adalah makanan khas lebaran seperti ketupat, sambal goreng kentang, opor ayam, beragam jenis kue kering, kopi instan, dan beberapa bungkus rokok yang merupakan kegemaran para orang tua di sana.


Menurut Wawan Suryawan, tokoh masyarakat di Desa Cikalong Kecamatan Sodong Hilir, tradisi nganteuran di Provinsi Jawa Barat sudah menjadi kebiasaan setiap tahunnya. Menjelang Hari Raya Idul Fitri, masyarakat di sana akan membawa makanan khas lebaran menggunakan rantang. Tradisi ini umumnya dilakukan oleh kalangan muda kepada orang yang lebih tua.


“Tujuan utamanya tentu sangat jelas yaitu untuk bersilaturahmi karena orang Sunda di Jawa Barat memiliki tali persaudaraan yang begitu erat,” ujar Wawan.


Ketiga, tradisi ater-ater di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ater-ater merupakan tradisi menjelang hari raya Idul Fitri yang masih sering dilakukan oleh masyarakat di Jawa Tengah maupun Jawa Timur. Tradisi ini dilakukan dengan berkunjung ke rumah kakek, nenek, saudara, dan tetangga. 


“Biasanya malam hari raya kami ater-ater gula, teh dan oleh-oleh lainnya kepada sanak saudara,” ungkap Abbas, warga asal Brebes, Jawa Tengah.


Pada hari yang sama atau hari sebelum atau sesudahnya, keluarga pelaksana ater-ater akan mendapat hantaran makanan dari keluarga lain sehingga tercipta ‘tukar-menukar panganan’ di antara sanak-famili, tetangga maupun teman. 


Keempat, tradisi Ma’burasa. Secara khusus, ma’burasa menjelang hari raya atau H-1 merupakan kegiatan yang wajib dilakukan oleh keluarga Bugis dan Makassar.


Ma’burasa’ yang dilakukan secara gotong royong membuat makna ma’burasa’ cukup dalam, yaitu membuat ikatan kebersamaan yang terjalin sangat erat antara handai tolan. Cerita dan kisah saling membagi antara satu dengan lain ketika sedang ma’burasa’.


Tradisi ma’burasa’ akan terjadi pewarisan pengetahuan dari orang tua terhadap anak-anaknya. Demikian juga dengan tradisi berbagi untuk mempererat solidaritas dan kekeluargaan.

 

Biasanya ketika bertukar burasa, tetangga yang memberikan burasanya berkata, “Cobalah juga masakan burasa’ku, mungkin agak cepat basi karena malawi santannya”. Sebuah pernyataan yang mengandung makna untuk menguatkan nilai solidaritas.


Kontributor: Suci Amaliyah

Editor: Fathoni Ahmad



Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Nasional Lainnya

Terpopuler Nasional

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×